
"Kita mau kemana, Div?" tanya Elen. Menoleh ke belakang, sang putra justru menatapnya dengan senyum tersungging.
"Kemana saja, asal Satria senang!"
"Gak pasti banget," gerutu Elen.
Divine hanya menanggapi dengan kekehan kecil, lalu melirik ke arah Satria.
"Satria jadi mau mancing?" tanya Divine.
"Kok mancing, Yah? Kan kasih makan ikan. Kasian ikannya kalau di pancing!"
Divine semakin terkekeh mendengar jawaban Satria.
"Kayaknya agak jauh deh sayang, kita nginep!" ujar Divine.
Ia tahu tempat seperti apa yang diinginkan Satria, tapi bukan berada di Jakarta, melainkan Bogor.
Ada villa milik keluarganya yang nyaman untuk berlibur. Selain villa yang nyaman disana juga dekat dengan sungai. Jika Satria ingin naik perahu maka Divine bisa mengabulkannya disana.
"Kemana?" tanya Elen.
"Bogor, sayang! Jakarta mah ada pun gak seasri yang disana. Mau tinggal beberapa hari? Aku jamin kamu dan Satria bakalan betah disana." Divine mengedipkan matanya.
"Tapi kita harus ngantor dan Satria..." Elen seolah keberatan meski dalam hatinya sangat mau. Ia belum pernah kemanapun setelah menikah. Jangankan Bogor? Menyenangkan hati Satria pun hanya ia ajak keliling taman kota atau pasar malam.
"Kalian mau dulu nggak? Sisanya biar aku yang urus. Lagian mereka pasti ngerti," ujar Divine meyakinkan.
Elen lupa, jikalau sang suami adalah CEO perusahaan yang bisa melakukan apapun.
"Oke, baiklah!"
Sebelum melanjutkan ke Bogor, Divine sempat mengajak Elen dan Satria membeli beberapa pakaian ganti. Meski Elen keberatan karena lagi-lagi Divine menghabiskan uang banyak untuk ia dan Satria.
Padahal jika difikirkan, mereka bisa pulang lagi lebih dulu untuk mengambil pakaian.
***
Setelah dua jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di bogor. Suasana pegunungan yang asri dengan udara sejuk membuat Elen tersenyum melihat keluar jendela. Hingga mobil mereka memasuki sebuah gerbang dimana ada bagunan megah dua lantai. Bagunan yang lebih mirip rumah menurut Elen, tapi itu adalah villa. Dimana selalu menjadi tempat favorit Divine saat melepas penat.
"Ayah ini di desa ya?" tanya Satria.
"Iya sayang, desa yang sangat indah. Kamu sama Momy pasti suka," ujar Divine.
Elen hanya tersenyum mengiyakan. Yang dibilang Divine memang benar adanya, suasana seperti ini sangat Elen suka.
Kedatangan mereka disambut hangat penjaga villa. Namun, wanita paruh baya bernama Mbok Nah itu terkejut melihat Tuannya datang dengan wanita bahkan anak laki-laki.
"Tuan, silahkan!"
"Mbok siapin dua kamar ya?" pinta Divine.
"Siap Tuan." tanpa banyak tanya, dengan segera Mbok Nah ke atas menyiapkan kamar. Sementara Divine, Elen dan Satria melihat-lihat ke sekitaran villa.
"Kamu sering kesini?" pertanyaan konyol terlontar begitu saja.
"Hm beberapa kali, kamu suka?"
"Suka, hanya sayang sekali tempat semewah ini tidak ditinggali."
__ADS_1
"Ayah itukah kolam ikannya?" tanya Satria saat melihat ke belakang villa. Disana ada kolam jernih. Beberapa ikan nampak membuat Satria semakin bersemangat.
"Kamu suka? Kalau iya, Ayah dan Momy akan sering mengajakmu kesini!"
"Div..." cemberut Elen saat laki-laki itu lebih dulu menjawab pertanyaan Satria dibanding dirinya.
"Astaga, kenapa aku ini. Dia kan hanya menjawab pertanyaan Satria lebih dulu," batin Elen.
"Ah iya sayang, maaf aku terlalu bersemangat sampai tak menjawab pertanyaanmu!"
"Hya, tak masalah."
Mbok Nah menghampiri mereka, "Tuan, kamarnya sudah siap!"
Divine mengangguk, lalu menghampiri Satria. Sementara Elen merasa kikuk karena Mbok Nah terus memperhatikannya.
"Mbok, saya lihat tadi Mbok memperhatikan saya terus? Kenapa ya?"
"Ah itu, Nyonya! Hanya masih tak menyangka Tuan akan menikah dengan wanita lain."
Deg.
"Maksudnya, Mbok?"
"Maksudnya, kan dulu Tuan sering nginep disini sama Non Cassandra!"
"Cassandra?" batin Elen.
"Tapi itu dulu, Nyonya! Sekarang Tuan sudah menemukan kebahagiaannya," ujar Mbok Nah merasa bersalah terlebih saat melihat raut wajah Elen berubah kusut.
"Saya hanya tanya Mbok, semua orang punya masalalu. Saya pun pernah menikah sebelumnya," ujar Elen apa adanya.
