
Butuh dua hari bagi Elen untuk menjalani pemulihan di rumah sakit. Tubuhnya jauh lebih sehat dan segar. Hanya saja, bentuk tubuh masih belum bisa kembali seperti sebelumnya, wanita pasca melahirkan memang begitu. Namun, Divine selalu memberikan support terbaik untuk sang istri dengan terus mendampinginya merawat Alina.
Hari ini, Elen sudah boleh pulang. Tentu saja hal itu menjadi kabar bahagia keluarga Wijaya dan Shain. Keluarga besar menyambut suka cita kelahiran Alina. Bahkan sebagian dari mereka tak sabar bertemu dan menyiapkan penyambutan di rumah Divine dan Elen.
"Semua idenya Mama dan Bundamu. Jadi Ayah cuma bisa nurutin agar mereka seneng! Lagian Div, kayaknya seru kalau kita semua kumpul gini," ujar Wijaya tak kalah semangat.
"Iya, Ayah! Seru, tapi kenapa Om William, Noah, Tante dan kakek nggak ikut? Apa Ayah tak mengabari mereka?" tanya Divine terlebih melihat kekompakan keluarga Elen menyambut membuat Divine seketika teringat kakek juga adik ayahnya.
"Noah hari ini lamaran, jadi mereka nggak ikut. Tadinya Ayah juga berencana ikut mereka tapi ternyata hari ini Elen sudah boleh pulang," terang Wijaya.
Divine pun memakhlumi keluarganya. Ia tak ingin lagi mempermasalahkan hal kecil yang akan memicu keretakan sebuah keluarga.
Meski jujur dalam hati Divine ingin sekali saja mendapat perhatian sang kakek. Namun, agaknya hal itu sia-sia saja karena sang kakek selalu tak pernah melihatnya sebagai cucu.
Divine kembali menghampiri sang istri yang duduk di ruang tamu bersama keluarganya. Dalam sekejap bayi Alina sudah menjadi pusat perhatian orang-orang termasuk putra sulungnya, Satria.
Satria yang paling antusias, ia bahkan mulai belajar membantu Elen dari hal-hal kecil seperti menjaga Alina sebentar menggantikan sang Momy.
***
Tepat satu minggu usia Alina, Divine dan Elen marayakannya dengan mengumumkan nama panjang Alina serta memberikan bingkisan-bingkisan kepada para sanak saudara juga tetangga serta para rekan bisnis terdekat Divine.
Selesai acara, Morena dan Wijaya pamit pulang, pun juga dengan Ratna dan sang suami sejak Elen dirawat sampai pulang mereka menginap di rumah Divine.
Alina Zoya Evelyne. Nama cantik pemberian Satria, Elen dan Divine. Nama Alina adalah nama pemberian Satria, sementara nama Zoya adalah nama impian Elen saat memiliki bayi perempuan sedangkan Evelyne bisa diartikan gabungan dari Elen dan Divine.
Rumah kembali sepi, akan tetapi hal itu tak mengurangi kebahagiaan Divine, Elen dan Satria. Saat ini mereka tengah menikmati momen malam minggu dengan menonton bioskop mini di ruang keluarga sebab Alina masih terjaga setelah satu jam yang lalu terlelap cukup lama.
Bunyi ketukan pintu terdengar, Divine yang tengah menemani istri dan anak-anaknya di ruang keluarga pun mengernyitkan dahinya.
"Mbok tolong bukain pintu," pinta Divine.
"Baik, Tuan!"
__ADS_1
Simbok berlalu menuju pintu utama, saat pintu behasil dibuka simbok pun terkejut melihat keluarga orang tua Divine.
"Tuan, ada Kakek Tuan di depan bersama Tuan William dan istrinya." Simbok yang hafal pun menyebutkan nama siapa yang bertamu.
"Oke mbok, tolong buatin minum dan camilan."
"Baik, Tuan!"
"Kek, Om, Tante! Silahkan duduk," ujar Divine.
"Gimana kabar kamu?" tanya Kakek Djaja basa basi.
"Baik, Kakek sendiri?"
Djaja kembali terdiam, ia malah menyerahkan undangan pernikahan Noah dan kekasihnya. Bahkan sang kakek tak menanyakan keadaan cucu buyutnya.
"Noah akan menikah, kamu dan Elen datang ya, Div? Akhirnya setelah melewati banyak hal, Noah akhirnya menikah juga," Ujar William dengan ekspresi lega.
"Hm, baguslah." Divine berujar singkat sebagai respon, ia sungguh miris melihat kakeknya datang akan tetapi sama sekali tak menanyakan perihal Alina.
"Ini undangannya, kamu harus datang ya, Noah pasti seneng kalau kamu datang, maafin kesalahan Noah yang dulu-dulu ya! Om baru tahu kalau kalian..."
"Itu hanya masalalu, Om!" potong Divine.
