Ayana

Ayana
18. Ungkapan


__ADS_3

"Jadi ketemu dimana ni bocah satu?"


Ayana cemberut saat dirinya ditunjuk oleh Reza dan dikatai bocah oleh lelaki itu.


Tentu bukan tanpa alasan Reza melakukan hal tersebut, karena menurutnya selama mengenal Ayana. Gadis itu lebih mirip anak kecil yang berperawakan dewasa. Entahlah, dia memang gak jelas.


"Na. . .orang ngomong dijawab kek, malah bengong. . ."


Ayana tersenyum setelah dirinya disadarkan oleh Farel, oh iya lelaki itu ternyata ikut bergabung dalam pertemanan Andra dan kawan kawan.


Bukannya menjawab, Ayana malah memandang Brian dengan tenangnya.


Lelaki yang tengah mengambil perhatian nya dari awal pertemuan mereka, dan Ayana tak suka itu.


Brian dengan cepat, bahkan dengan tidak sopannya membuat Ayana terus memikirkan dirinya. Orang yang terang terangan menolak untuk berkenalan dengan Ayana.


Hanya dengan setelan Hoodie berwarna hitam polos, dan di padukan celana jeans yang senada. Benar benar menakjubkan.

__ADS_1


Walaupun terkesan menyeramkan, karena kalau dipikir kayak orang mau ziaroh.


Tapi Ayana juga pakai setelan hitam hitam sih, karena nyaman bukan karena apa apa.


Menopang wajahnya menggunakan telapak tangannya dan dengan langsung menatap ke arah Brian. Nampak lelaki itu mulai merasa tak nyaman karena ditatap begitu lekat dengan gadis di depannya itu.


Terbukti saat ia mulai bergerak ke kanan dan ke kiri dalam duduknya, dan sesekali mengusap keringat pada tengkuknya. Yang jelas jelas saa ini angin tengah berhembus dengan kencang.


"Bri. . .an."


Sedetik, dua detik, tiga detik. . .sebelas detik. Dan lelaki itu tak kunjung menoleh ke arah Ayana.


Dengan perlahan dan terkesan tenang, Brian tak bergerak lagi saat Ayana mulai menepis jarak di antara mereka.


Ayana tersenyum, bahkan sangat manis hingga membuat dimple nya terlihat begitu jelas.


Hingga tangan kecil Ayana menyentuh wajahnya, mengelus permukaan pipi kirinya dengan begitu lamban.

__ADS_1


Dan berhenti sekejap, berganti mengelus dan memutari area sekitar mata Brian.


"Mata lo cantik, gua rasa lo harus terbiasa sama ungkapan gua ini." Ayana mengelus kelopak mata lelaki itu. Membuat tak sadar Brian menutup ke dua matanya.


" Karena gua adalah salah satu penggemar bola mata lo."


Brian tak bergerak, atau setidaknya membuka kembali kedua matanya.


Ini terlalu nyaman, bagaimana gadis itu mengelus permukaan wajahnya dengan manis.


Apalagi di dahi, tepat dimana area yang begitu sensitif dari tubuhnya.


Dan ucapan Ayana kali ini, membuat Andra menahan nafasnya begitu saja. Terlalu asing dengan semua ini.


"Lo ganteng. . .tapi sayangnya gua gak bakal bisa buat suka sama lo."


Sedikit mendesah kecewa saat Ayana mulai menghentikan aksinya.

__ADS_1


"Nafas Brian, gua gak mau kedua mata lo bener bener ketutup karena ungkapan gua."


__ADS_2