
Seharian bermain di rumah Divine dan Elen untuk bertemu Alina membuat Keyra dan Rafael puas sekaligus senang. Namun, ada hal yang membuat sepasang kekasih itu mendadak sedih karena tanggal pernikahannya yang sama dengan Noah. Otomatis, boss sekaligus sahabatnya itu akan lebih memilih hadir di acara pernikahan mewah sepupunya ketimbang menemani Keyra dan Rafael mengikrarkan cinta secara sederhana.
"Kok kita nggak tahu sih kalau barengan? Ini kita yang mendadak apa gimana perasaan nyari tanggal juga setelah HPL-nya Elen." Keyra memasang wajah murungnya, niat memberitahu Elen perihal pernikahannya dengan Rafael pupus karena tanpa sengaja membaca undangan milik Noah yang tenggorok di atas meja ruang tamu Divine.
"Udahlah gak apa-apa, kita tetep kabarin! Setidaknya kalau Divine dan Elen gak dateng kan kita udah kasih tahu sebelumnya, gimana?" tanya Rafael.
"Iya sih, yaudah aku coba telpon Elen kalau gitu."
"Jangan, Yang! Besok sore aja kita ke rumahnya sambil bawain kado lagi buat Alina."
Keyra mengangguk setuju, meski Rafael sibuk kerja akan tetapi pria itu selalu meluangkan waktu untuk menemani Keyra mempersiapkan semuanya.
"Tinggal apa lagi?" tanya Rafael. Ia memperhatikan Keyra yang sedang mencatat sesuatu. Saat Rafael melihat, rupanya sang kekasih tengah mencatat siapa saja tamu undangan, dan memperhitungkan semuanya.
***
Sore setelah pulang kerja, Rafael menjemput Keyra lebih dulu di toko kue. Mereka mampir ke mall membeli beberapa hadiah untuk Alina.
"Yang, uang kamu kok banyak? Perasaan belanja terus?" tanya Keyra dengan polosnya.
"Banyak, kelak kamu yang akan pegang semuanya! Ini uang hasil jual info," ujar Rafael dengan bangga.
"Jual info?" tanya Keyra tak mengerti.
"Hm, dan kamu harus bangga dengan keahlianku satu ini," bisik Rafael menggandeng tangan Keyra sebelum mereka masuk ke dalam gerai perlengkapan bayi.
Setelah membeli beberapa hadiah, Rafael juga mengajak Keyra membeli beberapa makanan untuk dibawa ke rumah Divine. Ada martabak manis, martabak telur, pizza juga burger untuk Satria. Dengan bangga Rafael menenteng makanan itu sementara paperbag hadiah dibawa sang kekasih.
Butuh setengah jam dari mall untuk sampai ke kediaman Divine mengingat sore hari jalanan kota sering kali macet karena bertepatan jam pulang kantor juga beberapa perusahaan industri.
***
"Kalian?" Elen membuka pintu bersorak girang melihat Rafael dan Keyra berkunjung.
"Haii, Elen! Aku kangen," ujar Keyra selalu heboh ketika bersama sahabat satunya ini.
"Aku juga, ayo masuk!" perintah Elen merangkul bahu Keyra. Rafael merasa diabaikan, dengan cemberut mengikuti Elen dan Keyra jalan ke ruang tamu.
"Kita bawa makanan, sama hadiah buat Alina."
__ADS_1
"Ya ampun, kalian ini kok repot-repot! Om, kemarin kan Alina udah dibawain hadiah, kok dibawain lagi," ujar Elen.
"Itu kan kemarin, lagian rezeki datangnya tiap hari. Gak papa, cuma hadiah kecil buat Alina, mumpung ada uang!" Rafael berujar bijak sambil menatap sekeliling mencari keberadaan Alina.
"Tapi kan, hadiah-hadiah Alina belum sempat kita unboxing!"
"Gak apa-apa, Len! Alina mana? Ini ada yang kangen sama bayi gemoy-mu!"
Menyadari hal itu, Elen langsung pamit dan naik ke lantai atas. Divine sedang bersama Alina di kamar sementara Elen tadi berniat membantu simbok memasak di dapur menjadi urung karena kehadiran Rafael dan Keyra.
"Silahkan Mba, minumnya!" Simbok meletakkan nampan ke atas meja berisi empat gelas orange jus.
"Makasih, Mbok! Oh ya, tolong ini disiapin. Dan yang ini buat simbok," ujar Keyra tak lupa membelikan makanan untuk Art setia Elen.
"Ya ampun, makasih banyak Mbak Keyra!"
Tak berselang lama, Divine turun sembari menggendong baby Al juga Satria di sampingnya. Pria itu bahkan sudah mahir mengurus Alina meski tak memiliki pengalaman sebelumnya. Bagi Divine, diberikan anugrah menjadi Ayah Satria sudah cukup membuatnya bahagia, ditambah hadirnya Alina, kebahagiaannya bertambah kali-kali lipat.
"Biar aku gendong sayang," Ujar Elen mengambil alih Alina setelah mereka sampai di lantai bawah. Divine duduk di samping Rafael sebab Keyra sudah pasti ingin bermanja-manja dengan Elen dan Alina.
"Ini kok tumben kalian?" tanya Elen. Terlebih baru kemarin mereka main ke rumah dan sekarang di hari sibuk, bahkan Rafael masih mengenakan jass kerjanya mereka malah menyempatkan mampir.
