
"Kalian keluarlah, ada yang ingin bertemu!" Polisi menatap datar ke arah Noah dan Bram yang tampak kusut dan menyedihkan. Namun, meski begitu binar bahagia tercetak di raut wajahnya. Noah senang, karena mungkin saja yang ingin bertemu dengannya adalah Cassandra.
Namun, begitu sampai di meja dan kursi memanjang, keduanya terkejut dengan keberadaan Divine dan Elen disana. Harapan Noah pupus, meski begitu ia tetap bahagia karena Divine menjenguknya.
"Divine," panggil Noah. Sementara Bram lebih banyak diam. Mantan suami Elen itu sedang menerka-nerka sesuatu, tapi menyadari bukan Rafael laki-laki yang bersama Elen membuatnya sedikit mengerutkan kening.
"Noe, bagaimana keadaanmu?" tanya Divine.
"Baik, ah iya dia siapa?" tanya Noah menelisik wajah Elen, seperti pernah melihatnya tapi bukan dengan Divine.
"Aku datang menjenguk Mas Bram," ujar Elen.
"Oh, Bram ternyata dia mantan istrimu! Pantas, kamu diam."
Noah menjadi cerewet dengan kehadiran Divine dan Elen. Sedikit mengendurkan ego, Divine pun memberikan waktu bagi Elen untuk mengobrol dan berkabar dengan Bram serta tak lupa tujuan awal mereka datang menjenguk.
"Aku akan menikah, Mas!"
Bram mengangguk. Baginya, kedatangan Elen sudah lebih dari cukup, cintanya sudah lama berakhir untuk tidak saling memiliki. Kesalahannya di masalalu membuat Bram sadar, Elen berhak bahagia.
"Dengan..."
"Dengan Divine." Elen melirik ke arah Divine, lalu menghela napas. Beruntung laki-laki itu asyik mengobrol dengan Noah. Namun, bisa Elen lihat ekspresi Divine berubah lega. Sepertinya ia memang sudah berterus terang dengan sepupunya.
"Hya, baguslah! Semoga bahagia dan maaf." Hanya itulah kata yang keluar dari mulut Bram.
"Aku masih merahasiakan kondisi Mas, pada Satria! Aku nggak mau dia kecewa, makasih banyak untuk kado ulang tahunnya!" Elen berkaca-kaca, melihat Bram seperti ini membuatnya kasian. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Dulu Elen sudah terlalu sering memperingatkannya.
"Aku sangat berterima kasih Elen, tolong jangan beritahu Satria! Kelak, jika aku bebas! Aku akan menemuinya, aku akan menebus semua kesalahanku padanya, aku akan berusaha sekali lagi menjadi ayah yang baik, aku--" Bram mengusap wajahnya frustasi.
"Aku sudah gagal menjadi ayahnya," gumam Bram dengan nada getir.
"Semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, Mas! Tetaplah sehat, kelak aku pun tak akan menghalangi jika kamu ingin bertemu Satria! Bagaimanapun, tidak ada yang namanya mantan ayah atau mantan anak. Hubungan kita memang sudah berakhir, tapi bagaimanapun Satria adalah darah dagingmu!"
Bram terdiam, hati mantan istrinya benar-benar mulia. Bahkan, disaat kesalahan fatalnya yang bertubi-tubi, Elen masih berbaik hati memaafkannya, memberinya kesempatan suatu hari nanti.
Lain halnya dengan Noah, ia merasa masih punya kesempatan dengan Cassandra saat mendengar Divine akan menikahi gadis lain.
"Jadi, katakan! Siapa wanita beruntung yang akan menjadi calon istri sepupuku ini?" tanya Noah.
"Hm, dia!" Divine melirik ke arah Elen, sontak membuat Noah terkejut.
__ADS_1
"Dia? Mantan istrinya Bram?"
Divine mengangguk, Noah jadi bingung harus bersikap seperti apa? Terlebih ada Bram yang tampak serius berbicara dengan mantan istrinya.
Namun, perlahan Noah menepuk pelan pundak Divine.
"Selamat, semoga kalian bahagia!" ucap Noah.
Cukup lama mereka bicara, hingga panggilan polisi membuat Noah dan Bram bangkit karena jam besuk telah usai.
***
"Eh bentar-bentar, ada telepon!" Elen merogoh ponselnya. Seperti biasa, ada nama Keyra disana.
"Hallo, Key?"
"Ya, hallo Elen. Bisa ke rumah sakit sekarang, tadi ada yang berusaha melukai Satria pas aku jemput dia!"
