AYAH SAMBUNG

AYAH SAMBUNG
Bab 43 - PULANG LIBURAN


__ADS_3

"Gimana liburan kalian?" sambut Morena begitu Divine, Elen dan Satria sampai di rumah besar keluarga Wijaya.


"Menyenangkan, iyakan sayang!" Divine manarik pinggang Elen merapat ke tubuhnya.


"Ehm ya! Sepertinya bentar lagi kita akan punya cu..." Morena mencubit pinggang Wijaya agar suaminya itu tak meneruskan kalimatnya.


"Satria, Oma punya hadiah buat kamu! Ikut Oma, yuk?"


Satria mengangguk, ia mengikuti langkah Morena masuk ke dalam kamar. Tak berselang lama, ia menyodorkan satu set robot untuk Satria.


"Besar sekali, Bu!" Satria berdecak kagum.


"Kok Bu? Kan sekarang Bu Morena yang cantik jelita ini jadi nenekmu, jadi panggil saja Oma ya!"


"Oma?"


"Yess sayang, panggil Oma dan panggil kakekmu dengan kakek! Eh gimana sih kok ga cocok banget Oma sama Kakek!" Morena terkekeh sendiri.


"Kakek dan Nenek?" tanya Satria.


"Ya begitu juga boleh, hehe."


Morena pun mengajak Satria kembali berkumpul di ruang tamu. Sementara pelayan membereskan barang-barang Divine dan Elen, Morena pergi ke dapur meminta Bibi untuk menyiapkan makan siang.


"Apa ada kabar lain bunda?"


"Ada, kabar Noah. Dia syok berat dan stress!" Wijaya menghela napas.


"Stress?" tanya Divine.


"Kenapa, Ma? Kok bisa stres?" tanya Elen tak kalah terkejutnya.


Morena dan Wijaya pun menceritakan semuanya, perihal kelakuan Cassandra juga syoknya Noah saat mengetahui semuanya.


"Oh..." Divine tak terkejut dan itu membuat Morena dan Wijaya melebarkan senyum.


"Berarti bener dong keputusan Bunda buat gak merestui kalian dulu. Elen, suami kamu itu pernah buta juga seperti Noah. Untung cepet sadar!"


"Iyakah, Bunda? Mungkin karena memang cinta itu pada dasarnya membutakan segalanya. Buktinya dia malah milih aku yang cuma kaya gini."


"Kan kan jadi mellow, kamu itu udah yang terbaik buat Divine. Bagi kami, status itu gak masalah sayang! Yang terpenting, dia baik dan benar-benar tulus. Iyakan, Yah?"


"Iya bener, kita bukan tipe keluarga yang membandingkan status dan kasta kok. Jadi Elen, mulai sekarang jangan sungkan. Kami juga orang tua kamu, dan Satria juga cucu kami," ujar Wijaya.


"Makasih, Ayah Bunda!" Elen terharu sampai tak bisa berkata-kata, terlebih keluarga Divine sangat menyayangi putranya.


Divine tersenyum, ia sangat bangga kepada kedua orang tua yang selalu mensupport pilihannya. Ia semakin sadar, bahwa sikap Bundanya karena beliau sudah tau seluk beluk Cassandra. Bukan hanya itu, bahkan mereka sempat pura-pura setuju agar hatinya tak patah. Meskipun pada akhirnya sama, hatinya tetap patah meski dengan cara yang berbeda.


Beberapa bulan kemudian.


Divine dan Elen menghadiri perpisahan sekolah Satria. Bukan hanya itu, Bram sebagai ayah kandung juga hadir disana.


Pertama kalinya datang di acara Satria, Bram sampai tak kuasa menahan air matanya, menyesali semua sikap pada sang anak. Hatinya sakit saat melihat darah dagingnya lebih mencintai ayah yang lain. Namun, semua itu adalah akibat perbuatannya di masalalu.


"Selamat sayang, jagoan Ayah memang keren!" puji Divine.


"Makasih Ayah!"


