Ayana

Ayana
13. Apel ke tongkrongan


__ADS_3

"Menurut lu nih ya, kerja apa yang gak susah tapi ngehasilin banyak duit?"


"Ternak tuyul."


Ayana benar benar menepati janjinya untuk hadir dan menemui Raihan di tempat nongkrong nya. Yang pasti ia tidak sendiri, Ayana menarik Putri agar ikut dengannya. Dengan embel embel sang kekasih berada di tempat yang sama, maka persetujuan pun ia kantongi.


Setelah berkenalan dengan beberapa teman Raihan, Andra serta Dio. Akhirnya mereka memutuskan untuk berbicara empat mata.


Yang katanya Raihan sendiri, topik pembicaraan nya begitu penting hingga lelaki itu menyeretnya ke warung terdekat. Namun nyata nya?


Bahkan Ayana tak percaya jika Raihan menanyakan hal tersebut kepada dirinya.


"Gua tanya serius Ayanaaa."


"Ya lagian lu aneh aneh segala ngasih pertanyaan nya. Mana ada kerja tinggal leha leha doang tapi duit gaada Bates nya. Gila Lo." Jawab Ayana kesal.


"Ya gak leha leha juga maksud gua, Ay."


Ayana tak menjawab. Ia masih merasa kesal dengan pertanyaan Raihan.


Dikarenakan krisis ekonomi sebagai anak rantau, Raihan benar benar terlihat stres saat ini.


Mau minta orang tua gak tega, gak minta nanti gak makan. Mengingat masa di asramanya, ia jadi ikut sedih.

__ADS_1


"Mas ikutin aja passion nya mas Raihan dimana."


"Gua aja gatau passion ntu apaan."


Menutup bibirnya rapat rapat. Sungguh, ia tak menyangka jika lelaki dewasa di depannya itu begitu menyebalkan. Padahal saat pertama kali bertemu Raihan terlihat begitu hangat.


Ya meskipun awalnya sudah memberi kesan jelek terhadap dirinya.


"Ah gatau deh mas, jadi ikut mikir kan gua jadinya." Putus Ayana dengan cepat.


"Ay jangan gitu dong, kasih gua saran kek. Dari sekian banyak orang blangsak, gua percaya ke lo, walaupun lo juga gak beda jauh dari mereka."


Kan, ngeselin ternyata ni orang satu. Udah dibantuin malah sempet sempet nya ngatain.


Untung cakep, jadi termaafkan.


"Hobi lo apa?"


"Gangguin lo, Ay."


Ayana mendelik, hampir saja ia menumpahkan gelas kopi yang sedang ia pegang.


"Pipi lo merah kalau kesel, lucu bikin orang gemes."

__ADS_1


Dan Ayana langsung menetralkan emosinya yang hampir memuncak. Namun Ayana tak membantah, itu reaksi spontan saat merasa kesal atau sedang malu malu.


Mungkin untuk malu, belum terverifikasi karena Ayana tidak memiliki rasa malu.


"Serius dong ayangik, udah gua seriusin juga . . ." ucap Ayana.


"Iyaa iyaa maap."


"Jadi hobi lo apaan?"


"Masak."


Lagi lagi Ayana mendelik, namun kali ini dengan ekspresi tak percaya. "Lo serius?" Dan Raihan mengangguk.


"Wah kayaknya gua kudu kursus masak ke Lo deh." jelas Ayana dengan jujur.


Raihan tertawa sebentar, lalu meminum soda yang ia beli. "Boleh boleh, tapi sebelum itu. . .


Gua boleh jujur sesatu, Ay?"


Ayana mengangguk antusias, dan memajukan tubuhnya seperti yang dilakukan Raihan.


Mengikis jarak diantara mereka berdua.

__ADS_1


"Bola mata lo cantik, coklat muda, terkesan dingin. Tapi kenapa gua liat lo yang kemarin dan hari ini berbeda?"


"Karena gua gak pakek baju yang sama kayak kemarin."


__ADS_2