Ayana

Ayana
24. Gak kuat, gumoh materi!!


__ADS_3

"Mau nangis, otak gua gak muat lagi buat nambah beban masalah idup dongg."


Ayana terus merengek, belajar bersama dengan teman pun tidak membuahkan hasil agar semakin semangat.


Yang ada hanyalah ia malah merasa malas, padahal di hadapan dan kiri kanannya tengah serius belajar. Hanya dirinya yang haho haho sendirian.


"Gua mau cari angin dulu lah, yang ada makin gumoh gua liat wajah lu semua."


"Yang kayak modelan kayak gini, halal kayaknya buat dihujat."


Ayana mendengar jawaban temannya itu hanya menjulurkan lidahnya untuk mengejek.


Membersihkan eh salah, membereskan barang bawaannya yang ia bawa tadi. Mungkin beberapa buku, dan satu buah bulpoin.


Entahlah, tak pasti, karena ia sendiri pun tak jelas ingat membawa apa saja hari ini.


"Ntar kalau ada barang gua yang ketinggalan, simpen dulu, gausah di tilip!"


Menjalankan motornya ke sembarang arah, bahkan pikirannya kini kosong.


Untuk tujuan mencari angin saja ia tak tahu, apalagi buat masa depan. Rasanya ia berpikir terlalu jauh.


"Ini anak ngapain dah sampe sini? Lupa kalau lagi ujian apa tiba tiba amnesia?"


Sindiran dari Reza tak menghentikan langkah Ayana. Akhir nya setelah keliling kota sebanyak tiga kali, Ayana memilih untuk opsi pertama.

__ADS_1


Pergi ke tempat tongkrongan yang biasanya.


"Ya mau gimana lagi atuh mas, ini otak rasanya mau meledak disogok sama materi Mulu." Ucap Ayana sambil berkeluh kesah. "Lagian disogok kok sama materi, sama seblak kek, martabak, paling gak duit gitu yang bikin nagih nagih."


"Ya kalau itu maunya lu Ay!" Jawab Reza sambil mengacak rambut Ayana.


Yang diacak rambut, kok yang berantakan hati gua sih?


Jalanan kini semakin malam semakin ramai, dan Ayana tidak perduli dengan hal itu.


Baginya sekarang, bagaimana mengobati pusing yang ia derita karena makan materi langsung segepok.


Menyesal memang selalu datang terakhir, dan berakhir seperti Ayana kini.


Rasanya campur aduk kayak gado gado lah, tapi kan gado gado masih enak masih bisa bikin kenyang!


"Noh ada si Brian, tumbenan kagak ngikutin si Brian."


Mendengar nama Brian disebut, sontak membuat Ayana langsung bangkit. Memerhatikan seluruh tempat guna mencari sosok yang disebut Reza itu.


"Lo ngibulin gua ya! Parah makin gak sadar umur aja ni orang!"


Ayana tak henti hentinya memukul lengan tangan Reza, sedangkan sang empunya malah terus menerus tertawa meledek.


Tentu saja semakin membuat Ayana bergairah untuk terus memukuli lengan Reza.

__ADS_1


"Lo itu ya, gua pikir lo itu cowok tsundere yang diem diem tapi bikin bucin, eh ternyata diem diem bikin darah tinggi!"


Ayana terus melanjutkan aksinya, meskipun Reza telah memohon ampun namun dengan gaya mengejek. Sungguh, spisies yang ingin Ayana musnahkan seorang Reza itu.


Karena merasa mulai lelah, akhirnya Ayana menyudahi aksi brutal nya itu. Berjalan dengan lemah ke arah Raihan yang tengah menatap ke arahnya.


"Mas. . .temen lu tuh ngeselin, masa gua dikibulin!"


Mungkin sejak jam kursus memasaknya dengan Raihan di tambah, kedekatan keduanya pun semakin menarik perhatian.


Raihan yang terkenal acuh tak acuh kini mulai menghangat, begitupun dengan Ayana yang tak berbeda jauh sifat aslinya dengan Raihan.


Namun kini. . .Ayana tengah mengadu kesal dengan nada merajuk. Terlalu horor untuk orang orang di sekitar.


"Iyaa, nanti mas eksekusi. Kamu makan aja sana."


D-dan sejak kapan lo-gue berubah menjadi aku-kamu?


"Gaada Brian malah jadinya ke Raihan?"


Ayana menggeleng, "Gua cuman tertarik sama Brian, bukan suka, apalagi cinta cinta *** kucing."


"Iya, lu gausah sok mikir pacaran. Pikirin dulu ujian lo besok gimana nasibnya,sedangkan lo malah kelayapan!"


Sindiran langsung dari Reza itu bukannya membuat Ayana sadar, malah membuat Ayana cekikikan sambil memesan kopi

__ADS_1


__ADS_2