
**Andra :
Ay, masih ngambek aja lo, kan udah lewat Ayanaaaaaa**
Ayana mendengus saat membaca notif pesan dari Andra. Sejak kejadian mengcover lagu itu, Ayana memutuskan untuk menghindari Andra, guna mengembalikan mood nya yang acak acakan saat bertemu Andra. Bahkan mendengar nama Andra sekelibatan saja membuat nya kesal.
"Ay, masa si Dio ngajak gua ketemuan."
"Ya terus, gua kudu ngapain Put?"
"Ya sama lo, masa gua pergi sendiri sih Ay. Emang lo tega sama gua?"
Ayana mendengus, bagaimana ia Setega itu membiarkan sahabatnya pergi sendiri. Apalagi Putri, nama sahabat nya, hampir tidak pernah pergi kemanapun sendirian.
__ADS_1
"Emang dia ngajak ketemuan dimana?" Tanya Ayana final, ketimbang dia nyangkruk gak jelas juga mending jadi ikut Putri. Walaupun jadi nyamuk.
"Lo tau warung soto yang waktu itu kita buat reunian?" Ayana mengangguk. Bagaimana ia bisa lupa tempat makan dengan view keramat itu?
"Di sekitar situ sih Dio bilang nya, tapi gak dikasih tau jelas tempatnya dimana."
---
Kenapa penyesalan selalu datang di akhir? Apa Ayana tak bisa mendapatkan kesempatan untuk berlari saat ini juga?
Ia melupakan tempat dimana ia dan Raihan bertemu. Tempat yang sama dimana Dio, pacar sahabatnya memberi instruksi agar mereka pergi ke sana.
Tak lain tak bukan, apalagi berniat suudzon. Tapi memang faktanya adalah, ini ulah Andra.
__ADS_1
"Si ayang marah marah mulu, kagak baek loh neng marahan lebih dari tiga hari." Andra mencoba mendekap tubuh Ayana, dan dengan cepat gadis itu menghempas tangan Andra.
"Gausah pegang pegang, panu lo ntar nular ke gua!"
Andra merengut, kembali duduk di bangkunya yang sudah siap dua cangkir kopi hitam. Ia meminumnya setegak dengan raut wajah kesal, "Ah si Aya mah gitu, kan gua udah minta maaf."
"Gak gua maafin."
"Ay, kan kagak baek marahan lebih dari tiga hari. Udah gua kasih tau loh ye dari tadi."
"Masih ada sisa sehari buat ngepas in jadi tiga hari, lo gausah sok imut gitu deh."
Dan Andra memutuskan untuk meneguk kopinya saja.
__ADS_1