Ayana

Ayana
12. Gaenakkan jadinya


__ADS_3

Ayana tersenyum, dengan perlahan ia melangkahkan kakinya untuk mendekat ke arah segerombolan lelaki itu.


"Mau makan apa habis ini?"


Mendengar suara nyaring Ayana, sontak para lelaki itu menoleh dan tersenyum kecil ke arahnya.


"Kok pada diem?" Lagi lagi Ayana belum mendengar jawaban atas pertanyaan yang ia lontarkan itu.


Duduk diantara mereka, dengan tenang Ayana mengelus punggung lelaki yang berada di samping kirinya.


Jodi, ketua tim basket mereka.


"Maaf Na, kita. . .kalah lagi." Jelas Jodi, tersirat begitu pilu saat mendengarnya.


Ayana kembali mengelus punggung Jodi, sambil tersenyum manis memerhatikan sekeliling. Tampak yang lain juga tengah kecewa namun berusaha tampil baik baik saja.


"Kerja sama tim yang bagus, kalian juga hebat. Makasih buat perjuangannya sampai rela pulang malem buat latihan." ucap Ayana.


Mereka masih diam, dengan Jodi yang semakin menundukkan kepalanya.


"Hey, kalah bukan berarti akhir dari segalanya kan? Kok pada sedih, sekarang ayok bangun kita pergi makan, pasti pada capek semua kan?"


Ayana bangkit terlebih dahulu, menarik yang lainnya agar ikut bangkit juga.


"Gimana kalau kita makan ke resto yang waktu itu kalian rekomendasi in? Di jalan Hayam Wuruk bukan sih, Dim?" tanya Ayana sambil menyenggol tubuh Dimas. Padahal lelaki itu tak tahu apa apa.

__ADS_1


"Na, itu kan perjanjian kalau kita menang. Sedangkan kenyataan sekarang?"


Tim mereka mereka memang kalah dalam pertandingan, dan Ayana mengerti betapa kecewanya mereka pada diri mereka sendiri.


Padahal mereka sudah bekerja keras agar bisa memenangkan pertandingan ini, dan masuk untuk mewakili kota di pertandingan selanjutnya.


"Dengerim omongan gua, kalian itu hebat, gua akuin hebat banget sampe bisa bertahan di posisi saat ini. Gak boleh putus asa, kalau kita jatuh sepuluh kali berarti kita harus bangkit sebelas kali."


"Gaada hasil yang memuaskan dalam beberapa kali percobaan, semua orang yang berada diposisi atas bukan berarti mereka gak pernah ngerasain jatuh ya. Dan gua yakin, kalau kalian bisa berada di posisi atas suatu hari nanti, asal gaboleh putus aja."


Entah nyambung atau tidak, masuk ke otak atau sekedar lewat, Ayana mengutarakan hal tersebut dengan tulus.


"Makasih buat petuah nya, gak nyangka lo bisa sedewasa ini." Ucap Jodi. "Makasih udah nyemangatin, ayok lah makan makan."


"Aya...na, kan?"


Ayana mengerutkan keningnya bingung, sambil menelisik dari atas hingga bawah sepertinya ia tak asing dengan wajah tersebut.


"Temennya si Andra yang di Deket kuburan bukan sih?"


"Omongan lo berasa gua penunggu kuburan ae! Gua Raihan ****."


Ayana mendelik sambil melongo. Sejak kapan lelaki cantik itu berubah menjadi tampan dan. . .keren?


Lagi pula, rambut gondrongnya?

__ADS_1


"Mas, rambut gondrongnya siapa yang nyuri?"


Raihan menggeleng, dengan menampilkan senyuman mautnya ia berkata, "gaada, cuman pingin cari suasana baru aja makanya gua potong rambut."


Mengangguk mengerti, ia sampai lupa jika akan pergi makan bersama. Dan akhirnya Ayana memutuskan untuk mengirim pesan ke Dimas agar meng eksekusi duluan, dan akan mengikuti setelahnya.


"Sibuk banget ya dek sampai chat gua lo anggurin?"


Dengan rasa tidak enak, lagi lagi Ayana mengangguk, lalu menyengir setelahnya.


"Hehe, maaf mas, akhir akhir ini emang sibuk banget. Emang kenapa ya mas sampe nyari gua segala?"


"Cuman mau minta saran sih, tapi kalau lu ada waktu sekalian gak ganggu."


"Ganggunya sih enggak, tapi kan. . .kita kan baru kenal, emang lu nyaman kalau dapet saran dari gua?" Tanya Ayana yang merasa tidak enak.


"Kalau gua ngerasa gak nyaman, gak mungkin juga gua ngehubungi lu terus menerus."


Kan, Ayana semakin merasa bersalah. Kalau gini mah, ribet pasti urusannya.


"Nanti kalau ada waktu luang, gua samperin ke tempat tongkrongan deh mas. Ngomong ngomong, lo ikut tanding?"


"Bukan gua yang tanding, tapi adek gua."


Bener juga sih, lagian mana ada sekolah yang ngebiarin salah satu muridnya punya rambut gondrong kayak mas Raihan waktu itu.

__ADS_1


__ADS_2