Ayana

Ayana
31. merah


__ADS_3

"Tapi dia juga bapak lo Kiana!"


Suara Brian tak meninggi maupun merendah, namun tetap terdengar begitu marah.


Wajahnya yang putih kini perlahan mulai memerah, terlihat begitu emosional.


Ayana perlahan mulai tersenyum begitu manis, seperti melupakan apa yang sedang terjadi saat ini.


Membelai lembut puncak kepala Brian, lalu turun mengusap sebelah mata lelaki itu pelan, membuat tak sadar Brian memejam kan kedua matanya.


Turun melewati pipi, dan berhenti tepat di bawah dagu. Nampak jelas setengah dari wajah Brian terbalut noda merah dari telapak tangan Ayana yang masih mengeluarkan darah dengan deras.


"Dia memang berstatus sebagai ayah, namun hanya untuk lu Brian, gak berlaku buat gue."


Tangan Brian menggenggam begitu erat mendengar penuturan gadis yang sebenarnya adalah adiknya sendiri.


Begitu lembut, semuanya. Dari setiap penuturan nya, sentuhannya, bahkan perilakunya, Brian mulai menyukai semua yang dilakukan oleh Ayana.


Namun tidak dengan ini.


"Lo tau karena apa?" Wajah Ayana mendekat, membuat Brian tak sadar menahan nafasnya begitu saja.


Menatap sayu lelaki di hadapannya, Ayana tau jelas jika bola matanya sama dengan orang yang merusak kehidupan nya.


Dan Ayana bukan gadis bodoh untuk memberikan kesempatan dan hidup bersama kedua lelaki yang menyakiti dirinya itu.


"Because, i don't have a father."

__ADS_1


BUGH!!


Dengan posisi di belakang Ayana adalah sebuah pohon, memudahkan Brian meluapkan emosinya.


Berbeda dengan Ayana yang biasanya akan kaget, seperti sudah menduga hal ini terjadi. Lagi lagi Ayana melempar kan senyum manisnya ke arah Brian.


"i don't have father."


BUGH!!


"I don't have father."


BUGHH!!!


"I don't have father."


BUGHH!!


Seakan tuli dengan teriakan orang orang disekitar nya, dan semakin merasa tertantang.


Ayana kembali menggoda Brian.


"*i don't have father."


BUGHH*!!!


"AYANAAA!!"

__ADS_1


Ayana melirik ke arah kiri, tepat dimana tangan Brian yang tengah menghantam pohon mangga di belakang nya.


Darah segar mulai meluncur di sela sela jari nya.


"Ini cuman uji coba, seberapa kuat nyali seorang Brian Aditama melawan sakit di tubuh nya, bukan kewarasan nya."


"Gua suka warna merah, dan ya! Lihat, sekarang tangan kita memiliki warna tersebut, manis bukan?"


Lagi dan lagi, tangan Ayana yang masih di guyur darah itu menempel di pipi Brian. Tak lama. Karena ia juga memberikan bercak darahnya di lengan tangan pria tersebut.


Menempelkan nya, dan menggenggamnya. Seperti tak memiliki rasa sakit yang ditimbulkannya.


"Lo mau apa, bilang ke gua Kiana! Lo mau apa supaya Lo mau ngedonorin darah lo buat bokap Lo sendiri!"


Menatap Brian dengan tenang, ia suka keadaan seperti sekarang. Benar benar menguntungkan untuk dirinya.


Sebut saja Ayana seorang psikopat, ia tak akan perduli.


Sekian lama ia menantikan ini, saat dimana semua emosi, rasa amarah, dan kecewa mulai terluapkan.


Dia juga manusia, hanya saja, selama ini ia memperlihatkan jiwa akting nya untung mengelabui orang di sekitarnya.


Berwajah dua? Jangan munafik, semua orang pasti membutuhkan nya. Entah untuk menutupi kesedihannya, atau seperti yang Ayana lakukan sekarang.


Membalas rasa sakitnya.


"Nyawa lu Brian."

__ADS_1


"Kasih gua itu, dan bakal gua kasih darah gua ke bokap lo."


Hangat dan tenang, itulah Ayana maupun Kiana yang sebenarnya.


__ADS_2