
"Sayang Alina, Ayah berangkat kerja dulu! Baik-baik sama Momy ya? Jangan rewel dan jangan nyusahin Momy di rumah!" pesan Divine pada putri bungsunya. Alina menggeliat lalu tersenyum meski kemungkinan ia tak paham perkataan sang ayah.
"Dek, abang berangkat sekolah dulu ya biar pinter! Nanti kalau abang pulang kita main lagi," ujar Satria ikut berpamitan pada Alina. Lagi bayi mungil itu menggeliat sebagai respon.
Setelah drama pamitan Divine dan Satria, kedua jagoan Elen akhirnya berangkat juga. Sebelum ke kantor, Divine lebih dulu mengantar Satria ke sekolah, kebetulan karena kantor Divine dan sekolah Satria searah, jadi Divine bisa langsung sekalian mengantarkannya.
"Abang, nanti dijemput Mang Asep, ya?" tawar Divine.
"Iya, Yah! Gak apa-apa," ujar Satria, lalu mengulurkan tangan ingin mencium punggung tangan Divine.
"Ayah hati-hati."
"Kamu juga, semangat belajarnya!" Balas Divine dengan senyum setelah membuka pintu mobil samping Satria.
Seperti biasa, Divine menunggu Satria memasuki gerbang yayasan sekolah dasar barulah Divine melajukan mobilnya.
Meski Yayasan itu milik bundanya, akan tetapi Divine tetap merasa khawatir karena sewaktu TK, Satria hampir saja menjadi korban bullying teman-temannya perihal 'Ayah'.
Divine memulai aktivitas paginya di kantor, terlebih sekarang ketidakadaan Rafael cukup membuatnya kepayahan.
Namun, Divine bersyukur karena sang Ayah tak pernah mempermasalahkan kinerjanya akhir-akhir ini. Sang Ayah memakhlumi jikalau fokusnya mulai terbagi dengan yang ada di rumah.
Di ruangan lain, Wijaya mendekus sebal saat melihat ponselnya terus berdering. Panggilan dari nomer sang Ayah memenuhi layar. Wijaya masih kesal dan sangat kesal dengan sikap ayahnya tempo hari di pernikahan Noah.
Wijaya membiarkan ponselnya tergeletak di meja kerja. Tak mau memperdulikan semua hal yang semakin membuat batinnya terasa sakit. Hingga nama panggilan berganti menjadi adiknya, Wijaya pun mengernyit heran.
Disusul panggilan dari Noah setelah Wijaya mengabaikan panggilan nomor ponsel Djaja dan William. Padahal yang terjadi di rumah besar Djaja, semua orang panik karena baik Divine maupun Wijaya tak ada satu orang pun yang mengangkat panggilan meski mereka menggunakan nomor yang berbeda.
"Aku coba ke rumah Elen aja, Ma." Dengan tubuh bergetar Noah meraih kunci mobil dan pergi. Tangis William dan sang istri pecah, semakin pecah kala mengingat perkataan terakhir Djaja sebelum menghembuskan napas terakhirnya.
Flashback on,
Djaja menatap William, menantunya dan Noah bergantian. Tubuhnya makin lemah, tapi egonya masih sangat tinggi untuk meminta Wijaya dan anak-anaknya datang. Padahal jauh dilubuk hati Djaja menyimpan penyesalan yang menumpuk pasca pengakuannya pada Wijaya di pernikahan Noah.
"Pa, aku telepon mas Wijaya, ya?" ujar William panik.
Djaja hanya menggeleng keras kemudian memalingkan wajahnya.
"Pa, tapi Mas Wijaya juga berhak tahu kondisi Papa saat ini."
"Sampaikan maafku buat Wijaya dan keluarganya," ujar Wijaya lirih sebelum benar-benar menghembuskann napas terakhirnya.
__ADS_1
Flashback off.
Sampai di jalan menuju rumah Divine, Noah memutar arah. Ia kembali memacu mobilnya ke Wijaya Group. Rasa-rasanya, ia perlu mendatangi langsung kantor Omnya.
Tanpa pikir panjang, Noah menghentikan mobilnya di lobi dan bergegas masuk setelah membanting pintu mobilnya sedikit keras. Mengabaikan larangan para penjaga keamanan, ia menerobos langsung dan masuk ke dalam lift.
Noah akhirnya bernapas lega bisa bertemu omnya, ia memberitahu kabar meninggalnya Djaja. Meski dalam hati terselip rasa kesal, akan tetapi Wijaya tak menyangka jikalau Djaja berpulang lebih cepat. Dengan laangkah lebar ia menuju ruangan Divine diikuti oleh Noah. Mereka berbagi tugas, Wijaya langsung kesana. Sementara Noah menjemput Morena dan Divine menjemput istrinya.
