
"BA--Eh Ayanaku sayang."
Hampir saja Andra mengumpat saat ada yang menarik paksa Ciki yang sedang ia nikmati itu. Ternyata Ayana.
"Ayangiek, ngapain madol sih. . . Anak OSIS kok madol."
"Anak OSIS juga bisa khilaf." Jawab Ayana sambil memakan Ciki hasil rampasannya itu.
Tak ada alasan spesial untuk Ayana yang melarikan diri dari ruang kelas, selain mata pelajaran seni budaya.
Mungkin terdengar aneh, namun sejujurnya Ayana merasakan Hate-Love untuk pelajaran tersebut. Mungkin 55% untuk hate.
"Udah gak marah lo sama gua?"
__ADS_1
"Tergantung, kalau lu beliin gua batagor nya neng Ana, Sabi lah gua pikirin."
Andra mendengus, dan tetap melakukan apa yang diminta Ayana. Sejujurnya Ayana hanya bergurau, namun ini perihal mood nya dan Andra yang menyanggupi. Why not?
"Gua denger abis ini lo sama Dimas turun jabatan ye? Apa digulingin sama anak anak?"
Ayana menyuap sesendok batagor ke mulutnya, "turun jabatan gimana maksudnya?"
"Lepas atribut dari Ketua OSIS sama wakil ketua osis."
Kudu mulai fokus sama pelajaran, apalagi yang mau nerusin ke jenjang yang lebih tinggi.
Kalau dipikir juga, idup Ayana masih gini gini aja. Gak cocok pelajaran madol, pura pura ada urusan sama anak OSIS, bahas perlombaan atau yang paling parah leha leha di musholla sekolahnya.
__ADS_1
Sedangkan temannya, sudah mulai mencari keberadaan beasiswa atau sekedar mencari jurusan yang mereka minati.
Sungguh ketertinggalan yang sangat jauh.
"Tapi kebanyakan anak anak juga pinginnya lo sama Dimas yang jadi pemegang kekuasaan penuh nya."
"Emang kenapa?"
"Ya secara siapa berani negur pas lu atau Dimas yang mencetus ide aneh buat ngancurin sekolah?"
Ayana tertawa mendengarnya. Well, itu memang terjadi sebenarnya. Tapi untuk menghancurkan? Ayana rasa itu terlalu aneh?
Tahun kemaren, tepat pada perayaan 17 Agustus. Sekolah mereka mengadakan lomba seperti pada umunya, hanya saja ada satu lomba yang digemari oleh para siswa dan yang paling ia benci.
__ADS_1
Lomba menghias dinding bertema Pahlawan. Yang awalnya diutaran oleh kakak tingkatnya, dan ia bahas saat rapat OSIS. Bersyukur semua orang yang hadir pada setuju, dan lebih bersyukur lagi dinding dinding tembok sekolahan tak sehancur yang dibayangkan.
"Ya mau gimana lagi, toh hasilnya bagus, di contoh anak sekolah lain pula. Walaupun gak seekstrim sekolah kita sih."