AYAH SAMBUNG

AYAH SAMBUNG
Bab 50 - PUNCAK RASA KECEWA


__ADS_3

"Udah jam segini kok Divine dan Elen belum dateng, ya?" tanya Morena pada Wijaya. Terlebih tamu-tamu penting dan kolega William datang semua di pernikahan Noah. Namun, yang terjadi justru Morena tak melihat tanda-tanda kedatangan Divine dan Elen di acara penting keluarga.


Wijaya menghela napas, "Divine gak akan datang karena hari ini, Rafael dan kekasihnya menikah!" ujar Wijaya akhirnya agar sang istri tak lagi menunggu kedatangan Divine dan Elen.


"Apa? Kok bunda gak tau sih." Morena cemberut, bisa-bisanya Rafael menikah dan dia sama sekali tak tahu apapun. Suami dan anak-anaknya bahkan tak memberitahu perihal itu.


"Dimana Divine? Apa dia lupa kalau hari ini Noah menikah?" cerca Djaja mendekati Wijaya.


"Yah, lagian kan disini rame. Untuk apa mempermasalahkan hal kecil kaya gini. Divine gak bisa dateng, aku dan Morena yang akan mewakilinya bicara sama Noah."


"Itu hasil didikan yang kamu banggakan? Wijaya, sebagai ayah bahkan kamu tidak bisa tegas padanya!" kesal Djaja.


Wijaya mengepalkan tangannya emosi, ingin rasanya memukul Djaja kalau tak ingat pria tua di hadapannya itu adalah ayahnya. Ingin rasanya Wijaya menampar pipi laki tua itu agar ia tak sembarang bicara soal anaknya.


"Jika aku saja dimata Ayah tidak bisa mendidik Divine dengan baik? Lalu gimana dengan Noah? Apa William juga mendidiknya dengan baik selama ini? Tapi ayah selalu membuat tembok kokoh diantara Divine dan Noah dengan sikap pilih kasih ayah. Ayah selalu menganggap apapun yang dilakukan aku dan Divine salah, sementara Ayah selalu memakhlumi semua kesalahan William dan Noah."


"Itu karena..."


"Karena apa? Karena aku menikahi Morena? Atau karena Divine menikahi Elen. Dimata ayah, semua pilihan kami itu salah."


Napas Wijaya tersengal karena mengeluarkan semua isi hatinya di depan Djaja. Sementara Morena berusaha menenangkan sang suami dengan mengusap pundak Wijaya berharap laki-laki itu bisa menahan diri dan lebih sabar.


"Ayo kita ke Noah, percuma disini pun hanya buang-buang waktu," ajak Wijaya melewati Djaja begitu saja. Pria tua itu seketika memegangi dadanya lalu terduduk menatap sang putra. Entah, kadang ia merasa kesal dengan Wijaya dan anak-anaknya seolah semua yang dilakukan oleh sang putra tak pernah benar. Djaja selalu dilingkupi emosi setiap kali melihat wajah Wijaya, ia selalu teringat wajah menyedihkan sang istri saat menyelamatkan Wijaya dari kecelakaan maut.


Noah mengumbar senyum bahagia menyambut ucapan para tamu. Doa-doa baik pun terlantun untuknya dan sang istri. Para kolega dan keluarga besar berkumpul merayakan pernikahannya. Namun, hingga detik ini ia sama sekali tak melihat keberadaan Divine. Mendadak hatinya mencelos sakit mengingat masalalu yang pernah terjadi hingga berhasil menoreh luka paling dalam untuk sepupunya. Dalam hati Noah berharap, pernikahannya menjadi awal sebuah kebaikan. Kebaikan untuk hubungannya dengan Divine, keluarga lain dan kebaikan untuk masa depannya.


"Selamat, Noe!" Wijaya memeluk Noah dan menepuk pundak ponakannya dengan lembut sementar Morena berjabat tangan dengan Istri Noah, cipika-cipiki dan mengobrol ringan agar saling mengenal lebih dekat.


"Selamat ya kalian," ujar Morena dengan senyum tersungging.

__ADS_1


"Makasih Om, Tante!" balas Noah. Lalu menanyakan keberadaan Divine.


"Divine dan Elen hadir di pernikahan Rafael. Kamu tahu kan, kalau Rafael dan Divine sangat dekat jadi kami bagi tugas, Divine dan Elen kesana, Om dan Tante yang menghadiri pernikahanmu. Maaf, ya!" jelas Morena.


"Iya, Tante, Om! Gak masalah."


"Sekali lagi selamat ya, moga cepet nyusul dapet momongan. Om sama Tante lanjut ke Papa kamu dulu," pamit Morena dan Wijaya lalu menghampiri William dan sang istri.


Noah mengangguk, akan tetapi ia masih memperhatikan orang tua Divine sampai jauh.


"Mas, itu!" Istri Noah menunjuk Bram yang sudah berdiri di depan mereka.