"Hah? Rumah sakit mana?" tanya Elen tak sabar.
"Siapa yang sakit?" tanya Divine, melihat wajah Elen yang langsung panik pasti ada sesuatu.
"Yaudah aku kesana sekarang." Elen menutup telepon, ia benar-benar panik mendengar Satria kenapa-napa.
"Satria, aku harus ke rumah sakit sekarang!"
"Oke, kamu tenang ya! Kita kesana sama-sama."
Keduanya berjalan buru-buru menuju mobil. Elen terlihat panik, bahkan tanpa sadar ia menggigit kuku-kukunya dengan cemas.
"Gimana keadaan Satria? "Batin Elen.
"Semoga gak kenapa-napa, kamu tenang ya! Bentar lagi kita sampai." Divine mempercepat laju mobilnya.
Sampai di lobi rumah sakit, sudah ada Rafael yang menunggu mereka.
"Apa yang terjadi?" tanya Divine.
"Sebelah sini," ujar Rafael. "Nanti, aku ceritakan!" sambungnya lagi sambil terus berjalan menuju kamar VIP dimana Keyra dan Satria berada.
"Satria?" panggil Elen. Bocah itu menoleh dan langsung menghambur memeluk Momy-nya.
__ADS_1
"Kenapa sayang?" tanya Elen khawatir. Ia bahkan memeriksa tubuh Satria, membolak-baliknya untuk memastikan tak ada luka di tubuh putra kesayangannya.
"Keyra?" melihat Keyra yang tersenyum lega ke arahnya membuat Elen semakin bertanya-tanya. Terlebih sahabatnya itu tengah terbaring dengan selang infus yang ada di tangan.
"Seseorang berusaha mencelakai Satria saat pulang sekolah. Orang itu..." Rafael menjeda ucapannya, menghela napas lalu menghembuskannya perlahan.
Seperti berat untuk mengatakan sesuatu, tapi bagaimanapun baik Elen dan Divine berhak tau.
"Orang itu Cassandra, aku sudah menyelidikinya!"
"Cassandra?" Divine mengepalkan tangannya geram, kesal saat tahu Cassandra-lah yang berusaha mencelakai calon putranya.
"Apa motifnya?" tanya Elen.
"Apalagi? Noah dipenjara, dan pasti ia sedang mengincar Divine," ujar Rafael menyimpulkan.
"Sudah-sudah, mungkin saja tak sengaja." Keyra berusaha melerai perdebatan mereka. Sebab semua terjadi seperti kebetulan. Mobil itu memakan jalan dan hendak menyerempet Satria tapi Keyra menyelamatkannya.
"Mom aku takut. Momy Key sakit," ujar Satria.
"Duduk dulu sayang, kamu kaget ya! Momy Key sakit karena melindungi kamu, astaga Momy benar-benar..."
Elen sedih, ia jadi merasa bersalah dengan Keyra.
Tangannya mengusap-usap kepala sang putra agar tenang. Sementara Divine keluar untuk menghubungi ayahnya dan Rafael menemani Keyra di sisi ranjang.
Divine kembali masuk, raut wajahnya semakin kusut setelah menelepon ayahnya.
"Ada dua kemungkinan, Cassandra melakukannya karenaku atau karena ayahnya!" ujar Divine.
Ia pun menjelaskan siapa ayah Cassandra sebenarnya, beliau adalah asisten Alexan Shain. Tapi, apa mungkin ini ada kaitannya dengan keluarga Elen? Rasanya tak mungkin, bukankah baru beberapa hari mereka bertemu dan sepakat berbagi harta?
***
Plak... Plak...
"Anak tidak tahu diri, sejak kapan kamu jadi wanita yang minus akhlak!" Tian assisten Alexan berulang kali menampar pipi putrinya.
"Cukup, Pa! Kenapa? Apa salahku sampai Papa dengan mudahnya nampar aku?" tanya Cassandra.
"Apa salahmu? Masuk kamar dan renungi sendiri apa salahmu! Jika kamu mau bermain laki-laki di luar sana, Terserah! Tapi jangan menyinggung keluarga Shain, ingat itu!"
__ADS_1
Cassandra semakin tak mengerti, dengan sigap ia bangkit dan berlalu ke kamar dengan membanting pintunya.
"Kamu boleh melakukan apapun sesukamu, asal jangan mengusik Elena Shain dan putranya! Jika tidak, Papa tak akan segan lagi, bahkan Papa tak akan punya muka lagi untuk menahan amukan keluarga Shain padamu, ingat itu!" teriak Tian di depan pintu kamar putrinya sekali lagi.