
Semakin hari, Divine semakin menampilkan keposesifannya sebagai suami. Namun, hal itu justru semakin menambah kadar cinta diantara mereka. Divine tidak pernah main-main dalam menjaga dan melindungi sang istri. Buktinya sepagi ini, ia sudah geger mengajak Elen ke rumah sakit saat sang istri sudah mulai merasakan kontraksi pertamanya.
"Sayang, aku pengen makan nasi padang! Bisa tolong belikan ke warung terdekat," pinta Elen.
"Aduh, aku nggak mungkin ninggalin kamu sendirian. Biar simbok aja ya?" tawar Divine.
"Tapi aku maunya kamu loh," bujuk Elen memelas.
Sambil memegangi perut ia berjalan mondar- mandir di sekitaran ruang tamu. Bukan tanpa alasan Elen melakukannya, sebagai wanita yang pernah melahirkan tentu Elen tahu kalau hal itu akan mempermudah proses lahirannya nanti.
"Mama bentar lagi dateng," ujar Elen menatap Divine.
"Kamu jangan terlalu over khawatir, aku kan dah pernah ngelahirin Satria! Biasanya aku kalau pengen sesuatu... Auh!!" Pekik Elen tiba-tiba memegangi perutnya yang buncit.
"Mana yang sakit, duduk dulu!" bimbing Divine.
"Ini kontraksi kedua, masih berjarak satu jam. Div, beliin dulu aku pengen makan nasi padang," bujuk Elen.
Simbok mendekat, barangkali Sang Nyonya mau jika ia saja yang membelikan ke warung terdekat.
"Biar saya saja, Nyonya!"
"Nggak, Mbok! Tolong mbok ke kamar ya, ada dua tas itu dibawa turun."
"Baik, Nya." Simbok berlalu ke lantai atas sementara Divine dilema harus menuruti Elen dan meninggalkannya dalam kesakitan atau memilih menunggu. Jujur saja, bagi Divine ini pertama kalinya dan ia tak memiliki pengalaman apapun.
"Kalau kamu nggak mau, biar aku telpon Mas Bram!" ancam Elen menatap tajam suaminya.
"Iya iya, aku beliin. Bentar nunggu simbok turun dulu ya, sayang?"
"Sekarang, Div!"
"Oke oke, sekarang!" Divine akhirnya menyerah, ia memilih pergi membelikan nasi padang untuk Elen dari pada sang istri harus meminta tolong pada mantan suaminya. Sungguh, meski sudah berdamai dengan masalalu, Divine sangat tidak rela.
Sepeninggal Divine, Elen tersenyum melihat punggung tegak itu menghilang. Mas Bram memang menjadi senjata paling ampuh untuk membuat suaminya menurut.
Merasakan sakitnya semakin sering, Elen mengirim pesan pada mantan suaminya untuk menjemput Satria sebab mungkin setelah ini, ia akan ke rumah sakit. Tentu saja setelah mengisi perutnya dengan nasi padang yang amat menggiyurkan.
"Ini Nyonya tasnya, apa perlu saya menghubungi Tuan besar dan Nyonya?" tanya Simbok.
__ADS_1
"Mereka udah aku kabarin, Mbok. Kata Bunda kalau nggak sempet mau langsung ke rumah sakit. Mama lagi jalan kesini. Oh ya, Mbok! Satria aku titipin ke Mas Bram nanti kalau orangnya datang tolong siapin perlengkapanya Satria ya?"
"Siap, Nya."
Divine kembali dengan napas terengah karena buru-buru. Ia pun harus menerobos antrian dan membujuk pembeli lain agar mengalah sebab takut Elen akan segera melahirkan. Dan seolah keberuntungan berpihak padanya, mereka pun mengerti kekhawatiran Divine bahkan membiarkan laki-laki itu mendapat antrian lebih dulu.
Sampai di rumah, Divine bernapas lega karena Elen masih baik-baik saja.
"Gimana? Udah sering belum kontraksinya?" tanya Divine.
"Belum, aku makan dulu."
Divine mengangguk, ia memperhatikan Elen yang memakan nasi padang dalam bungkusan kertas minyak. Divine bahkan tak sempat meminta pembungkus yang lebih baik dari itu. Baginya, lebih cepat mendapatkan makanan yang diinginkan Elen lalu segera pulang sudah lebih melegakan.
Elen makan dengan tenang, sesekali melirik Divine yang justru sedang menatapnya lekat-lekat.
"Kamu mau yang?"
