
Tok tok tok...
Ketukan pintu terdengar, semakin lama semakin keras membuat Elen terbangun kemudian menggeliat pelan.
Keningnya mengkerut melihat jam weker di atas nakas masih menunjukkan pukul empat pagi.
"Ini masih terlalu pagi untuk bertamu, apakah itu Bu Idha?" pikir Elen.
Seketika ia beranjak, mengintip sedikit di balik tirai jendela ruang tamu. Beruntung lampu ruang depan Elen padamkan sehingga ia bisa leluasa mengintip tanpa ketahuan dari luar.
"Orang-orang berbaju hitam? Apakah orang suruhan Divine? Tapi bagaimana mungkin, semalam ia bahkan tak mengatakan apapun!" batin Elen.
Melangkah pelan kembali masuk ke kamar, mencari dimana letak ponselnya.
"Huft, untung masih ada baterainya," gumam Elen bernapas lega.
Meski sebenarnya, ia bisa saja keluar dan bertanya ada keperluan apa orang itu? Tapi, otaknya mengarah pada pikiran negatif.
Bisa jadi mereka perampok, atau penjahat lainnya.
"Ayo, Div! Angkat dong," gumam Elen cemas. Lima panggilan darinya tak dijawab membuat Elen menyerah.
"Sebaiknya, aku menaruh kursi di depan pintu biar mereka tak membobolnya."
Dengan perlahan memindahkan kursi-kursi ruang makan ke depan pintu, sebab mau menggeser sofa rasanya tak mungkin bagi Elen. Setelah dirasa aman ia kembali mengintip. Keningnya semakin mengkerut melihat dua orang laki-laki itu malah duduk seolah sabar menunggunya keluar rumah.
"Mungkin memang bukan orang jahat," gumam Elen.
Perlahan menyingkirkan kembali kursi lalu membuka pintu.
"Selamat pagi, Nona Elen."
Elen tertegun, baru membuka pintu dikejutkan oleh mereka yang sudah tahu namanya.
"Siapa kalian?"
"Kami diutus Tuan Alexan untuk menjemput anda dan Satria."
Deg.
Kembali tertegun, bahkan dua orang berbaju hitam itu tahu nama putranya.
"Alexan?" tanya Elen.
"Hya, Tuan Alexan Shain. Tuan kami yang masih satu marga dengan anda, Nona Elen."
"Saya tidak kenal orang itu, sekalipun kami satu marga. Barangkali, memang kebetulan sama."
Elen segera menutup pintu, akan tetapi terhalang tangan kekar dua pria itu hingga membuat Elen hanya mampu membuang napas kasar.
"Tuan Alexan adalah adik dari Ibu Ratna. Beliau mengutus kami untuk menjemput anda dan Satria agar ikut tinggal di rumah utama keluarga Shain."
__ADS_1
"Bilang pada beliau, saya sangat berterima kasih. Saya dan Satria tak perlu apapun, kami sudah nyaman dengan kehidupan kami yang sekarang. Dan lagi, jika memang beliau menganggap saya dan anak saya bagian dari keluarganya tentu beliau sendiri yang akan datang kesini," ujar Elen dengan sopan.
"Maaf tolong tangannya, hari masih terlalu pagi. Lebih baik pulang karena tak baik bertamu diwaktu sepagi ini." kata terakhir Elen sebelum masuk membuat dua pria berjass hitam itu menyerah. Mereka akhirnya memilih pergi, setelah melaporkannya pada Alexan.
Baru saja Elen masuk, ketukan pintu kembali terdengar.
"Siapa lagi?" gumamnya kesal.
Gontai melangkah kembali ke pintu dan membukanya.
"Div," panggil Elen terkejut. Pria itu masih terlihat sangat berantakan dan belum mandi.
"Ah Elen, aku kira kamu kenapa-napa?" ujar Divine langsung memeluk Elen begitu saja dengan lega setelah melihat wanitanya baik-baik saja.
"Aku baik-baik saja, kenapa?"
"Kenapa lagi? Kamu menelponku berkali-kali dan aku baru tahu. Jika tak ada apa-apa, apakah aku bisa mengartikan kamu kangen."
"Ish, kamu tuh ya!" Elen tak menjawab, ia masuk begitu saja ke dalam. Divine mengekor, merasa diabaikan ia pun mempercepat langkahnya dan memeluk Elen dari belakang.
"Div, tanganmu!" peringat Elen.