"Selamat, Bro! Otewe tembak dalam," ujar Bram setengah berbisik akan tetapi masih bisa didengar istrinya Noah.


Noah hanya menyeringai mendengar ucapan Bram, sahabatnya memang seabsurd itu. Melirik istrinya sekilas, dan Noah melihat wajah ayu itu sedang merona.


"Kau membuat istriku malu! Dasar, tapi makasih. Semoga kau segera menyusul tembak-tembakan juga," balas Noah.


Sementara Wijaya yang hendak pulang ditahan oleh Djaja.


"Karena sudah seperti ini lebih baik kita selesaikan sekarang juga!" ujar Djaja.


"Oke," balas Wijaya setuju. Ia mengikuti langkah Djaja ke tempat sepi kemudian duduk berhadapan.


Morena memegang tangan Wijaya, berharap apapun yang dilakukan mertuanya lantas tak membuat suara suami meninggi karena amarah.


"Kamu bukanlah anak kandungku! Kamu hanyalah anak dari pria masalalu istriku. Dulu, aku sangat menginginkanmu sama halnya aku menginginkan ibumu. Tapi, semua itu berubah saat aku memiliki William. Dan kamu tahu, meskipun aku berusaha menyamakan kasih sayang untuk kalian semua terasa..."


"Cukup!"

__ADS_1


"Sayang, dengerin dulu." Morena mengusap bahu suaminya dan berbisik lembut. Berharap Wijaya sedikit tenang, mengingat saat ini mereka sedang berada di acara penting Noah.


"Jadi seperti itu? Terus Ayah melampiaskan semuanya ke Divine? Dia tidak bersalah. Andai Ayah bilang dari awal, mungkin aku akan jadi orang yang sedikit lebih tau diri. Tapi, karena aku sudah tahu. Jadi aku tak akan bertanya banyak alasan lagi, lebih baik kita jalani hidup masing-masing tanpa saling ikut campur."


"Hm." Djaja hanya berdehem dengan ekspresi datar. Wijaya mengepalkan tangan, tubuhnya sedikit bergetar menerima kenyataan dan Morena menyadari hal itu. Dengan langkah berat, ia meninggalkan pesta Noah bersama Morena. Namun, sampai di dalam mobil, pria paruh baya itu menumpahkan tangis kekecewaannya.


"Jadi ini? Alasan ayah..." Pria itu tertunduk, matanya basah. Betapa ia bertahun-tahun mengharapkan keadilan seorang Djaja kepadanya.


Wijaya memang bukan anak kecil lagi, tapi sampai tua sekalipun ia masih membutuhkan kasih sayang seorang ayah. Hal-hal kecil seperti pujian dan semangat, akan tetapi harapannya sudah pupus. Djaja rupanya menyimpan rahasia besar tentang statusnya selama ini, pria tua itu hanyalah 'Ayah sambung' yang sama sekali tak Wijaya tahu.


Lantas? Bukankah ketika kita memutuskan mencintai seseorang, kita harus siap menerima apapun keadaannya? Menerima semua cinta yang kita punya? Lalu, kenapa Djaja begitu tega?


"Sayang, sabar ya? Aku tahu kamu sedih tapi itu lebih baik karena sekarang kebenarannya sudah kamu tahu! Kamu nggak perlu capek-capek mengharapkan sesuatu yang bahkan nggak ada hasilnya alias Zonk!"


Wijaya menyandarkan tubuhnya di kursi mobil, "paling tidak, harusnya dia tak melampiaskan ke Divine juga!"


"Kamu tahu, putra kita sehebat apa? Asalkan kasih sayang kita tak pernah pudar, aku rasa cukup untuk mendampingi Divine jadi anak yang hebat bahkan ayah yang hebat. Dia bisa mencintai Elen dan Satria dengan kadar cinta yang sama. Tugas kita, selalu mengingatkan Divine agar tidak pilih kasih pada anak-anaknya sampai nanti. Sayang, kamu sudah merasakannya jadi aku harap kita bisa terus membimbing Divine."


"Kamu memang terbaik, Bunda!" Wijaya menyeka air matanya, lalu tersenyum menatap istri terhebatnya. Morena bukan hanya bijak, tapi ia juga selalu bisa meredam emosionalnya.


***


Pesan singkat :


*Tidak semua ayah sambung itu baik, jadi sebagai wanita ada kalanya kita memastikan seperti apa pasangan kita jika ingin memulai lagi. Dia yang mencintaimu, bukan hanya akan menerimamu tapi juga menerima anak-anakmu.


*Dan tidak semua ayah sambung itu jahat, kadang kala kita dipertemukan dengan orang yang kurang tepat, belum lagi asumsi orang-orang sekitar yang berbeda-beda.


Novel ini terinspirasi dari teman-teman janda pejuang bahagia~

__ADS_1


Follow IG : Mimahe_Gibran_Offical untuk seputar novel dan visual.


__ADS_2