AYAH SAMBUNG

AYAH SAMBUNG
Bab 25 - MENGUTARAKAN NIAT


__ADS_3

Elen berusaha memberontak dengan melepaskan diri dari pelukan Divine. Pria itu menatapnya tak mengerti, sedang Elen sudah dipastikan syok melihat perlakuan Divine yang tiba-tiba menyerang bibirnya.


"Kenapa menciumku?" cercanya, langsung berdiri saat berhasil lepas dari pangkuan Divine.


"Kenapa? Kau calon istriku, apa yang salah?" tanya balik Divine.


Deg.


"Tapi, nggak harus dalam keadaan seperti ini. Apa kamu masih memiliki perasaan untuk mantanmu sampai berniat membuatnya kesal?" cerca Elen dengan wajah sebal.


Divine semakin mengerutkan keningnya.


Mencoba menerka, kenapa Elen seperti itu. Ia pikir, wanitanya akan paham situasi dan bukan malah menuduhnya masih memiliki perasaan pada Cassandra.


"Kamu cemburu?" tanya Divine.


"Cemburu? Tentu tidak! Pak Divine yang terhormat, ingat baik-baik kesepakatan kita, aku melakukannya hanya demi Satria." Elen melangkah meninggalkan Divine yang terdiam.


Detik berikutnya ia dengan cepat menahan Elen, mengunci pintu ruangannya dengan remote kontrol agar wanita itu tak bisa sejengkalpun keluar.


Divine menghela napas, keberadaan Elen di sisi membuatnya terlena hingga melupakan satu hal, kesepakatan!


Bagi Elen mungkin status mereka tak akan berubah, tapi tidak bagi Divine! Sosok Elen perlahan menempati relung hatinya yang paling dalam. Namanya mulai tersemat sejak Divine tau banyak hal yang telah dialami wanita itu.


Bukan, bukan kasian pada Elen. Divine menyadari, perasaannya bukan berdasar kasian. Divine sendiri bahkan tak bisa menjabarkan dengan kata-kata.


"Jangan pergi," ujar Divine dengan nada lemah. Mengung kung tubuh Elen di pintu dengan kedua tangannya.


"Jangan pergi dulu!" detik berikutnya, ia sudah menjatuhkan wajahnya di pundak Elen.


Ketenangan, hal lain yang Divine rasakan ketika berdekatan dengan sosok Elena. Wanita itu menghantarkan banyak rasa dalam hidupnya.


"Div, jangan seperti ini oke!" Elen ingin sekali mendorong Divine, tapi jauh di dasar hatinya tak sanggup. Tak bisa dipungkiri, hatinya mulai terjerat pada CEO dingin itu.


"Aku hanya butuh kamu! Tak peduli kesepakatan sialan itu, aku mau kamu jadi satu-satunya..." Suara Divine terasa pilu meyayat hati Elen.


"Hya, sekarang angkat wajahmu!" pinta Elen.


"Hm." Divine mendongkak, menatap manik mata Elen dengan lekat.


"Jangan menciumku," tolak Elen saat melihat wajah Divine kian mendekat, bahkan hembusan napasnya terasa hangat menerpa.


"Kenapa?"


"Bukan apa-apa. Aku keluar dulu, sebelum ada yang melihat kita seperti ini," mohon Elen, ia sungguh tak nyaman saat tangan Divine masih setia mengung kung tubuhnya.


Malam sekitar pukul tujuh, Divine benar-benar menepati janjinya ingin menemui orang tua Elen.


Menyempatkan menjemput wanitanya dan Satria sebelum kesana.

__ADS_1


"Aku sudah menyiapkan semuanya!"


"Syukurlah, aku memintamu datang pakai taksi, kenapa bawa mobil?" tanya Elen, ia tak ingin Roy dan Ratna jadi gelap mata saat melihat laki-laki yang datang bersamanya.


"Hm, ini mobil milik Rafael! Gimana lagi," Divine mengedikkan bahunya.


Melihat gurat dingin di wajah Elen membuat Divine mencoba mencari sesuatu di balik pandangan matanya yang datar. Sayang sekali, Divine tak menemukan apapun.


"Yang mana rumahnya?" tanya Divine.


"Itu," tunjuk Elen pada rumah minimalis bercat kuning.


Divine menghentikan mobilnya, turun kemudian memutar tubuhnya untuk membukakan pintu untuk Elen dan Satria.


"Mom..." Satria mengucek matanya. Kantuk menyerang, tapi melihat dimana dia berada, seketika senyum terbit.


"Ayo, Om gendong! Kasian Momy-mu," ujar Divine merentangkan tangannya untuk membantu Satria turun.


"Asik, makasih, Om!"


