
"Gak bakal gua kasih racun, sumpah dah."
Niat hati mau pamer kalau bisa masak, alih alih dapet pujian eh malah dapet curiga.
Emang bener kata guru agamanya dulu, kalau pamer itu gak boleh. Dan hanya akan menyakiti diri sendiri. Kini ia merasakan hal tersebut terjadi pada dirinya sendiri.
Itu kata guru agamanya Ayana, beneran dah, kalau Ayana nya sendiri mana mungkin.
Rada oleng gini juga.
Karena sudah terlanjur pamer, dan dibawa ke ruang Osis ya sudah. Tinggal meyakinkan orang orang biadab seperti mereka mereka ini.
"Bukan nya gak percaya, eh emang gak percaya sih. Gua kenal sama lu bukan setaun dua taun ya Na, udah tau seluk beluk lu dari jaman ingusan sampe sekarang jadi fucekgirl gini."
"Fucekgirl gigi lu ompong! Lagian apa hubungannya perkenalan lu sama gua sama ni nastar!"
Dimas menggeleng kan kepalanya beberapa kali, sambil memerhatikan dengan seksama satu buah nastar buatan Ayana yang suda berada di tangannya.
Sengaja ia tak membolehkan satu orangpun yang berada di ruangan ini untuk makan atau sekedar mencicipi rasa kue kering khas wakil ketua osis tersebut.
__ADS_1
"Na, baru seminggu yang lalu lu nelpon gua cuman buat tanya gimana caranya ngehidupin kompor. Dan sekarang. . .Lo pamer bikin nastar?" Dimas tersenyum kecut.
"Gua gak percaya, apalagi lo punya dendam kesumat sama gua. Jadi nilai plus nya gua makin makin gak percaya sama lo."
Ayana cemberut, ingin sekali ia menjambak rambut Dimas atau paling tidak menempelkan kepala dimas ke tembok. Kalau ia tidak ingat jika pak Anwar sedang duduk diantara mereka.
Dan menuruti intrupsi gila dari seorang Dimas Darmono. Teman masa kecilnya yang tetap menjadi orang yang paling tidak penting.
"Pak dicoba dulu dong pak, masa bapak gak percaya sama saya. . .saya kan anak baik baik pak."
"Bapak cari amannya aja Na." Ayana yang mendengar jawaban gurunya itu semakin merasa kesal.
"Ah bapak mah gak adil, masa percaya sama Dimas tapi gabisa percaya sama saya."
"Percaya sama kamu musrik Na."
"Berarti bapak percaya sama Andra juga musryik dong! Kan percaya kudu sama Tuhan, bukan sama makhluk nya!"
"Kalau begitu, saya balik sama jawaban pertama saya. Cari aman."
__ADS_1
Ayana kembali duduk di samping Dimas, menatap satu persatu orang yang berada satu ruangan dengannya.
Mereka nyatanya sama sama menyebalkannya, padahal ia sudah berniat baik kepada mereka.
Maksud Ayana, kapan lagi coba dia sampe rela buang buang waktu rebahannya buat masak kayak begini? Ah mereka belum mengetahui arti perjuangan yang sesungguhnya.
"Na, temen temennya sohibmu bikin ulah lagi. Eksekusi ya."
"Gak mau, bapak aja gamau nge eksekusi kue buatan saya kok. Itu namanya gaada timbal balik nya, kan hidup kudu ada timbal baliknya pak!" Jelas Ayana yang menggebu-gebu namun tetap menahan nada suaranya.
"Kamu kayak anak kecil aja, iya iya ini dimakan. Ayo semuanya makan kue buatan nyonya besar, biar gak ngamuk."
Intrupsi Pak Anwar emang terbaik, walaupun Dimas tak kunjung menuruti gurunya itu. Namun sejauh ini lumayan lah satu ruangan mulai mencicipi kue buatannya.
"Gimana pak? Gak ada rasa mual atau sejenisnya kan?"
Pak Anwar menggeleng, lalu mengambil lagi nastar buatan Ayana yang berada di toples.
"Gaada Dim, sejauh ini aman, kecuali rasa ingin memilikinya."
__ADS_1
"Pak. . ."