AYAH SAMBUNG

AYAH SAMBUNG
Bab 39 - DRAMA CASSANDRA


__ADS_3

"Jadi ceritakan padaku, apa yang membuatmu begini?" tanya Noah setelah berhasil membawa Cassandra keluar rumah.


Satu jam yang lalu, Noah meminta izin dengan berbagai alasan pada Tian agar memperbolehkan dirinya mengajak Cassandra pergi. Masih tak menyangka jika sang kekasih mendapat banyak tekanan sejak ia masuk penjara.


"Aku?" tanya Cassandra. Diam tak menjawab ia malah menunduk, batinnya tersenyum senang karena Noah masih mencarinya. Kali ini, ia akan menggunakan laki-laki itu untuk balas dendam.


"Hiks..." Cassandra mulai menangis, lalu diam mengangkat kepalanya menatap Noah bak wanita gila.


"Sayang, kenapa kamu jadi seperti ini!" batin Noah merasa sedih melihat Cassandra.


"Pa-pa, dia mengunciku di kamar berhari-hari," isaknya menyedihkan.


"Kenapa? Apa yang membuat Papamu seperti itu? Tidak mungkin kan tanpa alasan."


"Noah, kamu nggak percaya sama aku?" Cassandra tertunduk lesu.


"Bukan begitu, hanya aku ingin tahu penyebabnya. Bukan tak pecaya padamu, aku selalu percaya."


"Papa mengurungku karena pernikahan Divine dan kekasihnya. Papa fikir aku akan merusak momen bahagia mereka, padahal kamu tahu Noah? Di hatiku bahkan cuma ada namamu!"


Noah merasa bersalah tak ada disaat Cassandra seperti itu, lantas mengusap tangan mulus itu dan meminta maaf.


"Maaf, aku gak ada saat kamu butuh! Aku..."


"Sudahlah Noah, semua sudah terjadi. Mereka seperti itu karena aku datang ke kantor Divine. Padahal aku kesana untuk menanyakanmu, aku gak tau kalau kamu ditangkap. Saking khawatirnya, aku ke kantor Divine untuk menanyakanmu sebab kakekmu saja langsung masuk rumah sakit," jelas Cassandra.


"Aku..." Noah terdiam, ia menyesali perbuatannya menggunakan obat haram.


"Aku harus bagaimana untuk menebus kesalahanku?" tanya Noah.


"Mari kita menikah, kita akan hidup bersama. Dan, ya! Mereka tak akan menuduhku masih memiliki perasaan pada Divine terus menerus." Cassandra menjelaskan maksudnya.


"Menikah? Tapi aku..."


Noah tak sanggup berkata-kata, bagaimana mungkin ia bisa menikah dengan Cassandra sementara orang tuanya tak lagi merestui hubungan mereka dan berharap ia segera memutus pertunangan itu.


"Kenapa? Kamu pasti berfikir hal yang sama dengan keluargamu. Kamu tahu, aku tak mungkin melakukan hal bodoh di belakangmu. Toh, istri Divine itu sebenarnya cucu konglomerat. Jika dibanding denganku mungkin tak akan selevel sebab istri Divine yang punya segalanya dan sempurna." mengucap kata itu membuat hati Cassandra memanas jika ingat Papanya begitu menghormati keluarga Shain.


"Itu? Mana mungkin." Noah tak percaya.


"Mungkin sa-," terhenti saat melihat Mamanya Noah sudah berdiri di belakang sang putra menatap Cassandra dengan tatapan tajam.


"Noah, sedang apa kamu dengan perempuan ini?"


"Ma, aku bisa jelaskan!" ujar Noah.

__ADS_1


"Kenapa harus menjelaskan, bukankah wajar sepasang kekasih saling bertemu?" tanya Cassandra dengan dahi mengernyit bingung.


Mama Noah bersedekap dada, ia tahu sang putra akan sulit untuk melupakan Cassandra. Ia tahu, begitu pulang dari penjara, ia bukan menemui sepupunya sekedar memberi selamat tapi malah memprioritaskan bertemu ja lang ratu drama mantan calon menantunya.


Brakk!!!!


Mama Noah mengambil sesuatu dari tasnya lalu tanpa aba-aba melepar ke atas meja. Tepatnya di hadapan Noah dan Cassandra. Keduanya terbelalak kaget.


"Ini, aku..."


"Sayang, apa ini? Kamu mengkhianatiku?"


"Itu bukan aku, bisa saja itu editan. Tante, tolong jangan menfitnahku di depan Noah. Kalau dari awal tante tak menyetujui pertunangan kami. Tante cukup bilang, aku ikhlas mundur! Tapi gak perlu melakukan hal sekonyol ini," alibi Cassandra.