***
Suasana rumah besar itu hening selepas kepergian Djaja. Mereka semua larut dalam sedih karena bagaimanapun Djaja pergi terlalu cepat.
"Mas, Mbak bisakah tinggal?" mohon William dan istrinya.
Wijaya dan Morena mengangguk.
"Tapi kami pulang, ya! Anak-anak sama Mama Ratna tadi kami titipin, soalnya riweuh kalau Alina ikut." Divine menatap kedua orang tuanya dan orang tua Noah bergantian, sementara Elen pasrah ikut mau suami.
"Iya kamu pulang aja!" ujar Wijaya.
"Iya, Div. Lagian Alina masih kecil, oh ya tunggu sebentar." Mama Noah pergi ke lantai atas, tak berselang lama turun membawa sebuah bingkisan.
"Buat Alina, maaf tante baru sempet ngasih."
"Sekali lagi selamat ya, Elen, Divine." kompak William dan sang istri.
"Iya, Om, Tante. Makasih banyak. Ayah, Bunda! kami pulang dulu."
Wijaya dan Morena mengangguk.
Divine dan Elen keluar, tak sengaja berpapasan dengan Noah. Setelah berbasa-basi, Divine lega akhirnya pulang juga.
Sekitar pukul delapan malam mereka sampai di rumah. Rupa-rupanya Ratna menunggu mereka di ruang tamu sampai tertidur.
Namun, terbangun begitu mendengar suara bising mobil.
"Maaf mama ketiduran," ujar Ratna.
"Iya gak apa-apa, Ma! Anak-anak?" tanya Divine dan Elen.
"Ah di kamar sama Papa dan Satria. Kalian bebersih dulu baru ambil Alina ya! Malam ini biar Satria ikut tidur sama kami," ujar Ratna.
__ADS_1
Elen mengangguk, "makasih, Mama sayang!"
Siang tadi setelah mendapat kabar dari Noah, Elen meminta datang dan menginap menjaga Alina, untuk mewanti-wanti kalau ia dan Divine pulang malam dan benar saja, pukul delapan malam bahkan mereka baru sampai di rumah.
"Sayang, kamu mandi duluan gih! Udah aku siapin air anget," ujar Divine.
"Makasih ya, Ayah Div!" Elen tersenyum manis. Meski tak menampakkan raut wajah sedih, bisa Elen lihat kalau Divine juga merasa kehilangan atas kepergian Djaja, kakeknya.
"Sama-sama." Divine mengusap kepala Elen sebelum wanitanya itu masuk ke kamar mandi.
Mungkin jikalau Elen tidak sedang dalam masa nifas, Divine sudah ikut masuk menyusul istrinya.
Selesai mandi, giliran Divine masuk. Elen ke kamar tamu untuk mengambil Alina.
"Lho Sayang kok belum tidur?" tanya Elen sama Satria.
"Belum Momy, lagi main tebak gambar sama Kakek."
"Iya, Len. Gapapa baru jam delapan ini, lagian masih suasana duka kan. Besok Satria libur juga gak apa-apa."
"Iya, Pa! Yaudah nitip ya, aku mau bawa Alina ke kamar. Boboknya udah pules, sampai denger kakek sama abangnya aja gak kebangun!"
Elen pun kembali ke kamar bersamaan Divine selesai mandi. Keduanya memperhatikan Alina yang tertidur pulas dalam box bayi yang Elen letakkan tepat di samping ranjang.
"Nasibmu, Al!" gumam Elen sambil senyum.
"Kenapa nasib Alina, Sayang?" Tanya Divine.
"Enggak, aku jadi keinget pas Satria kecil aja. Dulu serba seadanya sedangkan Alina serba ada."
"Gapapa, Aku yakin kok abangnya Alina gak akan mempermasalahkan hal itu! Justru aku mikirnya, Satria sudah terlatih kuat sejak dini." Divine tersenyum membelai pipi istrinya yang sedikit lebih berisi.
"Iya, ya! Tapi apapun yang udah aku dan Satria lalui semoga gak terulang lagi. Aku yakin, ayahnya anak-anak ini gak akan diam aja," Balas Elen.
Divine mencubit gemas hidung Elen.
Cup!
Kecupan singkat dibibir sebagai penghantar tidur keduanya. Setelah memastikan tidurnya Alina nyaman. Divine dan Elen mulai memejamkan mata karena hari yang cukup melelahkan.
Note :
__ADS_1
Riweuh ( bahasa sunda ) : Repot
Jangan lupa tinggalkan jejaknya🥰