AYAH SAMBUNG

AYAH SAMBUNG
Bab 44 - MENCURI CIUM


__ADS_3

Enam bulan kemudian.


Matahari pagi masih memalu, suara dekuran halus sang suami masih terdengar jelas di telinga Elen saat membuka mata. Ditatapnya wajah teduh Divine yang terlelap sebelum ia benar-benar turun untuk menjalankan aktivitas paginya menyiapkan keperluan meja makan bersama simbok.


"Euhhh... Pagi suami tampanku!" Elen tersenyum mendekatkan wajahnya di depan wajah Divine lalu mencuri cium sekilas di bibir warna pink kecoklatan itu dan segera melarikan diri.


Namun, sesuatu mencekal pergelangan tangannya dengan segera. Elen menoleh dan mendapati Divine sudah membuka matanya lebar.


"Mau kemana, hm? Setelah menciumku tidakkah mau bertanggung jawab?" goda Divine tersenyum devil.


"Sayang, kamu lihat kan perutku..." Elen nyengir kuda, berharap Divine melepaskannya dan membiarkan ia turun menyiapkan sarapan bersama simbok.


"Justru karena itu sayang, papanya ini benar-benar merindukan putri kecil kita di dalam. Aku mau menengoknya sebentar, boleh ya?" bujuk Divine.


Elen pun menjadi tak tega, sebab dikehamilannya yang sudah tri semester ketiga ini sang suami sering kali berpuasa karena perutnya yang kian membesar.


"Ehm tapi sudah waktunya Satria sekolah, aku harus menyiapkan segala keperluan paginya."


"Ini masih terlalu pagi. Mama nggak akan marah kalau salah satu murid teladan di yayasannya sedikit terlambat," mohon Divine.


Elen bedecak, akan tetapi sama sekali tak menolak pergerakan Divine. Ia membiarkan suaminya itu melakukan apapun. Dan tugas Elen hanya perlu melayani dengan senang hati.


Pergulatan panas pun dimulai. Divine membiarkan Elen yang mendominasi permainan mengingat wanita itu lebih berpengalaman. Satu jam lebih akhirnya mereka berdua keluar kamar dengan tubuh lebih segar dan rambut sama-sama basah.


Karena untuk mengeringkannya mereka tak sempat takut Satria menunggu terlalu lama.


Mereka kompak menuju kamar Satria, bocah itu sudah selesai mandi dari tadi bahkan sudah memakai seragam Sekolah Dasar.


"Pagi jagoan," sapa Divine masuk lebih dulu.


"Pagi Ayah," balas Satria tersenyum.


"Mau sekolah hari ini, biar Ayah antar! Hm, sudah cakep gini kamu boy pake seragam Sekolah Dasar."


Pujian Divine nyatanya semakin menambah semangat belajar Satria. Sang Ayah sambung bukan hanya menerimanya dengan baik, tapi juga memperlakukan Satria layaknya darah daging sendiri.


Satu bulan setelah menikah, Divine memutuskan untuk membeli rumah sendiri. Rumah yang saat ini mereka tempati, rumah yang memberikan kenyamanan lahir batin untuk Elen dan Satria. Kedua orang tuanya pun sama sekali tak keberatan dengan keputusan Divine. Bagi mereka, yang paling utama adalah kebahagiaan anak-anak dan cucu.


"Aku kira kamu bakal nyuruh Satria bolos lagi." Elen berdiri diambang pintu, sejurus kemudian menghampiri Satria dan mencium keningnya.


"Ya gak boleh gitu dong! Aku gak mau kasih dia contoh yang tidak baik, harus rajin ke Sekolah meski jarang belajar." Divine tersenyum.


"Ck! Astaga diakah suamiku? Bibirnya pintar sekali,"gerutu Elen dan Divine hanya terkekeh dengan ekspresi sang istri yang menurutnya lucu jika sedang kesal.


Namun, meski kesal dalam hati Elen kembali dibuat tersenyum saat Divine membantu menyiapkan segala keperluan Satria. Di mata Elen, laki-laki itu selalu mempesona ketika melakoni perannya sebagai ayah.

__ADS_1


"Hm, apa yang kurang ya? Kayaknya udah cakep! Toss dulu dong sama Ayah!"


"Oke Ayah, terima kasih."


Setelah ber-toss ria, Divine menggandeng Satria keluar kamar.


"Makasih ya, sayang!" bisik Elen.


"Hm, jangan lupa nanti malam jatahku lagi," bisik Divine tersenyum devil membuat Elen cemberut seketika. Akhir-akhir ini, ia sudah mulai lelah. Mengerjakan pekerjaan rumah pun sebagian mengandalkan simbok yang notabenenya hanya bertugas bebersih dan masak.


Sementara untuk urusan kamar, Elen melakukannya sendiri, sudah menjadi peraturan semenjak menikah kalau urusan kamar hanya akan ia kerjakan sendiri atau atas bantuan Divine.


Beruntung, Sang putra sekarang sudah mandiri dalam hal-hal kecil seperti mandi, makan, menyiapkan buku pelajaran, dan lain sebagainya.


"Mbok, tolong nanti bilang Mang Asep untuk jemput Satria ya? Soalnya setelah mengantar Satria, kami akan langsung ke rumah sakit," pesan Elen lalu beralih menatap putranya.