Mbok Nah seperti ingin mengatakan sesuatu akan tetapi urung. Wanita paruh baya itu memilih pamit undur masuk ke dalam untuk melanjutkan pekerjaannya.
Elen menghela napas, kenapa sekarang ia gampang sekali uring-uringan hanya karena perkataan orang.
Divine terlihat polos tapi pernah membawa Cassandra menginap disini.
Elen melangkahkan kaki mendekati suami dan putranya. Melihat Divine sangat dekat dengan Satria membuat kekesalan di hatinya memudar. Laki-laki itu sedang memberi makan ikan-ikan.
"Istirahat dulu," ajak Divine. Mereka masuk ke dalam villa dan langsung menuju lantai atas.
"Kita satu kamar bertiga?" tanya Elen.
"Iya, kasian Satria kalau sendiri!"
Elen mengernyitkan dahinya bingung. Melihat Satria masih berada di dalam kamar mandi membuatnya heran.
"Terus kenapa nyiapin dua kamar?" cerca Elen.
"Karena yang satu, buat kita ehm itu..."
"Itu apa?"
"Ibadah sayang," ujar Divine mengedipkan matanya.
***
Malam merangkak naik, setelah makan malam Divine, Elen dan Satria istirahat di kamar.
__ADS_1
"Mom, aku tidur yah. Ngantuk!"
"Ya sayang, tidur aja lebih dulu. Mau Momy pijitin?" tawar Elen.
"Mau cerita!" pinta Satria menatap Divine dan Elen bergantian.
Mereka pun akhirnya menidurkan Satria bersama. Divine membaca cerita sambil mengusap-usap kepala bocah itu sementara Elen memijat kaki Satria sebab bocah itu pasti lelah oleh perjalanan.
"Have a nice dream, sayang!" Divine mencium kening Satria.
Sementara Elen justru memperhatikan keduanya.
"Kenapa wahai Ibu? Apa kamu mau dibacakan cerita lalu dicium keningmu sebelum tidur, sayang?" Divine mengedipkan matanya, ia mulai pintar menggoda sang Istri.
"Tidak, hanya saja..."
Divine bangkit, mengusap bahu lembut Elen sebelum akhirnya dengan sigap menggendongnya ala bridal style.
"Ayo kita buat cerita malam ini," bisiknya.
Divine menggendong Elen ke kamar sebelah. Dengan tak sabar mencium bibir sang istri yang mulai menjadi candu baginya.
"Bibir ini candu banget sayang," ujar Divine.
"Ck! Bohong, jangan-jangan setiap wanita yang pernah kamu cium seperti itu?"
"Tidak ada!" singkat Divine.
"Bohong!"
"Kamu ini kenapa, hm?" Divine menatap lekat sang istri merasa sikap Elen aneh sejak datang ke villa.
"Kamu sering menginap dengan Cassandra disini?" tanya Elen.
"Kamu bilang, kamu..." Elen terdiam, melihat wajah sendu Divine membuat bibirnya terkunci rapat.
"Apa kamu tak mempercayaiku?" tanya Divine yang sudah menghentikan aktivitasnya karena pertanyaan Elen benar-benar mengusik, menyentil kembali luka yang susah payah ia tutup dan berusaha sembuhkan.
Divine bangkit, ia berjalan ke arah balkon. Mau tak mau Elen menyusulnya, karena khawatir dengan sang suami yang mendadak jadi dingin.
"Kenapa? Aku hanya bertanya?" Elen melingkarkan tangannya, memeluk Divine dari belakang.
"Aku tidak pernah melakukan apapun dengan Cassandra. Tidak pernah! Karena bagiku wanita itu untuk dijaga kehormatannya bukan dirusak. Sekalipun aku ingin, aku tak pernah melakukannya. Tapi yang terjadi..." Divine menjeda ucapannya menghela napas panjang seperti menahan sesuatu.
"Jujur saja! Bukankah suami istri ditakdirkan bukan hanya sebagai sepasang kekasih, tapi juga teman?"
"Yang terjadi dia malah tidur dengan sepupuku!"
Deg.
Elen terdiam, membayangkan di posisi Divine membuatnya ikut merasakan kepedihan itu. Selama ini, meskipun Bram selalu kasar padanya, tapi mantan suaminya itu tak pernah sekalipun mengkhianati pernikahan mereka. Bram selalu setia, meski hubungan pernikahan mereka terlalu toxic.
"Sayang, dengarkan aku! Sekarang, kita sudah memulainya lagi bukan? Jadi lupakan masalalu, aku janji akan setia sama kamu. Hanya sama kamu, Div! Tidak ada orang lain yang akan memisahkan kita,"ujar Elen.
Divine melepas pelukan, lalu membalikkan badan dan merengkuh pinggang sang istri. Ciuman hangat pun dimulai dengan tak sabar.
Membopong tubuh sang istri ke atas ranjang. Divine memulai ritualnya meng gagahi sang istri.
Malam panjang Elen dan Divine bersama lengu han pun terjadi. Hingga keduanya terkapar. Tak hanya sekali, beberapa kali Divine lakukan karena Elen benar-benar membuatnya candu untuk lagi dan lagi. Beruntung, subuh tiba mereka langsung bangun dan membersihkan diri.
__ADS_1