AYAH SAMBUNG

AYAH SAMBUNG
Bab 45 - SI PALING POSESIF


__ADS_3

"Rahasia apa?" tanya Elen begitu masuk ke ruangan Rafael yang sedikit terbuka.


Ia menatap dang suami, Keyra dan Rafael bergantian karena mereka sedang menyembunyikan sesuatu tanpa Elen ketahui.


Bahkan sang suami mengatakan hal yang membuatnya ingin marah karena 'Elen jangan sampai tahu.'


Elen menekuk wajahnya tanpa mendekat ke arah Divine. Ia lebih memilih berjalan ke arah Keyra, menanti sahabatnya itu berkata jujur.


"Rahasia apa?" ulang Elen.


"Sayang, ini gak seperti pikiranmu lho. Kami hanya merahasiakan hal kecil, yang menurut aku..."


"Menurut kamu, aku tak perlu tahu?" sinis Elen. Sejak hamil, emosinya memang mudah naik turun. Namun, Elen tak menyangka Divine yang selama ini selalu sabar menghadapinya menyimpan sekelumit rahasia.


"Biar aku jelaskan," ujar Rafael.


"Oh, oke." Elen bersedekap dada menahan rasa kesalnya.


"Ya duduk dulu dong, sini." Divine menepuk sofa sebelahnya agar sang istri mendekat.


Elen duduk di sofa, akan tetapi ia membuat jarak dengan sang suami hingga Divine merasa gemas dengan sang istri saat dalam mode ngambek.


"Begini, Len! Kami, aku dan Keyra maksudnya udah ada rencana menikah."


"Terus?" tanya Elen, "kenapa kalian nggak nikah-nikah. Jangan terlalu lama mengambil keputusan lah sebagai lelaki. Kasian Keyra," sambung Elen mengomel.


"Iya, tahu. Kami hampir menyiapkan undangannya tapi suamimu!" Rafael melirik ke arah Divine.


Kini giliran Elen menatap Divine tak mengerti.


"Suamimu bilang, jangan dulu menikah sampai istrinya melahirkan. Ia bahkan menjanjikan satu mobil kalau kami mau menurut! Jadi aku pikir tak ada salahnya menunda beberapa bulan lagi," ujar Rafael menjelaskan.


"Jadi selama ini aku nanya kenapa Rafael nggak nikah-nikahin Keyra itu gara-gara kamu, Div?"


"Iya iya, aku ngaku salah."


Elen menghela napas panjang karena kesal. Namun, yang dilakukan Divine semata agar sang suami lebih banyak punya waktu menemaninya, agar tetap menjadi Suami dan Ayah siaga di sisinya.


"Udah gak apa-apa, Len. Kita masih muda ini, lagian kamu kok malah mikirin kami? Jangan banyak pikiran! Ibu hamil harus tetep sehat," ujar Keyra.


"Iya iya bawel banget sih, udah ketularan bawelnya Rafael kamu mah, Key!"

__ADS_1


"Kok aku?" Rafael menunjuk dirinya sendiri tak terima dengan ucapan Elen yang mengatakan kalau ia bawel.


"Sayang, jadi kamu nggak marah kan?" tanya Divine.


"Hm, ya marah!"


"Jangan dong, kan demi kebaikan kita semua. Lagian menurut aku mereka perlu penjajakan lebih dulu, siapa tahu Keyra berubah fikiran mencari laki lain setelah tahu Rafael tiap makan siang minta disuapin," sindir Divine.


"Ck ck ck, iri bilang boss! Kamu kan gak pernah ya disuapin Elen, wlekk!" ejek Rafael.


Divine mengangkat alisnya sebelah, menatap Rafael semakin kesal. Ia memang tak pernah manja-manja dengan Elen di luar kamar. Sikapnya kadang masih terlalu kaku, tapi dilain waktu, Divine lebih unggul dalam berperan menjadi ayah untuk Satria. Hal itu yang membuat Divine bangga, kasih sayangnya tulus untuk sang putra tanpa perduli dia darah dagingnya atau bukan.


"Udah ya, ngambeknya? Kayaknya pulang aja kita. Mereka bikin emosi kamu naik turun," bujuk Divine tak ingin Elen semakin marah.


"Gak mau, aku tuh masih belum ngobrol sama Keyra," ujar Elen.


"Kamu nggak lihat sayang? Keyra masih ngapain?" bujuk Divine sekali lagi agar sang istri menurut kali ini.


