
"Satu-satunya alasan Ibu melakukannya, agar kamu menjadi wanita hebat. Mungkin cara Ibu dan Ayahmu salah, bahkan menyisakan luka di hatimu seumur hidup. Tapi, kamu berhak menjadi bagian keluarga Shain, kamu cucu pertama. Meskipun Alexan memiliki putra, dia bukan orang yang rakus, Elena."
"Terus aku mesti gimana, Bu? Masuk ke keluarga Shain tanpa kalian buat apa?" tanya balik Elen.
"Setidaknya jika calon suamimu orang kaya, kamu punya sesuatu untuk mengimbangi mereka. Percayalah sama Ibu, kami cukup bahagia melihat kamu dan Satria mendapatkan hidup yang layak, tapi dari keluargamu sendiri! Bukan dari laki-laki."
"Saya menerima Elen apa adanya, Bu!" seru Divine yang sedari tadi menyimak pembicaraan mereka di depan.
"Kamu benar! Tapi bagaimana dengan orang tuamu? Keluarga besarmu? Mereka mungkin akan mengolok putriku,"ujar Ratna.
"Ibu benar, aku akan melakukan penawaran dengan Tuan Alexan." Elen tersenyum masam, ingatannya menerawang saat dirinya bertemu Djaja. Jika memang kasta menjadi tolak ukur status sosial, maka ia akan menerima penawaran keluarga Shain.
"Kalian, jagalah diri baik-baik. Aku akan turun disini," ujar Ratna meminta berhenti di ujung jalan menuju rumahnya.
"Bu."
"Tak apa Elen, kapan-kapan kita bertemu lagi," ujar Ratna.
"Hm, iya, Bu! Mas Bram masuk penjara, Bu."
Ratna terdiam, "Ibu akan berkunjung kesana, bagaimanapun dia sudah banyak membantu Ibu dan Ayahmu!"
Elen mengangguk.
Setelah Ratna turun, Elen pindah duduk di depan.
"Apa rencanamu?" tanya Divine, ia sudah cemberut dari tadi sejak Elen membicarakan mantan suaminya.
"Apa lagi, menurutmu? Aku harus bagaimana?"
"Bagaimana? Mungkin kamu harus meminta Tuan Alexan melakukan pengalihan saham. Karena walaupun kamu menjabat sebagai CEO atau apapun itu di Ex Shain, yang berkuasa tetap yang punya saham!"
"Benarkah? Itu artinya aku gak lagi bekerja denganmu?" tanya Elen.
"Mungkin, tapi selama urusanmu dengan keluarga Shain belum menemukan titik terang. Kamu tetap harus bekerja."
Elen mengangguk, meski jujur dalam hatinya sedih harus meninggalkan Wijaya Group.
***
Sementara itu, di kantor polisi Noah memohon Iba kepada orang tuanya yang baru datang dari luar negeri. Noah meminta William menjaminnya, agar hukuman yang diterima lebih ringan.
Sebab sidang memutuskan dirinya dan Bram akan menerima hukuman paling singkat tiga tahun. Dan Noah tak ingin selama itu ia mendekam di penjara.
"Mama akan membantu kamu dengan satu syarat."
"Apapun itu, aku mau, Ma, Pa!"
__ADS_1
"Tinggalkan Cassandra," ujar William yang sebenarnya tak suka dengan calon istri Noah.
"Tapi..."
"Tapi apa? Dia ada melihat kamu kesini? Enggak kan! Jadi benar ya, kata Mba Morena. Cassandra itu bukan perempuan baik-baik Noah!"
"Ma, tapi..." Noah tak melanjutkan kata-katanya saat polisi mengatakan waktu berkunjung sudah habis.
Noah menunduk lesu, lalu kembali ke dalam sel dimana ada Bram juga disana.
"Bram, menurutmu? Jika Cassandraku tidak kesini, apa itu artinya dia tak mencintaiku?"
"Hm, bisa iya bisa tidak."
"Menurutmu, apa dia akan kembali dengan mantannya dan meninggalkanku?"
Kini Noah merasa takut menerima kenyataan jika Cassandra mungkin akan memilih kembali bersama Divine. Terlebih Divine sangat mencintai kekasihnya dulu.
"Kau ini bodoh atau gimana? Elen yang pernah hidup denganku bertahun-tahun saja tak datang. Apalagi kekasihmu," cibir Bram.