"Selamat sayangnya Momy, sini peluk dulu," ujar Elen.

__ADS_1


"Makasih Momy-ku yang cantik!" Satria menghambur dalam pelukan Elen.


Di samping Divine, Bram melihat pemandangan itu. Namun, ia tak sanggup berkata apa-apa. Satria mau memaafkan kesalahan dan menganggap dirinya saja sudah lebih dari cukup.


"Ayah! Kenapa menangis." Satria mendekat ke hadapan Bram.


Bram tersenyum sambil menitikkan air matanya. Lalu menggendong Satria dalam pelukan.


"Anak Ayah terbaik, Satria benar-benar hebat! Satria hebat," pujinya bertubi-tubi. Ia menciumi wajah sang anak dengan haru. Divine dan Elen tersenyum melihatnya.


"Ayah jangan nangis," ujar Satria menatap Bram lekat. Jemari mungilnya bahkan menghapus lelehan air mata di pipi Bram dengan lembut.


"Ayah gak nangis, ayah sangat bahagia saat ini sampai... Sampai ayah gak tahu harus bilang apa sama Satria!"


"Satria, Ayah Bram bahagia karena kamu hebat!" Divine mengusap-usap bahu Bram yang bergetar meski sudah meluapkan penyesalannya.


"Satria mau kado apa dari Ayah?" tanya Bram.


"Emt apa ya? Aku udah banyak mainan Ayah," ujar Satria. Ia melirik ke arah ayah sambung dan Momy-nya.


"Aku boleh ikut Ayah beberapa hari gak Momy, Ayah?" tanya Satria.


"Boleh, tentu saja boleh! Lagian kan setelah ini kamu libur panjang," ujar Elen.


"Iya, Satria mau apa? Bilang aja!" ujar Divine.


"Satria mau liburan sama Ayah Bram?" tawar Bram.


"Mau mau mau..."


"Baiklah, kalau begitu besok kita ke Jogjakarta naik kereta, mau?"


Elen dan Divine akhirnya mengizinkan Bram membawa Satria. Mantan suaminya itu berniat mengajak sang putra keliling Jogja.


Melihat penyesalan Bram selama ini membuat hati kecil Elen tak tega. Bagaimanapun laki-laki itu adalah ayah kandungnya Satria. Elen berharap meskipun mereka berpisah, Satria tak akan pernah kekurangan cinta dari siapapun. Baik itu Elen, Divine maupun Bram.


Jika kehidupan Divine dengan Elen bahagia, lain halnya dengan Noah yang semakin hari semakin kusut. Selain dikhianati Cassandra, ia juga kesulitan menenangkan diri hingga harus menjalani terapi rutin ke psikiater. Sedang Cassandra terpaksa Tian bawa ke rumah sakit jiwa karena berulang kali berusaha membunuh ia dan sang istri. Berteriak tak jelas bahkan kadang-kadang tertawa. Cassandra menjadi gila karena terobsesi terlalu tinggi pada harta.


***


"Jadi kamu pilih siapa? Aku atau Anita? Jangan plin plan, dasar cowok!" maki Keyra.


"Aku..."


"Dahlah, kalau kamu pilih dia juga gak apa-apa! Lagian percuma pilih aku juga kalau kamu tiap makan siang dan pulang kantor sama dia," kesal Keyra.


"Kamu cemburu?" tanya Rafael.


"Nggak, ngapain cemburu sama buaya!" Keyra bangkit, hendak meninggalkan Rafael begitu saja akan tetapi terhenti saat melihat kedatangan wanita paruh baya di hadapannya.


"Jadi ini, kekasihmu?" todong Bu Idha akan tetapi dengan bibir mengulas senyum.


"Iya, Mam. Cantik kan? Dia juga yang punya toko kue favorit Momy."


"Eheheh, Tante!" Keyra tersenyum canggung, menyalami Bu Idha. Wanita paruh baya itu menyambutnya dengan sumringah.


"Kalau kamu gini dari dulu, El! Momy gak akan jodoh-jodohin kamu," ujar Bu Idha.