"Ini kalian yang bawa?" tanya Divine tak percaya melihat simbok menghidangkan banyak makanan di meja ruang tamu sebagai camilan.
"Kami akan menikah, dan harinya barengan sama Noah!" sambung Rafael lebih tegas. Ia paham kalau sang kekasih sedikit tak enak berkata jujur, tapi bukankah hal itu lebih baik ketimbang Divine dan Elen tak tahu?
"Kami pasti akan datang, Elen akan menemanimu seperti saat kamu menemani Elen. Pun juga dengan Rafael, aku tahu apa yang ada di pikiran kalian!" Ujar Divine.
"Tapi..." Keyra seperti ingin mengatakan sesuatu akan tetapi urung saat Divine mengibaskan tangannya.
"Sudahlah, jangan terlalu banyak pikiran. Kalian cukup mempersiapkan diri. Kami akan pasti akan datang," tegas Divine.
Elen hanya menghela napas kasar melihat keputusan suaminya. Namun, meski begitu bukanlah salah Divine jika memilih datang ke pernikahan Rafael ketimbang Sepupunya.
Meski kakek Divine tak lagi semenyebalkan dulu, tetap saja! Seorang cucu menginginkan sang kakek bisa bersikap adil. Divine memang bukan lagi anak kecil, tapi jika dibeda-bedakan dengan Noah itu sungguh mengganggu.
Rafael dan Keyra menikmati momen di rumah Divine dan Elen dengan bertukar cerita. Bahkan sepasang calon pengantin itu menginap disana demi momen terakhir sebelum sibuk mengurus pernikahan.
***
__ADS_1
"Sayang, gimana? Aku cantik nggak?" Elen memutar tubuhnya, memperlihatkan gaun yang membalut tubuhnya yang kini semakin gemoy semenjak kehadiran Alina.
Divine tersenyum, mendekat ke arah Elen yang sedang mematut diri di depan cermin. Alina dan Satria sudah bersiap dan kini mereka bertiga tengah menunggu Elen yang mungkin akan lebih lama selesai bermake-up.
"Momy-nya anak-anak selalu cantik, udah ah! Nanti kamu dilirik cowok lain." Divine menatap lekat sang istri.
"Ya ampun, melar gini siapa yang mau, Div! Kamu itu ada-ada aja, jangan terlalu cemburu ih. Istri kamu ini nggak akan ada yang melirik."
"Gak papa, melar juga gak akan ngurangin kadar cinta aku, sayang!" Divine menggenggam tangan Elen lalu meletakkannya di dada. Meski sudah memiliki Satria dan Alina, hal itu tak mengurangi sikap romantis Divine. Pria galak itu sudah berubah menjadi pria yang lembut, penyayang dan sangat romantis dalam hal-hal kecil.
Mereka pun berangkat, dengan menggendong Alina, Elen menghampiri Keyra di ruang ganti. Sahabat baiknya itu terlihat sangat cantik dengan balutan kebaya putih. Rambut disanggul, dengan dihiasi siger sunda.
"Aku nggak terlambat kan?" tanya Elen.
Keyra tersenyum haru, Elen memilih menghadiri pesta kecilnya bahkan mereka hadir sepagi ini. Ingin rasanya Keyra menangis dan menghambur memeluk Elen akan tetapi ia harus menahan hal itu. Keyra hanya mampu meremas tangan Elen karena gugup.
Elen pun menemani Keyra berjalan keluar.
Acara demi acara pun dimulai. Dengan tegas Rafael mengucapkan ikrar cinta di hadapan penghulu juga abang Keyra sebagai wali.
Teriakan sah dan sorak sorai bahagia menjadi penanda bahwa kini Rafael dan Keyra resmi menjadi sepasang suami istri. Ucapan demi ucapan serta doa terlantun untuk pengantin baru itu. Keyra tersenyum lega, akhirnya ia akan memulai hidup barunya! Bukan lagi sebagai kekasih tetapi juga istri dan calon ibu dari anak-anak Rafael Pramudya kelak.
"Selamat, akhirnya on the way tembak dalam," ujar Divine menggoda sahabatnya.
"Sialan!" maki Rafael akan tetapi dengan bibir tersenyum lebar.
"Selamat Key Key sayang, on the way bikin adek buat Alina," Ucap Elen mencium pipi kanan kiri Keyra.
"Wah, Alina mau dibuatin adek baru ya." Divine berceloteh pada Alina yang berada dalam gendongannya. Seketika semua terkekeh.
"Om dan Tante jadi pengantin ya?" tanya Satria.
"Iya sayang," ujar Keyra mengusap kepala Satria. Bocah itu sibuk menikmati es krim hingga terlambat memberikan selamat pada Keyra dan Rafael.
"Selamat, berarti aku akan punya adik bayi lagi?" tanyanya polos, seketika mereka tergelak gemas.
"Astaga, boy! Kamu menggemaskan sekali," puji Rafael melihat Satria mengenalkan jass versi kecil. Meski masih tujuh tahun, Satria memiliki wajah dan pesona luar biasa turunan Elen.
"Namanya juga calon CEO," ujar Divine diiringi tawa.
__ADS_1
"Wah wah, masa depan kamu cerah sayang!" Rafael mengusap kepala Satria.
Puas berbincang, Divine mengajak keluarga kecilnya menikmati pesta. Sementara Rafael dan Keyra bergabung dengan Abang dan Mama Idha untuk menyambut para tamu.