"Fitnah? Jadi, foto-foto itu fitnah! Kamu liat kan Noah? Kekasihmu bukan hanya pintar bersandiwara tapi dia agaknya cukup bodoh!"


Deg.


Cassandra tediam, terlebih saat Noah menatapnya lekat seolah mencari jawaban.


"Ma, Cassandra benar! Ia tak mungkin melakukan hal bodoh di luaran sana, lagipula aku percaya sama dia," ujar Noah.


"Noah, kenapa aku bisa melahirkan putra bodoh sepertimu!" Sang Mama memijat pelipisnya.


"Lihat baik-baik foto itu, jika kamu masih mengira itu editan. Mama akan kirimkan video realnya, atau Cassandra sendiri yang akan mengakuinya sebelum Noah melihat video itu?"


"Kamu yang apaan! Ingat Noah, keluarga kita seperti apa? Apa keluarga kita kurang kerjaan sampai harus mengedit videonya? Wanitamu ini lupa berhadapan dengan siapa? Aku harap kamu menggunakan kekuatan keluarga kita untuk mencari fakta. Berhenti bersikap bodoh tanpa logika karena cinta!" Mama Noah berlalu, ia kesal karena sang putra lebih percaya pada Cassandra dibanding menyelidiki fakta yang ada.


"Maaf Cassandra, tapi aku agaknya memang harus menyelidiki ini semua!"


"Bukannya kamu tadi bilang percaya denganku?" tanya Cassandra cemas.


"Hm, ya? Tapi aku juga perlu bukti kalau yang dikatakan orang tuaku itu tak benar. Sebab sebenarnya, syarat aku bebas adalah memutus pertunangan denganmu!"


Glekk...


Cassandra terhenyak, ia bangkit dan kecewa dengan ucapan Noah lantas pergi begitu saja.


"Bagaimana ini, Noah sudah mulai curiga! Aku tak mungkin punya muka berhadapan dengannya, lebih baik menghindar dari sekarang!" batinnya buru-buru pergi, meski dalam hati berharap Noah mengejarnya.


Sayang sekali, laki-laki itu sama sekali tak mengejarnya.


Noah memandangi foto itu dengan perasaan entah. Mere masnya kuat-kuat hingga tak lagi berbentuk.


"Aku tahu, hal ini akan terjadi. Bodohnya! Aku selalu berusaha menutup mataku sendiri, menyakinkan diri dan hatiku sendiri bahwa dia akan berubah!" gumam Noah.

__ADS_1


***


"Div, mau apa?" tanya Elen saat suaminya itu membimbingnya ke kamar setelah mengantar Satria sekolah.


"Mau apa? Hanya mau tidur, semalam ada Satria! Boleh dong sekarang..."


"Aku belum siap melakukannya!" ujar Elen secara gamblang meski dalam hati sangat berdosa telah menolak suami.


"Pikiranmu ini kemana? Aku hanya mau tidur memelukmu! Semalam kamu tidur memeluk Satria, aku bahkan hanya bisa memandangnya!"


"Astaga!" seketika Elen menepuk jidatnya.


"Kekanakan," sambungnya lagi akan tetapi dengan bibir tersenyum.


"Sudahlah, sekarang temani aku tidur!" ujar Divine lalu merebahkan dirinya ke atas ranjang.


"Tapi Div, ini masih pagi! Masih jam delapan," protes Elen.


Baru saja ingin duduk di atas ranjang, tangan kekar Divine menariknya hingga tubuh Elen jatuh tepat diatas Divine.


"Aku mengantuk, sesekali tak apa sebelum kita sibuk dengan kantor masing-masing," ujar Divine.


"Hm, baiklah."


Divine mengusap pipi Elen dengan lembut, "tapi kenapa kamu malah terus-menerus diatasku? apa nyaman seperti ini, hm?" Divine tersenyum tipis.


Menyadari hal itu, Elen langsung mengubah posisi dan merebahkan diri di samping Divine.


"Div?"


"Hm."


"Ish, kok hm?"


"Panggil aku, suamimu! Apa boleh?" tawar Divine.


"Terlalu berlebihan itu, aku malu." Elen menggeleng.


"Hm, terus?"


"Apa? Divine saja sudah cukup! Rasanya aneh kalau aku panggil Mas, kita seumuran!" tolak Elen tegas.


Divine cemberut, "minimal panggil aku sayang."


"Sayang?" tanya Elen.

__ADS_1


"Ya, begitu. Lebih manis!" putus Divine.


Elen menghela napas, mau tak mau ia harus menuruti kemauan Divine. Meski sebenarnya, ia masih begitu kaku memanggil laki-laki itu dengan sebutan 'sayang'.


__ADS_2