
"Sayang... Sayang..." Divine menggoyang pelan bahu Elen, ia tahu saat ini sang istri sangat lelah.
"Eummm..." Elen terasa berat membuka matanya, ia benar-benar lelah, bahkan saat dokter menjahit luka pasca melahirkan pun Elen seperti tak merasakan apapun.
"Div, mana anak kita?" tanya Elen menggerakkan tubuhnya.
"Jangan banyak gerak, kamu baru selesai dijahit," pinta Divine masih khawatir dengan keadaan Elen.
"Gak apa-apa! Udah nggak terasa kalau bayinya diluar."
"Nggak terasa gimana? Aku lihat sendiri itu..." Divine terdiam, ia menelisik wajah Elen dengan khawatir.
"Aku nggak apa-apa, sayang!"
Divine akhirnya lega setelah melihat senyum manis Elen. Tak berselang lama, suster masuk bersama mertua dan bayi perempuannya.
"Cantik sekali cucu, Oma. Lihatlah sayang, cantik sekali sama sepertimu," ujar Ratna sembari menggendong bayi Divine dan Elen.
"Aku mau lihat, Ma."
Ratna tersenyum, ia meletakkan sang cucu di samping Elen.
"Uchhh, Sayang! selamat datang," sambut Elen sumringah. Wajah lelahnya seketika hilang karena melihat bayi cantiknya saat ini.
Divine terpaku, ia bahagia sampai tak sanggup berkata-kata.
"Div, bagaimana dengan namanya?" tanya Ratna.
Divine dan Elen saling pandang kemudian terdiam.
__ADS_1
"Sebenarnya, untuk nama kami bertiga, Ma! Yang akan memberinya. Jadi nama putri kami adalah gabungan nama pemberianku, Elen dan Satria! Nanti sajalah, nunggu Satria kesini," ujar Divine.
"Iya, Ma!"
"Yaudah, gak apa-apa! Yang penting kamu sehat dulu," ujar Ratna.
Elen mengangguk senyum, ini pertama kalinya ia melahirkan didampingi Sang Mama. Dulu saat melahirkan Satria, hanya ada Bram di sisinya meski laki-laki itu sikapnya tak sebaik sekarang.
"Sus, apa boleh yang lain masuk?" tanya Ratna saat suster masuk, mengantar makanan untuk Elen.
Meski Divine menempatkan perawatan terbaik untuk Elen di ruang VIP, akan tetapi Ratna harus meminta izin lebih dulu kepada suster atau dokter sesuai prosedur rumah sakit bahwa tidak boleh lebih dari dua orang diluar jam besuk pasien.
"Boleh," ujar suster melihat jam di dinding.
"Lima belas menit lagi sudah memasuki jam besuk pasien," sambungnya lagi.
"Biar Bu Morena saja yang masuk, Ma. Papa diluar sama Pak Wijaya," ujar Roy. Bukan tak ingin melihat sang cucu akan tetapi ia tahu persis bagaimana lelahnya wanita setelah melahirkan. Akan lebih baik jika orang tua atau mertua perempuanlah yang masuk. Roy akan masuk jika keadaan Elen jauh lebih baik setelah istirahat.
"Oke, kalau gitu biar kita saja yang masuk, Jeng!" Ujar Morena tak kalah sabar. Mereka hampir masuk ruangan Elen kalau tak mendengar suara Satria memanggil.
"Oma..." Panggil Satria, bocah tujuh tahun itu mendekat ke arah Ratna dan Morena.
Bram mengajak Satria ke rumah sakit sebab sang putra khawatir dengan Momynya.
"Sayang, sudah pulang sekolahnya?" tanya Ratna.
"Pantes, kamu tadi oma cari nggak ada! Padahal mau ajak bareng, ternyata sama Ayah!" ujar Morena.
"Iya Oma." Satria mencium punggung tangan Ratna dan Morena bergantian. Kemudian beralih pada Roy dan Wijaya yang sedang duduk bersisihan di kursi tunggu depan ruangan rawat Elen.
__ADS_1
Satria ikut masuk bersama dua omanya. Sementara Bram bergabung dengan mantan mertuanya dan Ayahnya Divine.
"Momy, adek bayi udah keluar?" cerca Satria begitu masuk ke dalam ruangan Elen. Ratna dan Morena hanya tersenyum melihat pertanyaan polos Satria.
"Udah sayang, lihat nih adik kamu cantik banget." Elen tersenyum simpul.
"Wah iya, cantik!" Satria berdecak kagum, lalu tersenyum sumringah memandang adiknya.
"Gimana sekolah kamu hari ini, Boy?" tanya Divine.
"Bosen Ayah," keluh Satria dengan bibir tiba-tiba mengerucut.
Morena meraih cucu bayinya, "cantik kaya kamu, Len!" puji Morena lalu melirik Ratna.
"Iya kan jeng, senengnya kita dapat cucu perempuan, jadi lengkap."
Ratna mengangguk, ia berkaca-kaca saat Morena sama sekali tak membedakan status Satria dengan cucu kandungnya. Pun juga dengan Elen, ia merasa kebahagiaannya semakin sempurna.
Divine bertukar cerita dengan Satria, hal itu sudah sering ia lakukan sejak menjadi ayah sambungnya. Satria si bocah tangguh kebanggaannya. Sementara bayi perempuannya bersama dua oma yang sangat heboh.
Divine, Elen dan Satria sedang menyusun nama untuk si cantik bersama.
Bayi perempuan milik Divine dan Elen itu telah menjadi pusat perhatian keluarganya terutama Ratna dan Morena. Makhlum saja, Ini pertama kalinya Morena dan Ratna memiliki cucu perempuan.
"Mom, aku mau panggil dedek bayi Alina," ujar Satria. Jauh-jauh hari menyiapkan nama itu untuk calon adiknya.
"Boleh sayang, jadi yang kedua dan ketiga giliran Momy sama Ayah ya?"
Satria mengangguk, menatap Divine dan Elen bergantian karena tak sabar nama seperti apa yang akan terangkai indah untuk sang adik.
__ADS_1