Ayana

Ayana
22. orang ketiga


__ADS_3

Ayana menghentakkan kasar tangan Brian yang sejak tadi mencengkeram pergelangan nya.


Sedikit tersentak, Brian yang berjalan di depan Ayana pun sontak menoleh ke arahnya.


Terlihat begitu marah dengan rahang yang semakin mengeras.


"Apa cara berterima kasih ke orang kayak gini? Dengan cara menyakitinya?"


Brian tak menjawab, namun dapat dipastika jika lelaki itu benar benar menahan emosi yang sudah memuncak.


"Apa maksud lo, hah?!"


Menyenderkan badannya di tembok parkiran khusus mobil, Ayana dengan santai malah melipat kedua tangannya di depan dada.


Memerhatikan dengan intens bagaiman perubahan demi perubahan yang berubah dalam mimik wajah lelaki itu.


"Brian ku sayang, lo pikir gua gak tau kalau lu gak nyaman keluar berdua sama cewek aneh itu."


Salah dugaan, yang awalnya Ayana mengira Brian tengah pergi bersama teman temannya atau sekedar me time namun ternyata lelaki itu tengah berkencan.


Lia, nama gadis yang bersama dengan Brian tadi adalah Lia. Bagaimana ia bisa tau? Tercetak jelas di seragam gadis itu.

__ADS_1


Sekarang ia tau fungsi nama yang dijait di beberapa seragam sekolah itu.


Dan Ayana juga tau, jika Brian sangat tidak menyukai gadis bernama Lia itu. Entah apa alasannya, yang jelas Ayana tau tentang itu.


"Tapi bukan berarti lo seenaknya ngaku special someone!"


"Terus gua kudu ngaku siapa? Adek lo? Atau sepupu lo?"


Skakmat. Brian tak bisa berkutik untuk menjawab ucapan Ayana.


Ayana tersenyum simpul. Ia masih ingat bagaimana caranya dan perubahan wajah Lia maupun Brian saat dirinya mengaku orang spesial dari lelaki tersebut.


Namun apa salahnya? Menyelamatkan dari kucing garong kudu menyelam di Empang? Setidaknya kini Brian bisa Kabur dari jeratan keong racun tadi.


Ayana mengangguk, "itu emang bener, tapi kalau lu sama gua gak terikat."


Raihan lagi lagi tak menjawab. Ia menghela nafasnya kasar, berdebat maupun apapun itu yang berhubungan dengan gadis di hadapannya ini sangat rumit.


Dan ia selalu kalah, apalagi dalam perdebatan.


"Ayo balik, kali ini gua anter."

__ADS_1


Ayana menggeleng pelan, sambil membenarkan pakaiannya yang mulai lungset.


"Lo balik aja sendiri, gua bawa motor. Sorry, tapi gua sengaja boong, ucapan makasihnya next time aja. Bye!" Dan Ayana melesat pergi.


Lari dari area parkir mobil, menuju ke area parkiran motor. Yang letaknya tentu saja sangat berlawanan.


Meninggalkan Brian dengan emosinya, gadis itu benar benar tak punya rasa takut rupanya.


Bugh!!


Emosi Brian tersalurkan, hingga membuat darah menetes di permukaan tangaannya.


Bugh!!


Kedua kalinya, untuk Ayana yang tak bisa ia kendalikan dengan apapun.


Bugh!!


Dan yang terakhir, lagi lagi ia persembahkan untuk Ayana. Gadis sialan yang berani mengusik dirinya.


Brian berjalan ke arah mobilnya, membiarkan bercak darah di tangan maupun di dinding yang ia hantam mengalir dengan derasnya.

__ADS_1


Jika bukan karena seseorang, Brian tak akan mau bertahan di daerah yang membuat darahnya mendidih terus.


Ia tak suka di ganggu, dia benci siapapun yang menggangu kehidupan nya. Dan ia juga benci terhadap Ayana. Apapun yang menyangkut Ayana.


__ADS_2