Merasa mendengar deru mobil berhenti membuat Roy dan Ratna mengintip dibalik tirai jendela.


"Siapa, Bu?"


"Gak tau, rentenir kali mau nagih hutang bapak!" ketus Ratna.


"Ya itu kan dulu, sekarang? Bram sama anak perempuanmu itu udah cerai, dia mana mungkin mau bagi duit sama kita? Lagian Elen kok aneh ya, duit tinggal pakai sok-sokan milih haram halal."


"Tak apalah, ada untungnya Elen gak mau duitnya Bram. Kalau gak, bisa makan dari mana kita! Judi juga jarang-jarang menang." Roy menghembuskan napasnya kasar menatap sekeliling.


Ketukan pintu menghentikan perdebatan mereka.


"Bapak saja lah yang buka, ibu mau tidur!" Ratna berlalu ke kamar.


Ceklek.


Pintu terbuka, dan Roy terkejut melihat siapa yang datang.


"Elen!"


Elen diam, Satria juga apalagi Roy. Namun, diamnya mereka membuat Divine bisa menyimpulkan sesuatu.


"Masuklah, apa yang membawamu datang kemari?" tanya Roy, bahkan ia tak menyapa sang cucu atau sekedar berbasa basi meski palsu. Divine sedikit menekan dadanya, ada rasa nyeri menjalar saat menempatkan Elen dan Satria pada dirinya dan sang bunda di mata Djaja, sama persis.


"Tidak ada!" jawab Elen tak kalah dingin.


Brakkk!


Roy menggebrak mejanya, "tidak ada? Diam-diam bercerai dan sekarang pulang bersama laki-laki lain? Semurah itukah kamu? Dimana harga dirimu sebagai perempuan?"

__ADS_1


"Kakek jangan marahi Momy!" pekik Satria.


"Kamu lagi! Tau apa kamu tentang urusan orang dewasa, hah!"


"CUKUP!!!" potong Divine, ia sudah tak sabar melihat Elen diperlakukan seperti itu oleh orang tuanya sendiri, sungguh miris.


"Apa?" bentak Roy menatap tajam Divine.


"Apa sih ribut-ribut ini!" Ratna keluar, mendapati Elen ada disana membuatnya ikutan emosi.


"Ngapain lagi kamu kesini? Gara-gara kamu, Bram jadi gak mau bagi duit sama kami!" kesal Ratna.


"Gimana mau bagi duit, orangnya aja..."


"Elen!" potong Divine, Elen hampir saja keceplosan mengatakan bahwa Bram dipenjara.


"Kamu siapa? Oh atau jangan-jangan kamu selingkuhan Elen ya? Yang menbuat dia cerai sama suaminya. Kamu jadi simpanan pria ini, heh!"


"Cukup, Bu! Apa tidak bisa menyambut kami dengan baik? Orang tua seperti apa kalian ini? apa nggak cukup sudah mengatur banyak hal dan sekarang? Bahkan aku seperti tamu tak terhormat di rumah orang tuaku sendiri. Malu, Bu! Malu."


"Saya kesini mau membuat kesepakatan!" tegas Divine.


"Sudahlah lebih baik kalian pulang!" usir Ratna.


"Saya akan berikan uang jika anda mau melakukannya," ujar Divine.


Roy mengerutkan dahinya, saling pandang dengan Ratna.


"Apa, katakan saja!"


"Saya mau menikahi Elen. Saya butuh wali."


"Berapa juta?" tanya Roy.


Deg.


Jantung Elen serasa diremas mendengar ucapan ayah dan ibunya. Ada rasa sakit yang kian menumpuk di dasar hati. Bahkan, Elen tak mampu berucap apa-apa, memilih menutup telinga Satria dengan kedua telapak tangannya


"Lima puluh juta apa cukup?" tanya Divine.


"Lumayan! Jika semua siap, kamu cukup membawa saya datang!"


Deg.


Elen mendongkak, rasanya seperti terhujam pisau tajam tepat hatinya. Namun, tak ada jalan lain. Sifat rakus orang tuanya benar-benar membuat Elen malu pada Divine. Hingga kesepakatan dilakukan dan mereka langsung pulang.


Sepanjang perjalanan, Elen terdiam memangku Satria yang sudah terlelap di pangkuannya. Merasa hina dan rendah oleh kelakuan orang tuanya sendiri, bahkan bicara dengan Divine pun tak sanggup.


"Elen, percayalah! Aku tak bermaksud apapun! Hanya ingin semua berjalan semestinya, kita akan menikah bukan?" Divine menepikan mobilnya saat sudah memasuki depan kontrakan Elen. Namun, yang terjadi laki-laki itu malah memasukan mobil milik Rafael ke halaman.

__ADS_1


__ADS_2