AYAH SAMBUNG

AYAH SAMBUNG
Bab 36 - LAMARAN


__ADS_3

Divine mengajak Satria berkeliling Mall, bermain di area time zone bersama bahkan membelikan beberapa hadiah untuk Satria.


"Om, nanti kalau Momy marah gimana? Om beliin Satria banyak banget mainan." Satria memainkan jari-jarinya, ia senang disaat yang sama juga takut akan dimarahi Momy-nya.


"Om udah izin sama Momy-mu. Satria, kalau Om sama Momy-mu menikah bagaimana? Apa kamu setuju?" tanya Divine setelah sedari tadi berfikir kalimat yang pas untuk mengutarakan maksudnya.


Satria mengangguk, tapi dengan bibir diam membuat Divine sedikit cemas. Apa bocah itu terpaksa menerima.


"Gimana?" ulang Divine sekali lagi, berharap jawaban Satria membuatnya lega.


"Em... Tapi ada syaratnya, Om!"


"Apa syaratnya?"


"Em, banyak pokoknya! Om baik mau menghafalnya?" tanya Satria.


"Demi Momy-mu, pasti Om akan berusaha menghafalkannya," jawab Divine tersenyum. Ternyata meluluhkan Satria tak semudah membalikkan telapak tangan.


"Gak boleh marah sama Momy, bentak-bentak Momy, mukul Momy, Pokoknya gak boleh!" ucap Satria, kemudian kembali berfikir sejenak.


Divine mengangguk-ngangguk mengerti.


"Gak boleh banting-banting, apalagi ya?"


"Banting? Maksudnya?" tanya Divine. Apakah semasa berumah tangga Elen dan Bram membiarkan Satria melihat pertengkaran mereka, pikir Divine.


"Gak boleh banting barang-barang di depan momy!"


Deg.


Divine tertegun, spontan ia langsung mendekap Satria.


"Om janji gak akan melakukannya, tapi kamu juga harus janji satu hal sama Om!"


"Apa?"


"Kita harus kompak buat Momy bahagia, senyum terus, bagaimana?"


Satria mengangguk sumrigah.


"Om ralat, bukan janji tapi akan Om buktikan."


"Yey." Satria bersorak girang.


Divine kembali memeluknya, lalu beralih menggendong Satria tinggi-tinggi merayakan euforia mereka.


***

__ADS_1


Hingga hari yang dinanti pun tiba, Divine membawa kedua orang tuanya untuk menemui keluarga Elen.


Sehari sebelumnya, Morena sudah menghubungi William untuk mengabari Djaja. Namun, kakek Divine itu menolak ikut dengan beralasan tak enak badan.


Kini hanya ada Divine, kedua orang tuanya yang akan datang ke kediaman Elen. Meski begitu, ada Rafael dan Keyra yang ikut menjadi saksi dimulainya perjalanan cinta mereka. Tak ada pesta, tak ada perayaan. Semua berjalan sederhana seperti permintaan Elen. Meskipun Alexan sendiri mengusulkan membuat pesta untuk sang ponakan, Elen bersikeras menolak.


Kini ruangan mewah keluarga Shain menjadi tempat mereka berkumpul.


Ada kedua orang tua Elen dan Divine. Alexan, Mayra juga Rafael dan Keyra.


Elena turun digandeng Satria yang nampak tampan mengenakan jass kecil.


Berjalan menuju ruang tamu kemudian menyapa keluarga Divine satu-persatu.


"Cantik sekali kamu, Elena." Morena menyunggingkan senyum. Meski sudah memiliki anak, Elena terlihat sangat cantik dan anggun. Di mata Morena, calon menantunya itu juga terlihat sangat berhati-hati dalam banyak hal.


"Makasih Tante," ujar Elen mengangguk sopan.


Pandangan Divine tak lepas dari wajah Elen, bukan hanya takjub tapi juga bangga. Hari ini ia akan mempersunting wanita itu, menjadikannya calon istri.


"Bisa dimulai, sepertinya anak saya sudah tidak sabaran," goda Wijaya.


"Hahaha, biasa. Anak muda sekarang mudah ditebak ekspresi wajahnya, Pak Wijaya!" ujar Alexan.


"Kami sangat beruntung, keluarga Pak Wijaya mau menerima Elena. Maka sebagai orang tua, kami hanya bisa mendoakan yang terbaik," ujar Ratna dan Roy.


"Masalah itu, biarlah Elen yang menjawabnya. Bagaimana sayang?" tanya Ratna.