"Aku kangen," ujar Divine semakin membuat Elen menggelengkan kepalanya heran.
"Satria akan melihat, lepas tanganmu!" pinta Elen.
"Peluk dikit masa ga boleh, El."
"Kamu pun juga, bagaimana kalau..."
Elen langsung mencubit tangan Divine, "lepas, pagi-pagi udah me sum!"
"Ya ya ya," jawab Divine. Saat Elen melangkah ke dapur, ia malah masuk ke kamar Elen dan Satria.
"Gimana rasanya tidur sama anak?" batin divine, merebahkan diri di samping Satria yang terlelap.
Sementara Elen mulai berkutat di dapur untuk membuat sarapan.
"Astaga, mereka ini." Elen menggelengkan kepala, melihat Divine malah tidur memeluk putranya. Pun dengan Satria yang malah tidur nyenyak tanpa pergerakan.
Mendekat, membelai wajah keduanya.
"Ya Tuhan, keluarga kecil seperti ini yang aku inginkan. Hangat dan penuh kasih sayang," gumam Elen tak kuasa menahan tangis harunya. Ia segera menghapus air matanya agar tidak ketahuan oleh Divine.
"Pagi, Boy!" sapa Divine saat pertama kali melihat Satria membuka matanya.
"Om baik?" pekik Satria sumringah.
"Kamu sepertinya sangat senang Om tidur disini?"
"Hya, aku mau tidur dipeluk Om," ujar Satria senang.
__ADS_1
"Wow, apakah itu artinya kita bukan hanya teman lagi."
"Om mau jadi ayahku kan?" tanya Satria penuh harap.
"Tentu saja mau, kenapa bertanya seperti itu?"
Satria menatap Divine, melingkarkan tangannya di pinggang laki-laki itu dengan senyum sumrigah.
"Kalian, mandilah!" pinta Elen di ambang pintu.
"Aaa Momy..."
"Sudah ya, Momy sama Om Divine mau ke kantor dan kamu harus ke sekolah."
"Mom, please!" mohon Satria.
"Apa kita bolos saja, kamu pengen jalan-jalan kemana boy?" tanya Divine membuat Elen berkacak pinggang.
"Div, kamu tuh ya? Malah ngajarin anak bolos!" gerutu Elen.
"Sesekali kan," ujar Divine yang sebenarnya takut jikalau Elen marah.
"Gak ada ya! Satria sekolah, Momy sama Om Divine ke kantor," ujar Elen.
Divine memeluk Satria, membisikkan sesuatu di telinga bocah itu.
"Tak apa, Boy! Nanti kalau Om sama Momy sudah menikah kita jalan-jalan naik pesawat," ujar Divine berbisik agar tak terdengar oleh Elen.
"Div, kamu tuh ya!"
***
Rencana demi rencana Morena siapkan, mulai dari baju pengantin hingga memesan undangan pesta pernikahan Divine dan Elen.
Sebelumnya, sang putra sudah bicara dari hati ke hati padanya. Dan hal itu bukan suatu halangan bagi Morena untuk tidak merestui mereka. Elen adalah wanita yang baik, status sosial bukan hal yang penting. Dan saat melihat nada serius permintaan putranya, Morena bisa melihat bahwa Divine benar-benar tulus menyukai wanita itu.
Sementara di kediaman Shain. Alexan dengan tak sabar meraih kunci mobil, ia ingin menemui putri Ratna secara langsung, bila perlu menjemputnya agar mau tinggal bersama di rumah utama.
"Elena Shain, akhirnya Om bertemu denganmu!"
Elen bersama Divine memasang ekspresi datar.
"Tuan Alexan, ada perlu apa dengan calon istriku?" tanya Divine yang sebenarnya sudah tau siapa laki-laki paruh baya di hadapannya saat ini.
Alexan Shain adalah putra pertama Shain Arkan pembisnis handal yang sudah meninggal.
"Hanya ingin menjemputnya kembali. Elen, kembalilah ke keluarga Shain. Ex Shain butuh penerus baru, dan kamu adalah salah satu kandidatnya!"
"Hanya itu?" tanya Elen datar.
"Membuang Ibuku karena melahirkanku, dan sekarang? Dengan enteng anda bilang, memintaku kembali?" cerca Elen.
__ADS_1
Sudah lama Elen menantikan ini, menanti waktu mempertemukan ia dengan keluarga Ibunya.