
"PLISSS PEGANGIN KEPALA GUA, RASANYA MAU COPOT DONG!!"
Sejak tadi, Ayana tak henti hentinya menjerit karena kepalanya yang terasa begitu berat. Entah karena bobot naik, atau karena isi pikiran yang naik.
Ujian semakin di percepat, padahal baru kemaren ia bernafas lega karena gurunya bilang istirahat dahulu dari ujian ujian.
Ternyata oh ternyata, kejutan memang selalu membuat detak jantung balapan. Dan kadonya kepalanya pun ikut menjerit histeris karena tak mampu menjelaskan.
Try Out memang sudah dilaksanakan Minggu kemaren, namun --ah entahlah semua terasa nano nano.
Mencoret coret buku tulis bagian belakang adalah hal yang wajib dilaksanakan. Entah karena bosan, bete, boring, apalagi kesal seperti saat ini.
Pokoknya halaman belakang buku tulis gak boleh sampai kosong!
"Kalau tau tempat tuker tambah kepala, atau paling gak tempat servis kepala langsung PC gua ya. Butuh banget ini tolong!!"
Di kelas cuman jadi makhluk penunggu, itung itung gak sampai lewatin absen lah biar gak makin ribet urusan dilulusinnya.
Mana belom lagi pelajaran yang cuman numpang lewat di otaknya, gak mau bertahan atau sekedar mampir.
Mungkin belajar sistem kebut semalam atau lebih dikenal sebagai SKS adalah jawaban. Dan Cap-Cip-Cup kembang kuncup adalah opsi terakhir kalau udah mentok.
Berjalan ke luar kelas dengan sempoyongan sangat tidak mencerminkan seorang Ayana, namun karena gumoh dengan kejutam demi kejutan hari ini. Membuat tubuhnya mulai linglung.
Pandangan Ayana kosong, ia sendiri tak yakin jika teman teman satu kelasnya tidak bernasib sama seperti dirinya saat ini.
Yang tiba tiba menjadi zombie dalam kehidupan nyata.
__ADS_1
"Gua denger kelas Lo udah selesai ujian praktek ya?"
Itu suara Dimas, Ayana sudah sangat hafal dengan suara khas lelaki menyebalkan itu.
"Dim, pesenin gua soto dong! Gua butuh energi buat menghadapi kenyataan ini."
"Bahasa lu udah kayak disuruh ngelewatin batas peradaban ae."
"Berisik pak aji! Cepetan pesenin dulu, sekalian Aqua, gua butuh kesadaran secepatnya!!"
Walaupun rada ogah ogahan, Dimas tetap menuruti ucapan Ayana yang lebih mirip perintah itu.
Satu porsi soto, dan satu botol Aqua ukuran sedang kan?
Meninggalkan Dimas yang sedang melaksanakan tugas dari ibu negara, Ayana terlihat duduk di bangku kantin dengan bengong.
"Ini, silahkan dinikmati nona."
Ayana langsung menyambar botol air mineral tersebut, menegaknya dengan terburu buru. Hingga tak sadar telah menghabiskan setengah bagiannya.
"Santai dong Bu, gak bakal ada yang berani ngerebut makanan lo. Calm down. . ."
Ayana tak menggubris, baginya saat ini yaitu mengembalikan jati diri serta nyawanya yang mulai diombang ambing.
Siang siang, ya gak terlalu siang sih, tapi jam berapapun emang paling enak makan soto!
Apalagi ditambah jeruk nipis, udah lah, emang gaada tandingannya kalau begitu mah!
__ADS_1
Semangkok soto pun telah habis dilahap Ayana, dan tak lupa ia kembali meminum air yang tadi.
Segarnya sampai teguk terakhir itu emang paling bener, Joss lah pokoknya..
"Tadi lo tanya apaan? Sorry, tadi di kelas lagi olahraga jantung makanya sampe gak fokus."
"Di kelas lo udah ujian praktek ya?"
Ayana mengangguk, "yups, udah lewat dari jaman bahola juga. Emang kenapa?"
Dimas tersenyum, dengan berlagak canggung lelaki itu mengusap tengkuknya sendiri.
"Kasih tau dong Na, yang dibutuhin apaan ae."
"Biar apaan emang kalau gitu?"
"Biar nilai gua bagus Na, kan kelas 12 gabisa di ulang lagi."
Ayana mendelik, hingga tak sadar menggebrak meja kantin yang ia singgahi.
"TERUS MAKSUD LO TANYA GITU BIAR NILAI LO LEBIH TINGGI KETIMBANG GUA GITU?"
Ayana mendecih. "Gak! Enak aja lo, lu aja selama ini pelit sama gua ngapain gua baikin lo!"
"Dih kek gitu, dosa lu nyimpen dendam Na!"
"Mending nilai lu jelek aja biar ngulang ke kelas 12, ketimbang gua kasih tau soalnya!"
__ADS_1
Dimas merenggut, "pelit kuburan lo sempit! Yang awalnya 2 meter, gua sengketa jadi 1 meter!"