AYAH SAMBUNG

AYAH SAMBUNG
Bab 9 - DIVINE KECELAKAAN


__ADS_3

Setelah mengajak Satria jalan-jalan dan makan siang. Elen meminta agar Satria diantar ke tempat Keyra, ia tak mungkin membawa Satria kerja meskipun Divine mengizinkannya.


Sampai di kantor, disambut Rafael dengan dahi mengkerut.


"Darimana?" tanya Rafael mensejajari langkah Elen saat Divine sudah lebih dulu masuk ke dalam lift.


"Maaf, tapi Pak Divine mengajakku keluar!" ucap Elen, merasa bersalah.


"Tak masalah, hanya makan siang bisa lain kali."


Elen mengangguk, saat mereka masuk ke dalam lift diam-diam Rafael memperhatikannya.


"Len, apa Divine sedang mengejarmu sekarang?"


Elen menoleh sekilas, ia sama sekali tak mengerti kenapa Rafael bicara seperti itu.


"Maksud kamu? Apa?"


Tampak laki-laki tampan itu menghela napas, pandangannya bahkan lurus ke depan tubuhnya sedikit gugup tak seperti biasanya.


"Aku akan menarik kembali ucapanku yang pernah bilang kamu adalah adikku. Len, sepertinya aku..."


Ting...


Belum selesai mengutarakan maksudnya, pintu lift terbuka. Beberapa pasang mata memperhatikan Elen dan Rafael.


"Apa? Mata kalian kurang kerjaan? Kenapa menatap seperti itu?" bentak Rafael, ia sama sekali tak suka tatapan orang-orang padanya dan Elen. Tatapan tanpa eskpresi seolah mereka, ia dan Elen makhluk paling salah di dunia ini.


"Udah, salah kita pakai lift karyawan!" Elen menarik lengan Rafael agar segera bergegas dari sana.


"Siapa sih cewek itu? Bisa-bisanya deketin dua orang penting sekaligus. Penampilannya aja nggak banget, cantik sih! Tapi rada kampungan," ucap Anita dengan nada sinis setelah Rafael dan Elen pergi.


"Sekertaris Pak Divine, sudah jangan bicara buruk. Kamu kan tau watak atasan gimana, kita gosip dikit aja bisa gak kerja besoknya, ngerti kan!" Mei menepuk pelan pundak Anita, meski wanita itu berakhir cemberut dan melangkah kesal setelah keluar dari lift.


"Katanya nggak suka kaum bawah, tapi bisa-bisanya makan siang sama sekertaris!" Masih tak terima, Anita terus mengomel sepanjang langkah menuju ruang divisi kerjanya.


"Kan makan siang, siapa tau sambil meeting. Otak kamu sempit banget, An. Lama-lama kesel negur kamu terus." Mei mulai mengabaikan Anita dan melanjutkan pekerjaannya.


"Huh, liat aja nanti. Aku pasti bisa dapetin Pak Divine," batin Anita menyeringai.


***


Sore pulang kerja, Elen menunggu taksi di depan perusahaan. Namun, tertegun saat dua mobil beriringan menghampirinya.


Divine membuka kaca mobilnya, "masuk!" titahnya seperti perintah yang harus dipatuhi. Sementara di belakang, Rafael keluar dari mobilnya, menghampiri Elen.


"Pulang denganku," tawarnya mengabaikan Divine.

__ADS_1


"Kau!" Divine mengepal.


"Div, kau tak searah dengan Elena, biar dia pulang denganku," ujar Rafael.


"Masuk, atau besok tak usah bekerja."


Rafael kesal, membalikkan tubuh dan berkacak pinggang.


"Ini di luar jam kerja, jangan bersikap childish! Elen punya hak memilih mau pulang dengan siapa," ujar Rafael dengan nada tinggi. Divine sudah mengibarkan bendera persaingan, dan ia tak mau jika Elen dengan mudah takluk pada laki-laki itu.


"Maaf Pak Divine, tapi yang dikatakan Rafael benar! Kita searah," ujar Elen hati-hati.


Divine tak menjawab, ia memutup kaca kemudian melajukan mobilnya. Setelah beberapa meter, Divine semakin mempercepat laju mobilnya sampai dalam hitungan detik mobil hitam mewah itu sudah tak terlihat.


"Huft..." Elen menghela napas, ia masuk ke dalam mobil Rafael dengan perasaan bersalah.


"Sudah, Divine memang begitu." Rafael melirik ke arah Elen sekilas, lalu melajukan mobilnya pelan-pelan menuju tempat Keyra.