"Kan baru pacaran, Keyra aja maunya jalanin dulu!" alibi Rafael.

__ADS_1


"Hm, gak pengen langsung nikah?" tanya Bu Idha.


Keyra hanya tersenyum, bingung harus menjawab apa. Semua orang memang ingin menikah termasuk dirinya, tapi tidak sekarang. Terlebih ia dan Rafael belum lama saling mengenal.


"Jalanin aja dulu, Tante. Kalau jodoh pasti ketemu!"


"Kan kalian udah ketemu," kekeh bu Idha.


"Ya gak gitu Mom konsepnya! Keyra belum siap, jadi kita pacaran dulu! Kalau Mom mau cucu, nanti tak pinjemin ke Divine deh." Rafael merangkul bahu Keyra. "Iyakan sayang!"


"Eh iya, iya Tante."


***


"Div, kamu nggak marah?" tanya Elen. Terlebih kehidupannya sekarang berdampingan dengan Bram. Elen tak mungkin menjauhkan laki-laki itu dari Satria, bagaimanapun Bram adalah ayahnya.


"Kenapa harus marah?"


"Karena Mas Bram dan aku atau kita mungkin akan sering bertemu karena Satria mulai sekarang!"


"Nggak ada, sayang! Ngapain marah. Bram kan ayahnya, wajar dong! Aku malah seneng kalau Satria banyak yang sayang sekarang."


"Serius?" tanya Elen.


"Iya, bagi aku kebahagiaan kalian itu yang terpenting. Aku bukan lagi abg yang dikit-dikit harus cemburu, ada kalanya kita memang harus menunjukkan rasa cemburu kita. Tapi tetap kembali berfikir yang logis. Bram ayahnya Satria, dan itu bukan hal yang tepat buat aku cemburui."


"Duh, jadi makin cinta sama kamu, Div!"


"Cinta banget gak?" goda Divine, ia merebahkan kepalanya di pa ha Elen.


"Iya iya."


"Iya apa?" tanya Divine, ia sudah menarik wajah Elen tepat di hadapannya, me ***** sebentar bibir tipis itu.


"Iya aku cinta banget sama Divine."


"I love you too, hubby!"


"Uhh so sweet, ada maunya nih pasti?" ledek Elen.


"Ada sayang ada!" Divine mengedipkan matanya menggoda.


"Tunggu dulu, aku ada hadiah."


Elen menyodorkan tespeck ke hadapan Divine.


"Taraaaa," ujar Elen girang.


"Sayang, kamu hamil!" Divine spontan bangun dan memegang bahu Elen, istrinya itu mengangguk.


"Akhirnya, akhirnya aku bisa menghamili kamu!" ucap Divine haru biru.


Membuat suasana yang tadinya mellow menjadi lucu. Meski begitu, Elen beneran bahagia, bisa menghadiahkan malaikat kecil dalam hidup Divine.


Tamat😘


HALLO, TERIMA KASIH SEBESAR-BESARNYA DARIKU ATAS DUKUNGAN KALIAN. BAIK ITU LIKE KOMEN DAN GIFT SERTA VOTENYA. SEBAGAI AUTHOR TIDAK BISA BALAS SATU PERSATU KEBAIKAN KALIAN SEMUA, LEMAH TELES GIH. MAKASIH SUDAH MERAMAIKAN KISAH DIVINE ELEN DAN SATRIA.


UNTUK SEMENTARA, AKU AKAN HIAT MENULIS. LEREN BEBERAPA WAKTU. FOLLOW AKUNKU UNTUK DAPAT INFO UPDATE CERITA BARU ATAU MAMPIR DI IG @MIMAHE_GIBRAN_OFFICAL DISANA AKAN ADA KONTEN-KONTEN SEPUTAR NOVEL BARU DAN VISUAL, SALAM🙏🏻

__ADS_1


RAMAIKAN KOMENTAR BAB TERAKHIR YA, MISS U ALL🖤


__ADS_2