"Kalau dia datang? Maksudku mantan istrimu?"
"Ya, itu bukan berarti dia mencintaiku. Aku sudah menyia-nyiakannya terlebih sekarang ada asisten sepupumu yang selalu nempel pada mantan istriku," gumam Bram.
"Hanya berharap, anakku tidak tahu. Itu saja," sambungnya lagi.
***
Saat ini mereka tengah berada di salah satu food court mall. Elen bersama Satria, sebab Divine dan kedua orang tuanya menjemput Djaja di rumah sakit.
"Apa keputusanmu, Elen?" tanya Alexan.
"Dari menurut wasiat Papa, harta itu memang jatuh ke tangan dua cucunya. Jadi jika kamu menolak, aku akan merasa gagal menepati janjiku pada almarhum," ucap Alexan.
"Saya menerima, tapi saya bukan pembisnis. Saya hanya sekertaris," aku Elen.
"Mom..." Satria memegangi lengan Elen merasa bosan.
"Mau main sama Oma, momy-mu masih bekerja sayang," ujar Mayra.
Satria menggeleng.
"Maaf Tante, dia gampang-gampang susah jika dengan orang baru!"
"Baiklah, mungkin karena baru pertama bertemu!" Mayra tersenyum, akan tetapi matanya berkaca-kaca. Ratna memang hanya kakak iparnya, tapi sebagai sesama wanita, ia merasa sedih.
"Begini saja, launcing produk baru kamu datanglah. Om akan mengenalkanmu sebagai separuh pemegang saham Ex Shain."
__ADS_1
"Baik, Om. Saya usahakan datang."
"Ini ada apartemen, kamu bisa tinggal disana bersama Satria jika keberatan ikut dengan kami, bagaimanapun wanita yang sudah pernah berumah tangga lebih nyaman tinggal terpisah!"
"Terima kasih banyak, tapi bagaimana dengan kedua orang tuaku?"
"Tentu orangku akan menjemputnya, tapi tidak sekarang!"
"Itu terserah Om dan Tante saja," ujar Elen.
"Elen, kami akan membayar kesakitan ibumu satu persatu. Kamu tahu, meskipun kakekmu keras, setiap hari beliau juga mengkhawatirkan Ratna!" terang Mayra.
"Hanya aku penasaran, kenapa orang tuaku bisa terusir dari keluarga Shain?"
"Itu hanya alibi kakekmu, beliau mengetahui jika Roy masih doyan berjudi dan mabuk! Kakek melakukannya agar Ayahmu lebih bisa bertanggung jawab pada keluarga kecilnya."
Elen hanya ber-ohh ria, rasa penasarannya sudah terjawab. Meskipun ingatan sakit yang pernah tertoreh tak mudah untuk dihapuskan.
Jika semua yang dilakukan sang Ibu demi dirinya, maka mulai sekarang Elen tak akan menolak.
Harapannya hanya satu, mungkin ini adalah jalan agar kakek Divine merestuinya.
***
"Div kamu tahu apartemen jalan Flamboyan?" pesan Elen.
Divine yang tengah mengobrol dengan keluarga besarnya pun mengerutkan kening.
"Apartemen Jalan Flamboyan?" gumamnya hingga memancing yang lain menanggapi.
"Siapa, Div?" tanya William penasaran.
"Hm, kekasihku, Om!"
"Waw, akhirnya kamu punya calon juga. Orang mana?" timpal Mamanya Noah.
Morena tersenyum masam saat melihat ekspresi datar Djaja.
"Hanya perempuan biasa," jawab Divine seadanya.
"Kamu masih berhubungan dengan janda itu? Divine, dia itu mantan istrinya Bram, apa tidak ada wanita lain?" kesal Djaja.
"Tidak ada, Kek! Dan aku gak perduli, mau dia mantan istri orang atau bukan. Dia wanita baik, seorang Ibu yang baik dan aku yakin dia juga akan menjadi menantu yang baik," bela Divine.
"Halah, palingan juga cuma mau porotin!" ujar William. "Sama kaya Cassandra, giliran Noah ketiban apes, dia hilang batang hidungnya!" sambung William lagi.
"Keluarga Shain bukan keluarga yang kekurangan materi. Aku yakin Elena-ku bukan orang yang seperti itu. Aku pulang! Bund, Ayah, aku pulang duluan!" ujar Divine yang sudah mulai kesal mendengar pembicaraan keluarga besarnya.
__ADS_1