"Aku mau," ujar Elen menunduk, tak mampu menatap ke arah Divine.


"Syukurlah," ucap semua orang hampir bersamaan.


Divine pun mendekat ke hadapan Elen, berjongkok dan membuka kotak beludru yang berisikan sepasang cincin sebagai tanda pengikat lalu memasangkan satunya ke jari manis milik Elen.


Lalu, Elen pun melakukan hal yang sama. Ada rasa bahagia menyeruak di dalam dada jika mengingat rumah tangganya yang pernah gagal hingga dipertemukannya kembali dengan orang yang tepat.


Elen hanya bisa berharap, sekali saja ia merasakan kebahagiaan nyata tanpa air mata dan Elen berharap, Divine lah orang itu. Orang yang akan mengisi hari-harinya dengan senyum, tawa dan tangis bahagia.


***


"Kamu gak pengen?" tanya Rafael, ia sedang mengantar Keyra pulang ke rumahnya sebab gadis itu berangkat ke rumah Elen bareng dengannya.


"Pengen sih, tapi takut kamunya kemaleman pulangnya!"


Kening Rafael mengkerut, yang dia maksud sebenarnya perihal pertunangan Elen dan Divine. Namun, sepertinya Keyra justru menangkap maksud lain.


"Nggak akan, kamu mau apa?"

__ADS_1


"Mau makan," ujar Keyra, memainkan jari-jari layaknya anak kecil yang ingin meminta sesuatu.


"Ahhh baiklah, kamu memang tukang makan! Gimana lagi," keluh Rafael yang berhasil membuat Keyra cemberut maksimal.


"Tadi nanya, sekarang ngeluh. Dahlah turunin aku disini," ujar Keyra.


"Dikit-dikit ngambek, kaya bayik." Rafael menepikan mobilnya menuju salah satu restorant jepang.


Seketika mata Keyra berbinar melihat kemana Rafael membawanya.


"Aku nggak minta dibayarin kok tenang aja, cuma minta ditemenin!"


"Hm, bawel! Yaudah ayo masuk," ajak Rafael langsung merangkul bahu Keyra dengan paksa karena tubuh gadis itu yang lebih pendek membuat Rafael gemas sendiri.


"Ishhh... Aku bisa jalan sendiri," keluh Keyra.


"Siapa juga yang mau gendong!" cibir Rafael.


Meski begitu, ia senang bisa menikmati waktu bersama Keyra.


"Aku ke toilet bentar," ujar Keyra.


"Hm, yaudah sana! Apa perlu aku anterin juga?" Rafael menaik turunkan alisnya.


"No, dasar buaya!" gerutu Keyra, akan tetapi setelah membalikkan badan malah tersenyum sendiri dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Pak Rafael sendirian?" Anita tiba-tiba datang dan duduk di hadapannya. Wanita itu tersenyum manis membuat Rafael bergidik ngeri.


"Sama..." Rafael kelabakan, menunggu Keyra yang tak kunjung datang. Saat batang hidung Keyra kelihatan, Rafael langsung menunjuk ke arahnya.


"Sama si sayang, itu dia! Kalau kamu?"


Anita menjadi muram, "sendiri, tadinya mau gabung! Waktu itu kan saya traktir bapak makan siang," tagih Anita.


"Yaudah duduk aja, gabung sama kita! Toh pacarku ga akan keberatan, iyakan sayang?" ucap Rafael agar Keyra mendengarnya setelah gadis itu datang.


"Hah?" Keyra menatap Anita dan Rafael bergantian dengan ekspresi bingung.


"Gini lho sayang, ini ada temen aku sendirian. Biar gabung aja sama kita, kasian kan. Waktu itu aku punya hutang sama dia jadi gak ada salahnya kan gabung makan bareng disini?" tanya Rafael, mengedipkan matanya memberi kode pada Keyra agar mau bersandiwara.


"Beneran temen?" tanya Keyra, ingin sekali ia mengerjai Rafael.


"Iya bener, temen kok!"


"Awas lho kalau ada hubungan spesial. Kita juga awalnya kan cuma temen," sindir Keyra.


Rafael mengabaikan sindiran Keyra dan memilih memanggil pelayan untuk memesan makanan.

__ADS_1


Keyra menekuk wajahnya sepanjang makan. Meski begitu, ia cukup lega saat melihat Rafael sama sekali tak menanggapi Anita sama sekali.


__ADS_2