Ayana

Ayana
27. Singa jinak


__ADS_3

Setelah mendengar jawaban Brian, Ayana langsung bangkit dari duduknya.


Berpikir jika Ayana mulai tidak nyaman dengannya, dan mulai menjauh darinya ternyata salah.


Seharusnya Brian tak memiliki bayangan seperti itu, walaupun sekedar hayalan sekalipun.


Karena Ayana tetaplah Ayana. Gadis keras kepala yang terus mengganggu ketenangan hidupnya.


"Gua gak suka sayur sop."


Ucap Brian langsung saat Ayana mulai kembali duduk dihadapannya membawa semangkok sayur sop di tangannya.


Terdapat beberapa sayur hijau yang tak ia mengerti jenisnya, bahkan Brian sendiri yakin jika gadis itu tak berbeda jauh dengannya.


"Peduli apa gua sama kesukaan lo?"


Ayana meniup pelan sayur sop yang berada di sendoknya. Begitu hati hati agar tidak tumpah atau menyiprat ke arahnya.


"Buka mulut lo, ketimbang gua paksa."


"Menurut lo, tindakan lo ini bukan dari tindakan pemaksaan?"


Ayana memutar bola matanya malas. "Pilih opsi satu atau dua."

__ADS_1


"Gua bilang gua gasuka!!"


"Oke, lu milih opsi ke dua." Dan detik selanjutnya Ayana dengan sengaja mencubit paha Brian hingga membuat lelaki itu berteriak kesakitan. Tanpa membuang waktu, Ayana langsung memasukkan sendok itu ke dalam mulut Brian.


Beruntung ia memiliki tangan ajaib, yang dapat membuat biru kulit orang dengan cara mencubit nya.


Membekap mulu Brian dengan cepat, saat lelaki itu akan memuntahkan isi mulutnya.


"Lo suka gua main kasar ya?"


Dengan terpaksa Brian mulai mengecap sayur sop yang berada dalam mulutnya itu.


Ia tak menyukai sayur, seperti dia tak menyukai Ayana. Namun paksaan ini membuatnya menurut karena ia sadar, ia tak pernah mencoba makan sayur.


Suapan demi suapan di terima Brian tanpa penolakan, Ayana tersenyum manis. Suapan terakhir sudah dalam proses penelanan.


Brian membuang mukanya, ia merasa janggal. Dia lelaki berusia dua puluh dua tahun, namun mengapa dia bayikan oleh gadis yang baru saja menyelesaikan ujian nasional tingkat SMA?


Ayana kembali lagi, namun kali ini membawa kotak P3K yang Brian sendiri tidak tau dari mana asalnya.


Menarik tangan kanan Brian yang semula bersendekap dada. Dengan perlahan, Ayana mulai mengobati luka yang ada disana.


Sudah mengering, namun terlihat begitu jelas jika lukanya tidak dirawat atau sekedar di bersihkan.

__ADS_1


"Ketika lo gabisa menghargai keberadaan seseorang di sekitar lo, setidaknya hargai diri lo sendiri."


Brian tak menjawab, dia memerhatikan Ayana yang tengah telaten mengobati lukanya.


Ia terlalu malas untuk berdebat dengan gadis itu, tak akan ada hentinya. Yang ada semakin menambah beban dalam hidupnya.


"Tapi kita kudu tau diri, berbuat egois demi kebahagiaan kita emang wajib, tapi kudu ada batasnya."


Brian mengerutkan dahinya, "kenapa? Kita juga berhak buat bahagia, bukan orang lain doang!"


"Soalnya kita hidup bareng orang banyak, bukan sama hewan." Brian sedikit meringis saat Betadine itu mengenai lukanya.


"Bayangin aja kalau semua orang berpikir kayak lo? Egois demi kebahagiaan diri sendiri, yang ada makin tersiksa."


"Maksud Lo?"


"Sebagai contoh, lo gak suka sama gua sedangkan gua sebaliknya." Ayana menempelkan plester untuk menutupi luka Brian.


"Lo gak nganggep gua ada, dan lo terus menganggap gua sebagai pengganggu. Karena gua sama egoisnya, gua tetap mendekat ke arah lo walaupun lo gasuka itu."


"Bukan hanya lo yang tersiksa sama kehadiran gua, tapi gua juga tersiksa sama sikap lo."


"Kenapa lo gak menjauh aja kalau itu nyakitin lo?"

__ADS_1


Ayana menggeleng, "karena gua juga egois, pingin selalu ada di samping lo walaupun pada akhirnya gak seperti bayangan."


"Gua harap lo ngerti, dan mulai menghargai kehadiran seseorang. Jangan menunggu pergi dan menyesal."


__ADS_2