Ayana

Ayana
32. Tamu Istimewa


__ADS_3

"Akhirnya, rumah gua dapet kunjungan juga."


Hanya menggunakan kimononya, Ayana melangkah kan kakinya, menuruni satu persatu anak tangga di rumahnya.


Mendapati bel rumahnya yang berbunyi berkali kali, membuat Ayana dengan terpaksa menghentikan mandinya sambil bergumam tak suka. Mengecek dari CCTV di rumahnya, ternyata Andra. Lelaki itu datang bertamu rupanya.


"Cantik kan rumah gua, baru gua ekspos sekarang nih."


Menghempas tubuhnya di salah satu sofa ruang tamu, Ayana membuka satu persatu makanan ringan yang dihidangkan di meja.


"Jelasnya, beberapa detik sebelum lo pencetin bel rumah sih. So, lo dapet alamat rumah gua dari mana?"


Mengambil beberapa butir kacang, lalu memakannya dengan menatap Andra.


"Tau gua cakep, gausah natep--"


"Kenapa lo masih bisa bersikap baik baik aja setelah kejadian kemaren? Dan setelah lo tau kalau bapak lo diambang Kematian dan butuh darah lo Ay?"


Ternyata hal itu lagi. Ayana membuang kesembarang arah kacang kacangan yang ia genggam.


Menarik nafas panjang, dan menopang dagu. Manik Andra dulu yang membuatnya tenang, kini tak lagi, berubah menjadi dingin seperti perasaannya.


"Lo gak tau apa apa, mending lo diem dan bersikap baik baik aja kayak gua."


"Itu bapak lo Ay!"


"Kalau lo tetep bahas ini, mending lo pulang sebelum satu persatu barang barang dirumah gua menghantam tubuh lu,Ndra."


Andra langsung terdiam mendengar ucapan Ayana. Bukan karena ia takut, hanya saja ia tak bisa memastikan setelah ini Ayana akan menyakiti tubuhnya juga atau tidak.

__ADS_1


Walaupun tak memiliki penyakit kejiwaan yang menimbulkan rasa ingin melukai diri sendiri, namun manusia tetap manusia yang memiliki rasa ingin menyerah.


Ia mengerti jika posisinya sangat salah, disatu sisi ia tak mengerti apapun tentang Ayana namun ia tetap kekeh untuk menolong ayah Ayana. Dengan cara membujuk gadis itu.


Bukan kah sangat egois Andra saat ini?


"Gua cuman butuh alasan Ay, apa lo gabisa ngasih alasan yang logis dan buat gua berpikir untuk gak berpaling dari sisi lo?"


Mendecih. Ayana membuang mukanya. Pikirannya selama ini salah, ternyata sampah lebih baik ketimbang Andra.


"Kasih gua alasan Ay, bukannya lo sendiri yang bilang kalau semua tindakan pasti ada alasannya."


"Ayana. . ."


Bersendekap dada, posisi yang selalu ia lakukan.


"Lo bener, semua tindakan pasti ada alasannya tapi gak semua bisa dijelasin Andra. Lo emang sahabat gua, bukan berarti gua bakal cerita semuanya, bukan karena gua gak percaya. Tapi entah karena lupa atau emang gak perlu karena menyangkut privasi."


"Jelajahin rumah gua semau lu, buat minum sendiri karena gua tau lu gak bakal sudi dan bahkan gak percaya kalau gua yang buat." Ucap Ayana sebelum melangkahkan kembali kakinya.


Andra nampak bangkit, memerhatikan tiap detail arsitektur rumah Ayana. Sangat indah dan terkesan terlalu feminim untuk tingkahnya yang urakan


Dari luar, nampak bangunan rumah ini berbentuk castle seorang putri dalam dongeng.


Dan ternyata di dalamnya, benar benar di suguhi dunia Disneyland.


"Kelihatan banget ya kalau gua gak tau apa apa tentang lo, bahkan gua gatau kalau lu suka sama yang berbau Disney gini."


Memerhatikan sebuah pintu yang menarik perhatiannya, dengan tulisan yang dicetak dan di pasang di dinding pintu tersebut membuat Andra semakin tersenyum miris. Kamar Boneka.

__ADS_1


Membukanya dengan perlahan. Brian kini benar benar sadar, jika dia tidak tahu bahkan seperti tidak mengenal Ayana sama sekali.


Banyak boneka yang di ruangan ini, dari ukuran yang paling kecil hingga berukuran yang tingginya melebih almari pun ada. Dari yang hewan, hingga boneka boneka koleksi idola nya pun terdapat disini.


Namun yang hanya ia tahu, Ayana memiliki boneka Dora yang selalu menemaninya dari kecil. Yang selalu memeluknya, menemaninya, bahkan selalu menjadi saksi bisu setiap kejadian yang menimpa gadis itu.


"Bener kata lo, gua emang sama sekali gak tau apa apa tentang lo. Tapi. . ." Andra terdiam sebentar, melirik Ayana yang terlihat berdiri di anak tangga. "Apa Lo gak bisa ngasih pilihan yang lebih logis dan ngebiarin bokap lo tetep bertahan di dunia ini?"


Ayana mengepalkan tangannya. "Ngebiarin hidup sama aja ngebiarin dia buat nyakiti gua. Itu yang lo mau?"


"AYANA!"


Mendengar bentakan dari Andra membuatnya tersentak sekaligus tersadar. Tersadar jika orang orang di dunia ini sangatlah palsu.


Mereka tak tahu apa apa namun bertindak seperti mengetahui segalanya. Biarpun orang terdekat sekalipun.


"Brian yang pergi, atau gua yang pergi." Jawab Ayana final.


"Tapi dari pilihan yang lu kasih gaada yang menguntungkan buat dia Ayana!"


Mengehentikan langkahnya untuk kembali ke kamar, Ayana mulai membalikkan badannya.


"Apa menurut lu, ada jawaban yang menguntungkan buat diri gua? Gua jelasin lagi, kalau lu gak tau apa apa, lebih baik diem sebelum lu nyesel sama kenyataan yang lo dapet."


"Gua gak akan nyesel Ayana. . ."


---


i don't know why, but, gua harap yang baca bisa ngerasain emosi Ayana selama konflik ini.

__ADS_1



i'm not a goodgirl, but i'm also not a badgirl dude! - Ayana aka Kiana


__ADS_2