Ayana

Ayana
17. Alasan Ayana


__ADS_3

"Kan lu juga tau kalau gua anti sama pelajaran seni, eh malah ditunjuk jadi perwakilan sekolah buat lomba seni. Ya mana Sudi guanya!"


Andra lebih memilih untuk menyumpel telingannha menggunakan earphone, dengan menambahkan volumenya, ia memilih untuk mendengarkan lagu rock yang bisa membuat gendang telinga nya pecah.


Meskipun sejujurnya ia tak menyukai musik. Namun entah mengapa ketimbang mendengar alasan Ayana, ia lebih tertarik mendengarkan musik yang keras.


Karena alasan yang Ayana berikan, jauh lebih keras mengenai hati serta ginjal nya. Bagaimana bisa gadis itu dengan mudahnya memberi alasan karena ia tidak mau menjadi perwakilan sekolah pada lomba seni?


Sangat tidak masuk akal, bukan? Namun Andra juga diamba kebingungan, pasalnya saat SD Ayana sangat menyukai pelajaran tersebut. Dan memasuki SMA ini. . .ia akan memberontak saat disatukan dengan seni.


Aneh kan? Dan Andra menyadari itu.


"Lo berubah tau Ay. . ."


"Gua idup tujuh belas taun kalau gak berubah yakali wujud gua masih bayi dipakai in popok."

__ADS_1


Mendecih pelan, hanya itu yang bisa Andra lakukan. Apapun situasinya, serius adalah hal yang tidak mungkin dilakukan oleh Ayana.


Mau marah tapi gak bisa, gak marah tapi kesel. Gini amat kalau udah memasuki area terombang ambing perasaan.


Andra bangkit, dengan wajah dingin nya ia menendang kasar bangku di depannya. Membuat beberapa orang di kelas Ayana terpekik kaget.


" Mau order gofood gak? Gua dapet voucher gratis ongkir ini."


"Lo pikir ini sekolah nenek moyang lo, main seenaknya order order."


Ayana yang mendengar penuturan Andra itu mendelik tak percaya. Namun sedetik kemudian mengembalikan ekspresi nya menjadi semula.


Ini memang bukan pertama kalinya Andra berbicara pedas, namun ia tetap terkejut saat Andra melakukan hal tersebut.


Ia mengerti, toh ini juga salah dia karena pergi secara tiba tiba. Bahkan tak mengabari satu orang pun.

__ADS_1


"Mau gak? Jam segini rawon nya pak Irwan udah buka, apa mau yang lain?" Ucap Andra sambil melihat ke arah jam tangannya yang mengarah pukul sepuluh itu.


"Emang warungnya Pak Irwan sekarang udah dipasangin go food?" Balik tanya Ayana yang diangguki oleh Andra.


"Wih gile sih, gaul amat ntu bapak bapak." Ucap Ayana terkagum. "Boleh deh, sekalian krupuk udangnya ya. Biar makin mantep."


Andra hanya mengangguk, lalu berjalan menjauh sambil memainkan ponselnya.


"Tunggu di tempat biasanya ae, habis ini kan bel masuk." Ayana mengangguk lalu bangkit.


"Ndra, es jeruk ya, tapi yang manisnya jangan ngalahin gua."


Dan lagi lagi Andra hanya mengangguk menuruti Ayana. Menatap tubuh Ayana yang kian menjauh dari dirinya, begitu membuktikan jika yang dekat pun belum tentu bisa dicapai.


"Tolong ijinin gua sama Ayana ada acara ya, bilangin sama anak kelas gua juga."

__ADS_1


__ADS_2