"Hallo anak Momy, rewel gak hari ini?" tanya Elen saat kedatangannya disambut rengekan manja Satria.


"Nggak Mom, Momy Keyra tadi ajarin aku belajar." Satria tersenyum.


"Wah, beneran? Momy Key hebat ya, sayang zomblo hihi!"


"Eh, apaan. Nggak aku nggak jomblo, enak aja." Keyra cemberut, pura-pura ngambek dan bersedekap dada.


"Iya iya, gak jomblo tapi jodohnya masih dijagain orang." Elen berdiri, senang sekali ia menggoda Keyra.


"Oke siap deh, lagian kan dia paling seneng sama kue buatan kamu. Mana boleh menolak rezeki," ujar Elen.


"Paman Daddy, ayo!" ajak Satria.


"Ah iya, mau ku gendong Son?" tawar Rafael.


Satria mengangguk lalu merentangkan tangannya antusias. Digendong, tentu saja Satria tak akan menolaknya.


Mereka duduk di sofa yang terletak di sebelah kiri etalase kue kue, biasanya sofa itu digunakan pelanggan untuk berdiskusi pesanan dengan Keyra atau karyawannya.


"Inih, cobain." Keyra meletakkan kue coklat yang tampak menggoda.


Coklat kesukaan Satria dan Elen.


"Cobain, Mas!" ujar Keyra juga menawari Rafael.


"Hm, ini enak. Kenapa aku baru nemu kue seenak ini," gumam Rafael seraya memasukkan gigitan terakhir ke mulut.


"Enak dong, dia kan pinter bikin kue. Kadang nih partner bisnisnya jatuh cinta gara-gara makan kuenya!" ujar Elen.

__ADS_1


"Uhukk!" Rafael hampir tersedak, akan tetapi Keyra sudah lebih dulu mengulurkan teh untuknya.


"Makasih," ujar Rafael.


"Len, jangan ngomong gitu ah. Aku jadi gimana, kalau inget Bang Bayu sampai sekarang masih suka datengin aku."


"Uhukk!" lagi-lagi Rafael hampir tersedak.


"Bisa gak pelan-pelan aja, masih banyak kok kuenya kalau mau dihabisin."


"Paman Daddy gak suka kuenya Momy ya?" tanya Satria.


"Suka kok, hanya kaget Satria! Kamu makan yang banyak," ujar Rafael.


Mereka asyik menikmati kue kue buatan Keyra. Toko itu bahkan semakin rame di sore hari.


Elen pamit, akan tetapi tersenyum geli saat melihat Rafael menenteng plastik hasil memborong kue kue milik Keyra.


"Habis gak tuh?" tanya Elen seraya terkekeh.


"Habis, ini buat kamu. Yang tiga buat Momy-ku dan stok di rumah!"


"Ehm, hati-hati loh. Tar cinta dari perut naik ke hati," ujar Elen.


Rafael seketika terdiam, ia hampir lupa kalau sedang mengejar Elen.


"Hm, bisa jadi dari bersama jadi terbiasa," jawab Rafael.


Setelah mengantar Elen dan Satria pulang, Rafael kembali ke rumah untuk istirahat. Namun, belum sempat turun mobil, sebuah panggilan membuatnya urung.


"Ya hallo?"


"Dengan keluarga Pak Divine?" tanya seseorang diseberang sana.


"Hm, Ya?" jawab Rafael, ia tahu jika ada apa-apa, dia orang pertama yang sering dihubungi.


"Bisa datang ke Rumah Sakit Hermina, Pak Divine kecelakaan dan sekarang dalam kondisi kurang baik," jelasnya lagi.


"Oke saya segera kesana!" Rafael menutup telepon, melesatkan kembali mobilnya menuju kediaman Wijaya.


"Pak, Tante Morena ada?" tanya Rafael.


"Ada di dalam, Mas!" sahut satpam.


Rafael mengangguk, lalu meminta satpam membuka gerbang rumah besar Wijaya.


"Tant?" panggil Rafael, akan tetapi sepertinya ia terlambat. Ibunda dari Divine sudah lebih dulu tak sadarkan diri dipelukan suami.

__ADS_1


"Rafael, antar saya ke rumah sakit bisa? Rumah sakit Divine dirawat?" dengan tergesa ayah Divine menggendong sang istri.


Rafael mengangguk, membukakan pintu mobilnya lalu melesat ke rumah sakit segera.


__ADS_2