"Kamu gak apa-apa kan sayang kalau dijemput Mang Asep? Ayah sama Momy mau ke rumah sakit periksa?"


"Gak papa, Mom, Ayah!"


"Oh oke anak pintar," puji Divine mengusap lembut pucuk kepala Satria.


Anal kecil itu terdiam beberapa saat mendapati perlakuan lembut Ayahnya.


Bagi Satria, Divine adalah sosok hero terbaik di hatinya. Meskipun Bram adalah ayah kandungnya tapi ia justru lebih lengket dengan Divine mengingat dari awal bertemu dengan Ayah sambungnya, Satria tak pernah mendapat perlakuan buruk sama sekali.


"Dah sayang." Elen dan Divine kompak melambaikan tangannya saat Satria memasuki gerbang sekolah.


"Dah, Mom! Ayah."


***


"Bayinya sehat, perkembangannya sangat bagus! Tinggal menunggu hari perkiraan lahir tiba, Ibu harus tetap dalam kondisi stabil," ujar Dokter.


Divine menatap haru layar USG yang menampilkan bayinya. Ada rasa bangga menyeruak mengingat sekarang ia akan menjadi sosok ayah. Ayah yang sempurna!


"Makasih sayang, kamu bukan hanya menjadikanku ayah yang baik untuk Satria. Tapi kamu juga memberikanku satu lagi malaikat kecil yang sebentar lagi akan hadir mewarnai hari-hari kita. Aku semakin tak sabar, semoga saat hari itu tiba kita bisa melewatinya sama-sama," ujar Divine mencium punggung tangan sang istri dengan lembut.


"Sama-sama, Ayah Div!" Elen tersenyum manis, melihat wajah haru Divine cukup membuat bunga-bunga dalam hatinya bermekaran. Tak dapat Elen pungkiri kalau laki-laki itu sudah menguasai seluruh hatinya yang sempat koyak. Divine hadir bukan hanya sekedar menyambungkan puing-puing patah hatinya yang berserakan tapi juga menyembuhkan setiap goresan-goresannya hingga sembuh sempurna.


"Ini resep obat dan vitaminnya, semoga Ibu Elen sehat selalu." Dokter itu tersenyum manis, ia senang melihat interaksi pasiennya satu ini karena lain dari yang lain.


Siapa yang tak tahu Divine Wijaya, pengusaha kelas atas itu nyatanya jauh berbeda dari rumor yang tersebar sebelum menikah.


Divine yang terkenal dingin pada semua wanita setelah dikhianati mantan kekasihnya. Namun, dokter itu melihat sendiri bagaimana sosok Divine itu bersikap sangat hangat terhadap sang istri.

__ADS_1


"Makasih banyak, Dok!"


"Sama-sama, hati-hati Bu Elen, Pak Divine!"


Elen dan Divine mengangguk, mereka keluar dari ruang pemeriksaan kemudian menebus resep di bagian obat.


Selesai periksa, Elen sempat ikut Divine sebentar ke kantor.


"Sebentar ya sayang, aku cuma mau lihat Rafael!"


"Iya, Div! Aku tuh kadang heran sama Rafael, kenapa coba nggak nikah-nikah! Kasian Keyra kalau nungguin dia kelamaan."


Divine hanya tersenyum masam mendengar gerutuan sang istri. Elen tak tahu, jikalau suaminya itu yang membujuk Rafael untuk menunda paling tidak sampai Elen melahirkan.


Sesampainya di kantor, Divine meminta Elen duduk menunggu di ruangannya sementara ia akan menemui Rafael.


Brak!


Tanpa mengetuk pintu Divine masuk, dua insan yang berada di dalam sontak terkejut dan hampir tersedak.


Makhlum saja, saat ini Keyra sedang makan siang bersama Rafael. Bahkan gadis itu sedang menyuapi sang kekasih yang kelewat manja.


"Boss lain kali ketuk pintu dulu minimal kalau mau masuk, untung pas Keyra cuma nyuapin aku," gerutu Rafael merasa terganggu dengan kehadiran Divine yang tidak tepat pada waktunya.


"Lagian kamu ini, manja banget! Masa makan siang cewek yang nyuapin." Divine membalas Rafael dengan omelan yang tak kalah sengit.


"Harusnya Keyra yang kamu suapin kan dia udah capek-capek datang! Panas-panas demi bawain kamu makan siang."


Keyra hanya terkekeh mendengar petuah Divine, berbeda dengan Rafael yang langsung berekspresi masam dan melempar pulpen ke arah Divine.


"Kan aku manja juga karena capek cari nafkah buat dia," bela Rafael.


"Hm, ngeles terus!" cibir Divine.


"Dahlah gak papa, Div! Sesekali. Kasian dia stress karena kerjaan yang gak ada habisnya, aku sendiri kok yang berinisiatif nyuapin dia. Ya kan, El?"


"Tuh, dengerin biniku ngomong!" ucap Rafael tersenyum mengejek.


Divine memutar bola matanya malas lalu menghempas tubuhnya ke sofa.


"Kalian jangan ada yang kasih tahu Elen."


"Aman deh, lagian kita juga gak tega!"


"Pokoknya ini rahasia kita, jangan sampai Elen tahu!" ujar Divine.

__ADS_1


"Rahasia apa? Sampai aku gak boleh tahu?" tanya Elen tiba-tiba hingga berhasil membuat ketiganya menoleh syok.


__ADS_2