Ayana

Ayana
21. nongki


__ADS_3

"Gua akuin Brian emang ganteng, tapi sejak kapan lo se agresif ini?"


Lepas pulang dari sekolah, Putri dan Ayana memilih untuk bertemu di kafe salah satu mall di pusat kota.


Hanya ingin berbincang hangat sekalian ghibah sana sini, lagian hampir semingguan mereka ngumpul bareng tapi gak serius.


Ya alasan ngumpulnya bareng cecenguk nya Andra, dan Putri lebih memilih berdua dengan pacar bucinnya.


Namun sayangnya, mereka berdua sama sama bucin.


"Agresif gimana? Nyakar nyakar sampe baku tembak maksud lo?"


"Ya gak gitu juga Maemunah!"


Ayana terkikik saat memerhatikan wajah Putri yang mulai berubah karena kesal terhadap nya.


Ting!


**Andra:


Dicariin bunda, tapi berhubung gua masih pundung, jadi gausah mampir**.


Pesan dari Andra emang tak kalah absurd nya dengan sifat asli lelaki itu, membuat Ayana semakin bingung dibuatnya.


Pundung? Bahkan tadi di sekolah Andra merengek minta dibayarin bakso karena lupa bawa dompet.


Padahal Andra sendiri yang bilang mau nraktir dirinya hari ini, sungguh bullshit.


Kok malah Andra yang pundung?


"Na, lo gak suka beneran kan sama Brian?"


"Kenapa? Lo juga suka sama Brian?"

__ADS_1


"Ngaco! Gua masih setia sama Dio ya, beda lagi kalau lu, bosen nyari ganti!"


Tak merasa kesal, lagi pula untuk apa merasa kesal terhadap sahabat sendiri yang mengatakan sifat asli kita?


Ayana menyesap americano miliknya, terlihat begitu menikmati. Padahal isi dalam minuman milik Ayana adalah americano 3 shoot plus no sugar.


Putri yang mengingat jelas americano one shoot saja rasanya membuatnya ingin muntah, apalagi ini.


Kalau ditanya kenapa no sugar, pasti Ayana dengan percaya dirinya menjawab. Untuk apa gua ngengonsumsi yang manis manis? Sedangkan gula aja insecure sama gua.


Cih, terlalu percaya diri.


"Kenapa lo? Mau lepas kepala atau gimana?" tanya Ayana yang melihat Putri menggelengkan kepalanya berulang kali dengan tempo yanh cepat.


"Gak lah! Cuman abis kebayang hal yang nyeremin, makanya gua amit amit in."


Ayana hanya mengangguk, lalu kembali menatap orang orang yang berlalu lalang dengan ramai nya.


Ya wajar sih, namanya juga tempat umum.


"Lah kenapa coba?"


"Rata rata orang pada jalan sama pacarnya, yang ada ntar dikira gua lesbian sama lo!"


"Lambemu!"


Iya, suer dah, percaya sama Ayana buat kali ini! Matanya sampe disipit sipit in buat ngepastiin yang dia lihat.


Ternyata bener, rata rata orang yang Dateng ke sini itu belanja atau gak nongki bonusnya sekalian pacaran.


Ah serem deh kalau bawa kata pacar gini!


"By the way, lo mau lanjut gimana abis SMA ini? Gak mungkin dong lu masih leha leha di zona nyaman Lo."

__ADS_1


Ayana tersenyum kecut, lalu menaruh kepalanya di atas meja. "Gak tau juga, yang jelas gak nikah dulu."


"Kenapa? Lo masih belom siap megang tanggung jawab?"


"Gila lo!" Ucap Ayana kesal. "Gua belom nikah aja tanggung jawab buat gua banyaknya ngalahin list belanja di shoope, apalagi kalau udah nikah!"


Ayana memegang kepalanya, sambil menggelengkan kepalanya. "Gak, udah gua mau orang sukses dulu!"


"Orang kalau mau sukses biasanya pada belajar, berdoa, lah lu malah kelayapan ngopi sana sini."


Sebenarnya bingung mau jawaban gimana, ini pembahasan terlalu jauh menurut nya. Walaupun ia sudah memasuki masa masa ujian tanpa napas, alias ujian terosssssssss. Tapi tetep aja, otak nya mampet.


Boro boro mikirin ke depannya, buat mikir fisika sama Matematika aja masih bingung. Apalagi nilai bahasanya terus menurun.


Ini otaknya udah bener bener mentok, makanya ngopi adalah jalan Scoopy nya biar gak depresi.


"Kata bapak gua, semakin pait kopi yang diminum semakin besar pula masalah yang dihadapi orang itu. Emang bener, Na?"


Ayana terdiam sebentar, eh lumayan lama. Guna mencerna setiap kata yang dilontarkan Putri.


"Tapi kenapa gua gasuka kopi? Idup gua juga kan gak semulus wajahnya Sehun!"


Ayana memalingkan wajahnya, lebih tepat ke membuang muka saat mendengar kelanjutan kalimat Putri. "Kenapa lo gak tanya bapak lo aja? Kayaknya bapak lo tau filosofi kopi."


Awalnya ia sedikit merenggut, namun saat membuang muka ternyata dapet bonus.


Di antrian donat jco yang membludak, Ayana melihat Brian tengah mengantri sendirian.


Ia bersyukur kafe ini menggunakan kaca yang transparan, nilai plus buat orang yang mau pdkt an.


"Kayak nya gua bakal kasih ni kafe bintang lima deh buat penilaian,"Ayana tersenyum lantas bangkit dari duduknya.


"Mau kemana lo?"

__ADS_1


"Nulis kesan dan pesan ke barista nya, sekalian nemenin si manis ngantri."Ayana diam sebentar. "Lo balik sama Dio aja gih, gua mau ngeeksekusi orang dulu."


__ADS_2