
Ayana melangkahkan kaki dengan santai. Melewati kelas demi kelas sambil merekahkan senyumnya.
Melihat adik kelasnya yang tengah kesusahan mengerjakan ujian kenaikan adalah hal yang mengasyikkan. Apalagi kini ia benar benar free!
Sesekali mengintip dan menertawakan orang lain juga tak masalah, namanya juga hidup.
"Mentang mentang tinggal lulusnya, si anak setan malah dateng jam segini!"
"Heh, masih mending gua dateng ye, niat awal gua mau gulung gulung di kamar ae."
"YA FAEDAHNYA LO BERANGKAT APAAN NA, SETENGAH JAM LAGI KITA JUGA UDAH BALIK PULANG."
Ayana menahan tawanya saat teman temannya mulai meledak karena dirinya.
Baru setengah sepuluh, dan memang Ayana baru sampai di sekolahnya. Meskipun sudah free Ayana merasa bosan saja di rumah, dan memilih berangkat ke sekolah walaupun waktunya sudah mepet.
Toh satpam sekolahnya juga tak menahan dirinya untuk masuk, jadi ya. . .lumayan.
Duduk diantara teman temannya, hal ini yang akan dipastikan membuat rindu setelah memasuki masa masa memikirkan jenjang yang lebih panjang.
Teman yang diduga kehilangan otak serta kewarasan, memang dapat membuat rindu dan awet muda. Valid pokoknya!
"Kan gua pikir sape bjirr, lah tiba tiba si Ana masuk ke kemar gua. Ya gua yang udah ancang ancang pake bawa raket, alhasil gua timpuk jadinya."
"Pantes makin gesrek aja si Ana."
__ADS_1
Dan lagi lagi mereka tertawa mendengar curahan Ana, dan asal usul bekas kebiruan di dahi sebelah kirinya.
"Na, dipanggil Bu Inayah."
Ayana mengangguk, dan segera bangkit dari duduknya agar mengikuti Sinta ke arah kantor guru.
Sebenarnya ia juga tidak tahu alasannya, karena ia juga tidak merasa membuat kesalahan.
"Lo gak ngumpulin tugas seni dari Bu Inayah?"
Ayana menaikkan bahunya, "gatau juga, seinget gua semua tugas udah gua selesai in. Yang berbau seni sekalipun."
Sinta berhenti mendadak, tepat di tengah perjalanan melewati lorong sekolah. Ayana dengan spontan juga ikut berhenti.
Ayana tak menjawab, ia hanya menampakkan wajah datarnya.
"Sebenarnya lu gak dipanggil Bu Inayah, itu alibi gua aja buat ngobrol sama lu. Karena selama ini juga gua sama lu gak Deket."
Sinta memang tergolong anak yang pandai di kelasnya, dan juga tergolong anak yang pendiam.
"Jujur gua masih penasaran. . ." Sinta menggantungkan kalimatnya untuk sekedar mengambil nafas.
"Gua boleh tanya sesuatu? Tapi lu harus jawab pertanyaan gua."
Ayana tersenyum picik, "Lo punya hak buat bertanya, dan gua juga punya hak buat ngejawab atau enggak. Gausah bertingkah seolah olah kita pernah berbagi suka duka."
__ADS_1
Pahit. Mungkin definisi berbicara dengan Ayana adalah seperti obat. Mengobati namun memberi efek pahit.
Sinta tak bergeming, sedikit tersentak saat mendengar nada ucapan Ayana yang dingin.
Tiga tahun menjadi teman sekelas Ayana, ia hanya beberapa kali mendengar nada ucapan Ayana sedingin itu. Dan beberapa kali karena ulahnya.
Sinta mulai melangkah mundur saat Ayana mulai mendekati dirinya dengan tatapan yang tak kalah dingin.
Ia tak mengerti, bagaimana gadis di hadapannya ini mampu menciutkan nyali yang sudah ia buat selama ini.
Hanya untuk bertanya ke Ayana.
"Sebegitu penasaran nya lo sama misteri hidup gua."
Meneguk ludahnya kasar. Sinta tak bisa kabur kali ini, tubuhnya menabrak tembok dan dihadapan nya pas kini sudah ada Ayana yang bersendekap dadanya.
"Gua gak ngerti alasan lo sebegitu penasaran nya, tapi kelihatannya lo ngebet banget ya?"
Tubuh Sinta mulai bergetar. Tangan dingin Ayana mengusap pelan puncak kepalanya.
"Oke oke, gua bakal jawab." Sedikit bernafas lega saat Ayana mulai memundurkan tubuhnya.
"Bukan sekarang, gua harap lo gak nyesel. Dan ya. . ." Sinta terdiam. "Siapin mental lo, gua gak mau dapet berita lo trauma atau apapun yang menyangkut kewarasan lo."
Bisakah Sinta mengulang waktu dan memilih memendam rasa penasaran nya? Ia menyesal.
__ADS_1