
Mendadak semua orang disekitar nya bertanya tanya tentang siapa itu kiana? Dan mengapa Brian memanggil Ayana dengan sebutan Kiana.
"Gua tau, nama lo Kiana bukan Ayana. . .kenapa lo nyembunyiin nama asli lo?"
Ayana hanya diam, menahan diri agar tidak tersulut emosi yang dipancing oleh Brian.
Rupanya lelaki itu benar benar suka bermain, dan sepertinya dia salah mengajak orang untuk ikut andil dalam permainan nya.
"Gua gak nyembunyiin. . .karena itu nama panggilan gua sejak kecil." Jawab Ayana dengan tenang. Karena itu kenyataan nya.
Sejak kecil ia sakit sakitan, dan beberapa orang disekitar nya memberi usulan untuk mengganti namanya. Walaupun umurnya sudah menginjak enam tahun.
Dan setelah menemukan nama Ayana, keluarganya menggantikan sebutan tersebut. Walaupun tak sah di mata hukum, namun orang disekitarnya lebih mengenal Ayana ketimbang Kiana.
Brian mengangguk anggukan kepalanya, namun tak ayal tetap menyodorkan barang yang sudah ia bawa dari rumah.
"Jadi nona Kiana. . .bisa dimulai?"
"Apa yang lo pingin tau dari gua?"
"Perasaan lo, tentang gua selama ini. Dan alasan lo menolak dengan tegas semua yang berhubungan dengan seni."
Ternyata Ayana kurang cepat. Brian sudah mengetahui dirinya lebih dahulu.
__ADS_1
Mungkin hari ini, ia akan menjawab semua pertanyaan orang orang disekitar nya dan juga kembali menggambar.
"Seperti yang semua orang tau, saat kita menggambar akan menunjukkan emosi kita yang sebenarnya."
Mendadak semua orang terdiam saat Ayana mulai berbicara dengan nada yang aneh.
Alih alih mengambil krayon, setelah menarik mendekat kertas HVS, tangan Ayana malah meraih segelas kopi yang hampir setengahnya sudah ia minum.
Mengangkatnya dengan tinggi, dan tepat dibawahnya terdapat kertas HVS tersebut.
Brian dan lainnya benar benar dibuat bingung oleh Ayana. Bagaimana gadis itu menggenggam gelas tersebut. Walaupun isinya sudah dingin.
"Anggap tangan gua adalah diri gua, gelasnya adalah kepercayaan gua, dan isi dalam gelasnya adalah lo."
"Karena gua yang ingin memulai berbaikan dengan takdir, mencoba menekan kembali kepercayaan buat lo."
"Semakin gua tekan, genggam, hingga--" tiba tiba gelas yang di genggaman Ayana pecah. Melukai telapak tangan gadis itu.
"Hingga kepercayaan yang gua pastiin kuat itu, lo hancurin lagi Brian!!"
Cairan merah kental itu meluncur deras, dan jatuh tepat di kertas HVS. Meninggalkan bau amis yang mulai memenuhi indra pernapasan nya.
"Kedatangan lo kesini, dan niat terselubung lo itu yang membuat gua kembali hancur!!" Brian terdiam, berbeda dengan yang lain yang sudah kalang kabut guna menghentikan keduanya.
__ADS_1
Namun gagal, baik Ayana maupun Brian sama sama tidak ingin berhenti.
"Dan ya, alasan utama gua menolak dengan tegas seni adalah kekuatannya yang mampu membaca emosi gua."
"Sedangkan yang gua rasain adalah rasa sakit yang lo buat Brian! Ke egoisan lo yang membuat semua ini, dan jangan berharap gua akan membantu lo Brian, saudara ku yang tersayang."
Tanpa ada yang tahu, Sinta, gadis yang ambisius mencari jawaban Ayana itu kini melihat semuanya.
Membekap mulutnya agar tidak berteriak saat ini juga.
---
**Dikarenakan gua gabisa nulis terlalu panjang, dan gak minat juga karena otak gua gak nyampek.
Jadi gua putusin buat segera membuat ending nya**.
(**potret Ayana aka Kiana bareng Brian)
Merinding juga nulis part yang ini, mana tengah malem lagi.
-Ellipsm**
__ADS_1