
"YA GAK GITU KONSEP NYA NAAAA."
Ayana menutup kedua telinganya, menyelamatkan gendang telinganya dari teriakan maut Sinta.
Niat hati ingin kembali kabur, namun udah dicegat duluan. Alhasil ikut pelajaran seni dapet kelompok sama Sinta.
Ibarat udah jatoh, ketimpa kenangan pula. Gaenak lah pokoknya, Ayana gak ngerti pribahasa segala macem soalnya.
"Ya kan tadi lo bilang terserah gimana caranya yang penting ada gambar macan nya, sekarang kok lu malah marahin gua sih."
" Tapi gak nyari di google terus di print juga Na, itu mah bukan hasil karya sendiri namanya."
"Ya kalau gitu lu gambar aja sendiri, repot amat."
Ayana mendengus, ia masih mau mengerjakan tugas yang diberikan gurunya asal bukan pelajaran seni.
Sungguh, lebih baik dia mengerjakan tugas Matematika dan fisika secara bergantian ketimbang berurusan dengan seni.
Atau menghafal pelajaran sejarah, mungkin. itu lebih baik.
Ayana, gadis itu hanya diam sambil memerhatikan Sinta yang sibuk mengerjakan tugas yang sebenarnya berkelompok itu.
Sebenarnya ia tak tega, namun rasa tidak sukanya jauh lebih besar ketimbang rasa tak tega tersebut.
Memang satu kelompok terdiri dari dua sampai tiga orang saja, dan ia kedapatan hanya bersama Sinta.
"Lo kenapa gak ngikut anak lain aja sih? Kan sama aja Lo ngerjain sendiri tugasnya."
__ADS_1
Sinta yang awalnya sibuk menggambar, kini menatap ke arah Ayana yang tengah duduk santai sambil bersendekap dada.
Hanya sebentar, sebelum ia kembali melanjutkan kegiatan menggambarnya.
"Segitu gak sukanya ya lo sama pelajaran ini? Sampai lo selalu keluar kelas buat ngehindarin nya."
Ayana mendecih, bukannya menjawab pertanyaan yang ia lontarkan gadis itu malah balik bertanya kepada dirinya.
"Arti seni dalam hidup lu itu apa sih? Semua orang suka seni, tapi lu malah ngejauhin dan merelakan nilai rapot lu merah karena hal sepele kayak gini."
Ayana tak menjawab. Gadis itu malah membuang mukanya malas, terlalu ikut campur batinnya.
SELURUH ANGGOTA OSIS DIHARAP SEGERA KE RUANG OSIS
Akhirnya ada juga yang menyelamatkan hidupnya, dengan cepat ia langsung bangkit dan merapikan seragamnya yang kusut seperti mood nya.
"Lo mau kemana?"
Ayana melangkah kakinya ke Bu Inayah, berniat pamit ke guru tersebut agar kesannya tetap menghargai keberadaan beliau.
Setelah mengantongi ijin, dengan langkah riang, Ayana berjalan keluar kelas.
Namun sebelum itu ia kembali ke bangku Sinta, menundukkan sedikit badannya agar bisa berbisik ke telinga gadis itu.
"Berhenti buat tanya apapun tentang alasan dibalik tindakan gua, lu gamau diganggu kan batas kenyamanan lu?"
Ayana kembali tersenyum, itu hanya gertakan karena zona nyamannya di usik. Semua orang memiliki hak buat bertanya tapi bukan untuk menggangu kenyamanan.
__ADS_1
"BELAJAR YANG BENER LO SEMUA, BIAR SUKSES, INGET UTANG LU DI IBU KANTIN SAMA BENDAHARA MASIH BANYAK!!"
Dan mendadak kelas ricuh dibuatnya. Karena ucapan Ayana, guru seni yang sedang tengah membolak balik kan buku itu lantas bangkit untuk menarik uang kas.
"Kan sesuai tebakan, lo pasti kesini bukan ke ruang osis."
Ayana tersenyum, ternyata Dimas sudah menunggu kedatangan hingga repot repot datang ke kantin.
Tempat keramat seluruh siswa sekolah.
"Gua manggil seluruh anak OSIS karena ada yang mau dibahas, bukan malah nyerempet kabur ke kantin."
Tanpa menunggu jawaban Ayana yang lebih ke memberi alasan, Dimas langsung menggeret tangan Ayana untuk ke ruang Osis.
Sedangkan Ayana hanya misuh misuh dalam hati karena di tarik secara paksa.
"Bentar dong Dim, hp gua bunyi, gua liat dulu. Kalau didiemin ntar malah ganggu rapat."
Tepat di depan pintu ruang Osis, ponsel Ayana berbunyi. Membuat dirinya meminta ijin ke Dimas terlebih dahulu.
"Gua masuk duluan, awas aja lu sampe kabur kaburan!"
"Iyaa iyaa, Sono masuk duluan." Jawab Ayana sambil mendorong tubuh Dimas agar segera menjauh dari dirinya.
+*62 xxxx-xxxx-xxx
Ay, nanti bisa ketemu di tempat nongkrong*?
__ADS_1
Hanya lewat notifikasi, Ayana mendengus membaca pesan tersebut. Nomor togel ternyata, ia pikir jawaban dari DM yang ia kirim ke Jaehyun.
"Sok akrab bener, kenal kagak malah udahmanggil Ay segala."