Melihat Elen makan dengan lahap pun Divine hanya menggeleng sambil tersenyum.
"Buat kamu aja, biar banyak tenaganya," ucap Divine.
Elen mengangguk, tak butuh waktu lama baginya menandaskan satu bungkus nasi padang itu. Laparnya pun menghilang bahkan tubuhnya jauh lebih bertenaga. Namun, hal itu tak berlangsung lama karena ia kembali merasakan sakit lagi. Kali ini durasinya kurang dari satu jam bahkan lebih sering.
"Ayo ke rumah sakit sekarang, minum dulu sayang!" Divine membimbing Elen keluar rumah.
"Mbok, tolong perlengkapan kami!" pinta Divine agar simbok membantu membawanya masuk ke dalam mobil.
"Sayang..." Suara lembut Ratna baru saja sampai. Namun, seketika ibu paruh baya itu berubah panik, ia meminta suaminya memutar mobil.
"Kesini saja, Div. Nanti kamu malah nggak fokus nyetir," ujar Ratna memberi interupsi.
"Masuk aja, biar Papa yang nyetir."
Divine mengangguk, ia ikutan pucat melihat Elen hanya menggigit bibirnya untuk menahan rasa sakit.
Ratna membuka pintu mobil lalu memapah Elen masuk.
"Sabar sayang, tahan dulu ya!" pinta Ratna.
__ADS_1
Elen tak menjawab, ia fokus menahan rasa sakitnya sendiri. Sementara Divine, keringat dingin sudah membasahi wajahnya karena panik. Simbok menatap iba dan berdoa semoga Nyonya dan Tuannya diberikan kelancaran dan kesehatan.
Mobil melaju perlahan meninggalkan kediaman Divine. Roy segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
Beruntung sampai di rumah sakit, Elen langsung ditangani dokter.
Namun, kepanikan Divine tak berhenti disitu saja. Paniknya bertambah kali lipat saat dokter meminta salah satu pihak keluarga masuk untuk menemani persalinan dan Divine menguatkan dirinya untuk tetap berada di sisi Elen saat wanita hebatnya itu bertaruh nyawa untuk calon anaknya.
"Pak Divine, tolong pegang tangan Bu Elen dan pastikan beliau tetap dalam keadaan sadar," ujar Dokter yang membantu persalinan Elen. Dibantu dua perawatnya, Dokter mulai memeriksa sudah pembukaan berapa Elen saat ini.
"Pak, siap ya? Sudah pembukaan sepuluh sekarang Bapak bantu Ibu Elen berjuang ya?" Dokter itu tersenyum mencoba mencairkan wajah tegang Divine.
"Auhhhh..." Rintih Elen membuat Divine ingin sekali menangis tak sanggup membayangkan sakit yang dirasakan sang istri.
"Tahan, Bu! Ayo tarik napas..." Dokter memberi aba-aba.
"Tarik napas, Bu Elen... Ejan!" Pinta dokter.
Sekuat tenaga Elen mengejan hingga kepala bayinya mulai terlihat.
"Terus, Bu!"
Divine yang melihat kepala bayinya keluar sendiri merasa sangat ngeri, hingga bergetar seluruh tubuhnya.
DOkter tersenyum saat sang jabang bayi sudah keluar.
"Wahhh, selamat, Bu! Anaknya cantik, Perempuan!" ujar Dokter lalu meletakkan bayi itu di da da Elen untuk melakukan IMD.
Tanpa sadar, Divine menyusut sudut matanya yang sudah berair. Ia menghujani Elen dengan ciuman bertubi-tubi karena rasa terima kasihnya atas perjuangan keras sang istri.
"Kamu hebat, Sayang! Makasih sudah bertaruh nyawa untuk putri cantikku!" Bisik Divine dengan air mata mengalir.
"Div," lirih Elen.
Wajah lelahnya seketika pudar melihat bayi mungil nan cantik di hadapannya. Selesai IMD, Suster membawa bayi Elen dan Divine untuk dimandikan.
"Ya, Sayang! Aku disini," ujar Divine.
Elen tersenyum dan menangis bersamaan, meraba wajah Divine dengan lembut. Suaminya terlihat kusut dan panik. Namun, dari situ Elen tahu jikalau Divine benar-benar mengkhawatirkannya.
__ADS_1
"Aku mau istirahat bentar, kamu jangan pergi!" Pinta Elen.
"Ya, aku disini sayang! Aku akan nemenin kamu," ujar Divine menatap haru Elen.