
Jam seolah lambat berjalan. Divine masih nyaman di posisinya. Menelusupkan kepalanya di pelukan Elen. Meski Elen sedikit kikuk dan merasa belum siap, akhirnya ia mengalah. Merasa kasian dengan sang suami jika harus menunggunya lebih lama.
Toh jika mau sekarang atau nanti, waktu itu pasti akan tiba.
"Div, kapan kamu masuk kantor?" tanya Elen. Tangannya dengan lembut mengusap kepala Divine penuh kasih sayang.
"Besok sayang! Kenapa, hm?"
Elen menghela napas, itu artinya ia hanya akan bertemu Divine di sore hari setelah pulang kerja.
"Tidak apa, hanya merasa waktu kita sungguh singkat! Aku akan ke perusahaan Ex Shain dan kamu ke kantormu. Kita akan punya sedikit waktu," gerutu Elen.
Divine menatap Elen dengan lembut.
"Kita punya banyak waktu sayang. Karena bagiku, satu menit denganmu sangat berarti!"
"Ckck gombal. Sejak kapan kamu pinter gombal?" cibir Elen akan tetapi dengan bibir mengu lum senyum.
"Sejak jadi suamimu. Elen, aku sayang sama kamu!"
"Ehm, aku tahu kok. Tapi masih heran, kenapa dulu kamu lebih mirip kulkas jalan ya? Inget gak sih waktu aku pertama kali kerja di kantormu?"
"Jangan diinget-inget, aku aja sampai sekarang masih heran!" Divine merapatkan tubuhnya, memeluk Elen dengan erat layaknya guling hidup.
"Div, sesak!"
Divine tak menghiraukan.
"Sayang, longgarin dikit. Aku gak bisa napas!"
Divine mendongkak, mengernyitkan dahi bingung.
"Hehehe..." Elen terkekeh. Saat Divine menatapnya bingung, ia malah melebarkan senyumnya.
__ADS_1
"Jam berapa Satria pulang sayang?" tanya Divine. Meski sudah mempercayakan sesorang untuk menjaga Satria. Divine ingin menikmati momen pertamanya sebagai Ayah dengan menjemput bocah tampan itu.
"Ehm, masih satu jam lebih."
"Beneran? Len, boleh ya?" mohon Divine. Ia sudah penasaran dengan apa yang ada dibalik dress bermotif floral itu.
"Memangnya aku bisa menolak," gumam Elen. Menatap Divine dengan ekspresi sulit diartikan.
Divine tersenyum senang, merasa mendapat lampu hijau dari sang istri ia pun semakin tak sabar.
"Harus mulai dari mana?" bingung Divine dalam batinnya.
Divine merapatkan bibirnya, merasa tak ada penolakan dari sang istri, ia pun mulai melepas kancing belakang gaun Elen dan menelusupkan jarinya.
"Len," panggil Divine, dadanya berdebar hebat tapi wanita itu malah santai seolah sedang menunggunya melakukan tindakan.
"Duh Len, insiatif dong," batin Divine.
Namun, langsung tertegun saat Elen dengan sigap menarik kepalanya dan melu mat bibirnya dengan gerakan slow motion. Sebagai wanita yang pernah menikah, ia tentu sudah tahu alurnya seperti apa.
Wanita yang bahkan menumpahkan sebagian da danya menjadi konsumsi umum.
"Sayang, kayaknya ini malah jadi kamu yang nidurin aku deh!" bisik Divine.
"Biarin! Lagian, nunggu kamu kelamaan. Yang ada Satria udah pulang kita belum kelar!"
"Jadi mau cepet-cepet?"
Elen tak menjawab, ia bangkit mengubah posisi di atas Divine. Wanita itu bukan hanya berinisiatif mencium sang suami tapi juga membuka satu persatu kancing baju Divine.
Diusapnya perut sispack milik Divine, akan tetapi dengan bibir diam terkunci.
Divine bertindak mengikuti nalurinya sebagai lelaki. Perlahan me raba tubuh Elen yang hampir polos di atasnya. Bibir mereka tersenyum tanpa sepatah kata. Divine yang menemukan hal baru, sementara Elen wanita yang sudah lama tak tersentuh. Akhirnya tiba di bagian paling akhir, meski Elen adalah wanita yang pernah menikah akan tetapi miliknya masih sempit hingga Divine yang belum berpengalaman sedikit kesusahan.
__ADS_1
"Sayang!" napas Divine terengah, maju mundur mengikuti ritme tubuh.
Sedang Elen memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan Divine yang berhasil membuatnya melayang terbang.
"Div..." leng uhnya tak tertahan.
"Sebut namaku, sayang!" bisik Divine tersenyum puas berhasil mengga gahi sang istri.
"Divine, uhhh!"
"Ya, sayang!" Divine semakin mempercepat gerakannya. Hingga erang an terakhir Elen terdengar memenuhi ruangan.
Divine dan Elen terkulai lemas dengan tubuh saling memeluk.
"Makasih istriku," ucap Divine, menghujani Elen dengan ciuman di wajahnya.
"Nakal!" desis Elen, menutup tubuh dan wajahnya dengan selimut karena sudah dipastikan saat ini pipinya sedang bersemu merah.
Jam yang harusnya mereka gunakan untuk menjemput Satria malah digunakan untuk mandi bersama. Beruntung saat pengawal mengantar pulang sang anak mereka sudah selesai dengan ritualnya.
"Jalan-jalan yuk, ajak Satria keluar!" ajak Divine.
"Boleh. Satria kamu ganti baju dulu sayang!"
"Ya, Mom. Mau kemana kita?" tanyanya.
"Entah, Ayahmu yang mengajaknya!"
Satria menghambur ke arah Divine, "mau kemana, Yah?" tanya Satria.
"Kamu maunya kemana, hm?"
"Aku mau naik perahu," gumam Satria. Meski area game di mall lebih menarik, kali ini ia hanya ingin merasakan naij perahu di danau.
__ADS_1
Satria ingin melihat ikan dan bahkan memberinya makan dengan menaiki perahu, hanya itu. Meski bocah tujuh tahun itu tak tahu menemukan keinginannya dimana.