"Sudah malam, aku mau menemani Alina tidur! Aku pikir kakek, Om, dan Tante kesini untuk Alina! Gak taunya hanya demi secarik kertas yang bisa dengan mudah diantar kurir!" ketus Divine menahan kekesalannya.
"Sudah malam, Div! Lagian Alina-mu masih terlalu kecil, dia nggak akan ngerti," ujar sang kakek.
"Hm, Alina memang masih terlalu kecil. Tapi kakek sudah tua," ketus Divine. Ia tak ingin lagi menutupi kekesalannya pada Djaja. Pria tua itu masih selalu pilih kasih meski tak separah dulu.
Mereka akhirnya pamit pulang, dengan segala kekesalan, Divine mempersilahkan. Bahkan Divine langsung membuka kembali pintu rumah utama lebar-lebar agar lebih mudah mereka keluar.
"Div, siapa yang dateng. Maaf aku nggak keluar karena Alina minum susu," ujar Elen.
__ADS_1
"Kakek," ujar Divine dengan lesu. "Alina mana sayang?"
"Sama Satria, udah tidur Alinanya! Aku capek banget, Div! Padahal nggak ngapa-ngapain. Cuma beberes sama jagain Alina." Elen mengerucutkan bibirnya.
"Kakek? Kok nggak manggil tadi kalau kakek dateng?" tanya Elen.
Divine malah memeluk bahu Elen, "nggak penting! Ayo istirahat aja," ajak Divine. Moodnya benar-benar dirusak oleh kakek dan orang tua Noah yang hanya datang mengantar undangan! Divine pikir, mereka datang karena belum melihat Alina sejak bayi cantiknya itu terlahir.
***
Di sisi lain, ada Keyra yang bersikeras mengajak Rafael untuk diantar datang ke rumah Elen. Sebab, dua hari yang lalu gadis cantik itu terjatuh dari motor hingga kakinya mengalami lecet-lecet bahkan kuku jempolnya hampir lepas karena membentur pinggiran jalan terlalu keras. Akibatnya, ia dilarang oleh Rafael pergi kemanapun tanpa pengawalan dari sang pacar.
"Kaki kamu masih sakit gini, udahlah! Nunggu sembuh juga Elen dan Divine pasti ngerti kok," ujar Rafael, mengecek-ngecek luka sang pacar.
"Tapi, Fael..."
"Sayang, Kamu nggak tahu betapa repotnya aku! Aku bukan nggak mau nganterin kamu loh, tapi aku masih repot karena sejak Elen melahirkan, Bukan hanya Divine yang cuti, Pak Wijaya ikutan cuti! Aku sibuk ngurus pekerjaan yang gak ada habisnya sedangkan kalau kita kesana sebentar itu nggak enak. Plis ya, tungguin hari minggu biar kakimu sembuh. Kamu nggak mau kan kesakitan pas gendong baby Al?"
Meski menyebalkan, ucapan sang pacar memang benar adanya. Jika dalam keadaan seperti ini otomatis ia bukan menjenguk Alina tapi malah merepotkan mereka sekeluarga.
Rafael melihat jam, sudah larut dan ia harus pulang. Lepas kantor, ia mengujungi Keyra karena khawatir dengan sang gadis yang sakit. Meski lelah, Rafael tipe orang yang cukup tanggung jawab terhadap Keyra, ia rela tak langsung pulang demi memastikan keadaan Keyra sebab sang pacar tinggal sendiri. Kedua orang tua Keyra sudah meninggal, sementara Abangnya bekerja di luar kota.
Seminggu sudah dan hari minggu yang ditunggu pun tiba, keadaan Keyra jauh lebih baik dari sebelumnya. Lecet-lecetnya sudah mengering meski belum menghilang. Sejak bertunangan, Rafael selalu meluangkan waktunya untuk Keyra, hitung-hitung sebagai pelatihan sebelum mereka menjadi suami istri sah dan tinggal bersama.
"Ayo turun, apa mau ku gendong?" goda Rafael setelah membukakan pintu mobilnya untuk Keyra.
"Bucin teross, pagi-pagi udah ngebucin di depan rumah orang," sindir Divine yang baru selesai lari pagi bersama Satria.
"Om Rafael, Tante!" sapa Satria. Ia tak lagi menyebut Rafael dengan sebutan Daddy pun juga Keyra dengan sebutan momy karena Divine melarangnya.
"Hallo sayang," balas Keyra tersenyum simpul.
"Hallo, Boy! Darimana? Katanya, kamu punya adik baru?" goda Rafael.
__ADS_1
Satria tersenyum sumringah, "iya adikku cantik! Om mau lihat?" Rafael mengangguk, ia menggandeng Keyra dengan tangan satunya menggendong Satria. Bahkan Rafael tak menanggapi ucapan Divine tadi dan memilih langsung masuk mencari Elen dan Alina.