
Bram menatap anak-anak Tk yang tengah bermain di depan kelas. Batinnya bertanya-tanya kenapa sosok Satria tak ada disana.
Setelah satu jam berdiam diri memperhatikan, ia akhirnya memutuskan untuk masuk dan menanyakan langsung pada Gurunya Satria.
"Maaf, Pak! Tapi Satria sedang izin beberapa hari ke depan. Karena kedua orang tuanya sedang keluar kota!" terang Dania memberikan informasi.
"Baiklah, terima kasih atas infonya, Bu!" jawab Bram.
Deg.
Bram terdiam, ia bukan tak mendengar berita pernikahan Elen dan Sepupu Noah. Hanya masih tak percaya semua akan secepat ini. Dengan lesu ia duduk di emperan warung dekat sekolah Satria sekedar merokok dan minum kopi barang sebentar.
Matanya langsung membola demi melihat beberapa berita trending di koran. Pernikahan penerus keluarga Ex Shain dan Wijaya.
Wajahnya semakin muram, meskipun Bram tahu itu semua demi kebahagiaan Elen.
"Apa mungkin Satria masih membutuhkanku sebagai ayahnya? Sedang Ayah sambungnya bahkan jauh lebih baik dan kaya, ia tak akan kekuarangan kasih sayang sedikitpun," gumam Bram dengan nada getir.
Ingatan masalalu bagaimana ia memperlakukan Elen dan Satria dengan buruk berputar di kepala bak kaset rusak. Seolah sedang menertawakan nasibnya saat ini, merasakan bagaimana rasanya diabaikan oleh orang yang paling kita harapkan.
"Nak, maafkan Ayahmu yang bodoh ini. Semoga suatu saat nanti, Ayah masih punya sedikit kesempatan memperbaiki hubungan kita," batin Bram. Ia pun memutuskan pulang karena mungki Divine Wijaya memang membawa Elen dan Satria pergi. Pagi sebelum ke sekolah tadi bahkan Bram sudah mendatangi kontrakan Elen. Namun, yang terjadi mantan istrinya itu sudah pindah, Bram juga mengunjungi rumah mantan mertuanya. Dan Bram semakin terkejut karena rumah disana sekarang kosong melompong.
"Gimana, Bang?" tanya Siti saat melihat abang ponakannya pulang dengan wajah kusut.
__ADS_1
"Gak ketemu!" jawab Bram lesu, mengabaikan Siti dan memilih membuka kunci pintu rumahnya.
Rumah dimana banyak kenangan pahit istri dan sang anak disana.
"Bang!!!!" teriak Siti.
"Apa Siti, abang pusing!"
"Ini," ujar Siti menenteng koran dimana ada berita yang sama disana.
"Sudah tahu, biarin! Asalkan Elen dan Satria bahagia."
"Ya gak bisa gitu attuh, sama aja abang habis manis sepah dibuang." Siti masih tak terima Elen meninggalkan abangnya begitu saja, ia memang tak tahu persis permasalahan apa yang membuat Elen dan abangnya bercerai.
"Gak gitu Marsiti, mereka pergi karena kesalahan abang! Udah ya, mau masuk dulu!"
Siti merengut, terlebih saat Bram menutup pintu begitu saja.
Siti kembali ke rumah menggeleng-gelengkan kepala melihat nasib baik Elen. Ia jadi ingat kata-katanya saat meledek mantan istri abangnya itu saat pergi dari rumah.
"Huh, semoga aja Elen gak sakit-sakit hati amat sama omonganku!" gumam Siti.
***
__ADS_1
Sudah dua hari ini, Divine, Elen dan Satria menikmati waktu dengan liburan di Villa bogor. Divine bukan hanya mengabulkan permintaan Satria melihat ikan. Ia juga mengajak istri dan anaknya keliling kebun teh dan mengunjungi wisata-wisata terdekat. Udara sejuk Bogor nyatanya mampu membuat fresh fikiran Divine dan Elen. Mengalihkan sebentar otak mereka dari penatnya urusan kantor.
Setelah puas berlibur, mereka akhirnya pulang ke Jakarta. Namun, tujuan mereka kali ini adalah rumah kedua orang tua Divine. Sebab sejak menikah, Elen dan Satria sama sekali belum ikut kesana. Divine ingin agar sang istri dan anaknya semakin dekat dengan Ayah dan Bundanya.
Di sisi lain, Noah sedang berada di kantor terkejut dengan laporan assistennya. Noah mengutus sang assisten untuk menyelidiki sang kekasih, apapun itu.
"Selain menggoda kembali Divine, bahkan kamu juga tidur dengan beberapa laki-laki. Cassandra, sebenarnya wanita seperti apa yang aku cintai saat ini," gumam Noah merasa sedih dan terpukul.
Selama ini, Noah setia dengan Cassandra meskipun ia mendapatkan wanita itu dengan cara tak baik. Noah jadi berfikir, apakah ini semua adalah karma untuknya?
"Tuan, Tuan William meminta anda pulang!" dengan ragu Asistennya berkata.
"Baiklah, terima kasih atas bantuanmu!" Noah menepuk pelan pundak assistennya lalu keluar ruangan. Sejak keluar dari sel, ia memang tak lagi diercaya memegang urusan kantor. Kedatangannya hanya untuk meminta bantuan sang Asisten menyelidiki Cassandra, sementara urusan kantor dihandle kembali oleh papanya.
Noah akhirnya memutuskan menemui Cassandra di rumahnya. Ia berniat bicara baik-baik pada Papa dan Mamanya Cassandra.
"Maaf Tante, kedatangan saya kemari karena ingin menjelaskan sekaligus memberitahu kalau saya tidak bisa melanjutkan hubungan saya dengan Cassandra lagi."
Mama Cassandra hanya mengangguk tanpa sepatah kata.
"Saya minta maaf, atas keputusan sepihak keluarga saya. Tapi kesalahan Cassandra sudah fatal, jadi mohon Tante tidak menyalahkan saya dalam hal ini," ujar Noah lagi.
"Ya, sekarang pulanglah!"
__ADS_1
Noah mengangguk, ia pamit. Meskipun tanpa Tian karena ayah Cassandra itu sedang bekerja, akan tetapi Noah bernapas lega karena kedua oranh tua Cassandra benar-benar mengerti posisinya.