
Hening, itulah suasana rumah Djaja setelah Divine pergi. Wijaya dan Morena terdiam, pun juga dengan William dan sang istri. Mereka bukan tidak tahu seperti apa keluarga Shain.
"Anak kamu itu kenapa tempramennya buruk sekali," keluh Djaja, ia merasakan pusing tiap kali berhadapan dengan Divine sang cucu. Dari dulu, anak dari Wijaya itu tak pernah nurut dengannya, apapun itu.
"Sudah watak Divine kan? Lagian apa masalahnya dengan pacar Divine yang sekarang?" tanya William yang merasa sikap Papanya berlebihan.
"Dia janda, mana cocok dengan keluarga kita."
"Pa, memang salah ya? Toh mereka saling mencintai," bela Morena.
"Fine-fine aja sih, Mba. Janda juga kalau baik ya gak apa-apa. Yang gadis nyeliweng aja banyak. Jadi nyesel kan gak dengerin omongan Mba waktu itu," ujar Mama Noah sedih.
"Ya, Pa! Buktinya Noah sekarang? Bahkan calon istrinya tak ada datang sama sekali," sesal William.
"Ya, itu karena salah Noah sendiri!" tegas Djaja.
"Pa, bisakah kita sedikit tenang! Perasaan dari kemarin hanya ada debat saat berkumpul. Masalah Divine, itu pilihannya! Dia yang akan menjalani rumah tangganya kelak, bukan kita! Kita sebagai keluarga hanya bisa mendukung dan merestui. Dengan atau tanpa restu kakek, aku dan Morena akan tetap menikahkan mereka."
"Terserah! Will, antar aku ke kamar!"
"Karena Papa sudah mau istirahat, aku dan Morena akan pulang. Will, aku pulang!"
"Hm."
Wijaya menggeleng-gelengkan kepala saat sudah berada di dalam mobil. Sikap Djaja masih sangat egois dan keras, padahal Papanya itu baru beberapa jam keluar dari rumah sakit.
"Sabar, Ayah! Bukannya Papa memang begitu?" Morena berusaha menenangkan Wijaya.
"Tapi Papa selalu keterlaluan sama kita, bund! Capek Ayah itu."
__ADS_1
"Iya, Bunda tahu. Itu artinya, kita harus buktikan kalau Elen memang wanita baik-baik dan pantas buat Divine. Masalah kakek nggak usah diperbesar. Toh kalaupun kita tetap menikahkan Divine dan Elen, kakek nggak akan tega merusak momen bahagia cucunya! Ya, kan?"
"Iya, sih. Tapi, Bund? Memang mereka sudah sejauh itu?" tanya Wijaya.
"Belum tahu juga sih, Yah. Elennya masih malu-malu dan kaku, semoga aja. Bunda udah kebelet punya cucu."
"Ish, Bunda. Nikah aja mereka belum!"
"Ya semoga, lagian nih Ayah. Divine diam-diam udah minta Bunda menyiapkan semuanya loh."
"Apa? Kok Ayah gak dikasih tahu?" protes Wijaya.
"Hehe kejutan."
Lain halnya dengan Divine. Laki-laki itu membawa mobilnya menuju kontrakan Elen. Sejak kecelakaan yang membuat kakinya lumpuh sementara waktu itu, Divine hanya bisa berkendara pelan-pelan meskipun sudah sembuh. Ia tak ingin kejadian karena emosi waktu itu kembali terjadi. Setelah memarkirkan mobilnya, Divine langsung disambut pintu yang terbuka oleh Elen.
"Div, aku..."
"Ish, nggak! Anterin aku ke apartemen," ujar Elen.
Kening Divine mengkerut, "apartemen?" tanya Divine.
Belum sempat Elen menjawab, mobil Rafael berhenti tepat di belakang mobil Divine.
"Jadi pindah malam ini?" tanya Keyra. Ia datang bersama Rafael karena permintaan Elen. Mau tak mau, Rafael akhirnya menjemput gadis itu lebih dulu, kebetulan ia juga sedang merindukan kue buatan sahabat Elen itIde e
"Jadi, ehm."
"Pindah?" tanya Divine.
__ADS_1
"Hya, aku sudah dapat tempat tinggal baru! Aku dan Satria akan tinggal disana," ujar Elen.
"Terus aku?"
"Ya kamu gak ikutlah, kita kan belum nikah!"
"Ehm, cie!" Keyra terkikik mendengar perdebatan Divine dan Elen.
Saat Keyra merasa lucu dengan tingkah Divine dan Elen, diam-diam Rafael memperhatikannya dari jarak dekat. Ini pertama kalinya ia memperhatikan Keyra, benar-benar memperhatikannya.
"Cantik juga,"batin Rafael.
Sore sebelumnya, Elen sudah berpamitan dengan Bu Idha, dan malam ini mereka memutuskan untuk pindah ke tempat tinggal baru ditemani Divine, Rafael, dan Keyra.
"Boleh nginep, gak? Hehe sesekali merayakan rumah baru kamu, Elen?" tanya Keyra.
"Ide bagus," sahut Divine dan Rafael bebarengan.
"Eh mana boleh, nanti kalau digrebek gimana?" tanya Elen setelah membiarkan Satria terlelap di kamar tidur barunya.
"Gak ada, ini kan apartemen!" ucap Divine menjelaskan seperti apa kehidupan di apartemen pada Elen.
"Yah, bener! Aku tidur sama kamu ya Elen, sebelum kamu tidur sama yang lain. Lagian ada dua kamar disini kan?"
"Eh iya ya, boleh deh!"
"Aku tidur sama Satria kalau gitu!" usul Divine.
"Lah aku?" tanya Rafael.
__ADS_1
"Kamu di sofa lah, hahah!" Divine terbahak, puas melihat penderitaan Rafael.