
Divine kesal, ia mengajak Elen untuk pulang.
Melihat kekesalan di raut wajah Divine membuat Elen hanya bisa menurut pada laki-laki itu. Menatap Morena dan Wijaya tak enak.
"Kenapa pulang?" tanya Elen saat mereka sudah berjalan di koridor rumah sakit.
"Kenapa lagi? Kakekku itu batu banget!"
Bisa Elen lihat jika nada bicara Divine masih emosi.
"Makhlumi saja," ujar Elen.
"Gak ada, dari dulu aku udah ngalah, nurut walaupun bukan jadi kesayangan! Kali ini aku gak mau diatur lagi sama dia! Ayah dan Bunda aja gak keberatan kok," ujar Divine meluapkan kekesalan. Sesekali mengusap wajahnya kasar.
"Duduk dulu!" Elen mengajak duduk Divine di kursi lorong rumah sakit. Tangannya lembut mengusap-usap bahu kekar milik Divine, berharap laki-laki itu sedikit mereda emosinya dan tenang.
"Kamu tunggu disini sebentar," ujar Elen, ia bangkit dan berjalan mencari keberadaan kantin rumah sakit.
Tak berselang lama, kembali membawa dua botol minuman dingin. Satu ia berikan untuk Divine, satunya lagi untuk dirinya sendiri.
"Minumlah, agar kepalamu tak lagi berasap!"
Divine mengerutkan kening, ia malah fokus melihat Elen membuka tutup botol dan meminumnya.
"Kamu kehausan?" tanya Divine saat melihat air dalam botol milik Elen hanya tersisa setengah.
Dengan sigap Divine merebut milik Elen dan menukar dengan botolnya yang masih utuh.
"Kamu gak jyjik minum bekas punyaku?"
"Enggak, kenapa?" tanya Divine.
Elen menggeleng, tak lagi merespon. Pikirannya malah diam-diam membayangkan bekas bibirnya kini bersentuhan dengan bibir Divine, bukankah itu lebih mirip ciuman tak langsung?
__ADS_1
"Gapapa, hanya itu..." menghela napas saat melihat minuman miliknya sudah habis.
"Kenapa ga buka punyamu sendiri?" protes Elen.
"Mubazir, aku gak bisa minum banyak!" alibi Divine.
Mereka memutuskan pulang, pertama kalinya Elen berada satu mobil dengan Divine laki-laki itu tampak hati-hati saat mengemudi lantas kenapa dulu bisa kecelakaan? Pikiran Elen runyam teringat hal itu.
"Aku boleh tanya sesuatu?"
"Tanya apa?"
"Waktu itu apa yang sebenarnya membuatmu kecelakaan?" Tanya Elen. Sebab dirinya sadar betul raut wajah Divine berubah saat ia memilih pulang bersama Rafa.
"Karenamu juga Cassandra!" jujur Divine.
"Kenapa?"
"Bukan apa-apa, hanya masalah waktu!"
"Momy!"
"Elen," panggil Keyra.
"Key, aku kangen!" Elen menghampiri Keyra setelah menggendong sang putra. Sementara Divine berjalan pelan ke arah Rafael.
"Gimana kondisi kakek Djaja?" tanya Rafael pada Divine.
"Begitulah, dia masih begitu sombong dan angkuh!"
Rafael tahu apa yang sudah dialami bossnya itu, "biarkan saja, toh kamu gak perlu restunya untuk menikahi Elen. Aku harap kamu bukan sedang mempermainkannya." Pandangan Rafael mengarah pada Elen yang sedang mengobrol hangat dengan Keyra sambil sesekali tertawa.
"Aku berencana ke rumah orang tuanya," gumam Divine. Tepukan pelan ia rasakan di pundak, Rafael sangat bangga pada Divine yang bergerak cepat.
__ADS_1
Setelah mengantar Elen pulang, Divine langsung pamit. Ia ingin menyiapkan sedikit kejutan untuk orang tua Elen jika berkunjung kesana. Lusa adalah hari yang tepat, ia tak ingin berlama-lama.
***
"Divine apa aku mengganggumu?" suara lembut yang sangat familiar membuat Divine segera mendongkak untuk melihat siapa yang datang.
"Siapa yang mengizinkanmu masuk tanpa mengetuk pintu," ujar Divine dengan nada dingin.
"A-aku hanya..."
"Hanya apa? Jangan karena kamu calon istri Noah lantas punya kuasa disini juga. Ini perusahaan Ayahku, bukan kakek tua itu!"
"Divine, ini bukan kamu kan? Kamu yang aku kenal tak pernah searogan ini. Ayolah, bukankah kita sebelumnya pernah sedekat satu centi sebelum sejauh ini?"
Divine memijat pelipisnya yang mendadak pening karena kehadiran Cassandra, moodnya semakin buruk.
"Rafael!!!" teriak Divine. Namun, bukan Rafael yang muncul melainkan Elen, sebab ruangan mereka berhadapan dan tanpa sengaja Elen mendengar teriakan Divine yang cukup keras.
"Pak Divine ada apa?" tanya Elen berusaha bersikap formal saat melihat ada mantan kekasih Divine disana.
"Sini kamu!"
"Saya?" Elen pura-pura mendekat, ia tahu Divine sedang bersandiwara.
"Ya kamu, apa pekerjaanmu sudah beres?" tanya Divine. Suaranya melembut, bahkan langsung menarik Elen hingga terjatuh dalam pelukannya.
"Pak, ini di kantor!" tolak Elen.
Divine tak perduli, ia langsung menyerang bibir merah jambu milik Elen dan melu matnya singkat.
Cassandra mematung kesal, menghentakkan kakinya merasa diabaikan oleh Divine. Kini sandarannya sudah tak ada, melihat Noah di tangkap polisi ia berharap bisa kembali pada Divine yang jelas-jelas sangat mencintainya. Namun, kenyataan yang ada malah laki-laki itu mencium sembarang wanita di hadapannya.
"Sialan, siapa wanita itu? Bisa-bisanya Divine menciumnya begitu saja di depanku," maki Cassandra setelah keluar dari ruangan Divine.
__ADS_1
Ia meninggalkan Wijaya Group dengan perasaan dongkol dan kesal.