"Kita ke rumah Papa yuk? Atau nggak jemput Satria terus jalan-jalan bertiga." Divine memberikan penawaran.


"Mending kita keluar, kalian disini aja selesaiin pekerjaan. Iyakan Len? Lagian udah lama banget aku nggak quality time sama bestie aku satu ini," pinta Keyra menatap Divine dan Rafael bergantian.


"Nggak bisa, aku khawatir sama istriku kalau dibiarin pergi berdua sama kamu."


"Biarin lah, Div. Aku yakin kok si sayang bisa jaga Elen dengan baik! Masa kamu nggak percaya sama pacarku yang jelas-jelas sahabatnya Elen, kenal Elen lebih lama dari kamu," ujar Rafael.


"Ya, tapi aku ikut." Divine tetap kekeh pada pendiriannya. Ia tak ingin menjadi teledor dengan membiarkan Elen pergi hanya berdua dengan Keyra.


"Ck, benar-benar ya! Yaudah tapi kamu di parkiran. Aku pengen cerita banyak sama Keyra," ujar Elen. Meski keberatan, Divine akhirnya setuju. Hal itu lebih baik ketimbang ia berada di kantor sedang otaknya ikut Elen pergi.


Elen dan Keyra pergi ke mall diantar oleh Divine. Sesuai kesepakatan, Divine hanya akan menunggu mereka di parkiran. Hingga satu setengah jam berlalu, Divine mulai khawatir dan menyusul masuk ke dalam mall. Ia berusaha menghubungi sang istri akan tetapi nihil tak ada jawaban.


Elen meninggalkan ponselnya di mobil. Saat ini ia tengah menikmati makanan cepat saji di foodcourt mall bersama Keyra.


"Hm, akhinya keturutan juga." Elen merasakan nikmat luar biasa saat bisa menikmati makanan yang ia ingin tanpa kata protes dari divine. Namun, hal itu tak berlangsung lama karena sang suami saat ini sudah berdiri tak jauh dari mereka berada.


"Makan aja, gak ada pantangan kaya gini. Asalkan masih dalam porsi wajar." Keyra tersenyum, ia puas melihat sahabatnya makan dengan lahap sesuatu yang diingini.


"Kata orang kalau nggak diturutin nanti anaknya ileran lho. Heran aku sama suami kamu, bukannya dia sayang banget? Bisa-bisanya kamu pengen makan kayak gini gak diturutin," terocos Keyra.


Namun, Elen malah terkekeh. Ia melihat wajah suaminya berubah masam tepat di belakang Keyra.

__ADS_1


"Ngomong apa kamu, Key! Jangan coba-coba mempengaruhi istriku ya?" omel Divine tak terima.


"Ngg..."


Keyra menoleh ke belakang dan terkejut melihat Divine menatap tajam ke arahnya.


"Nggak, aku bilang apa adanya," elak Keyra.


Elen hanya terkekeh melihat perdebatan mereka.


Divine ikut duduk dan melihat apa saja yang dipesan sang istri.


"Kamu makan apa ini yang, astaga!"


"Anak kamu yang pengen loh, masa nggak boleh." Elen memasang muka memelas.


"Boleh," ujar Divine akhirnya pasrah saat Elen menampilkan mata puppy eyesnya.


"Aku nggak pernah bilang nggak boleh kamu ini itu. Boleh asal sama aku, bukan Keyra."


"Kamu cemburu?" tanya Elen asal.


" Ya enggak, cuma nggak suka Keyra manja-manjain kamu padahal habis manjain Rafael." Divine masih menampilkan wajah masamnya.


"Ini gimana konsepnya, Div? Kamu kok jadi posesif baget."


Keyra bersedekap dada.


"Gampang aja, kalau kamu nggak ngizinin aku manjain Elen biar minggu depan aku dan Rafael nikah, jadi aku punya kesibukan manjaiin siapa."


Seketika Divine panik, "ya,nggak bisa gitu dong! Perjanjian tetap perjanjian," ujar Divine.


Keyra hanya memutar bola matanya.


"Selagi tidak diatas materai?"


"Ya kalau kamu nekat, aku akan pecat Rafael."


Keyra berdecak, Divine sungguh tipe boss yang seenak jidatnya.


"Kami bisa membuka usaha bersama, dia akan jadi CEO kue-kue milikku," jawab Keyra asal.

__ADS_1


Namun, hal itu cukup menyentil Divine. Ia terdiam beberapa saat hingga jemari lentik Elen mencubitnya. Divine pun akhirnya mengalah dengan meminta maaf.


__ADS_2