
"Briin idih mikin bilim, miwi mikin ipi. Cih, pencitraan."
Malam ini Ayana memutuskan untuk collab masak dengan Raihan.
Gadis itu yang membuat makanan manis, dan Raihan bagian hidangan yang berat. Sesuai dengan keinginan Ayana.
Dan ya, Andra. Sejak sampai di tempat nongkrong nya, lelaki itu tak henti hentinya untuk mengomel dengan cara menirukan seluruh ucapan yang Ayana lontarkan.
Tambahan, apalagi yang menyangkut dengan nama Brian.
"Ntu suami lo kenapa sih Ay? Sensi Mulu heran, udah kayak masker ae."
Ayana menggeleng pelan. "Gak tau, bunting kali,mas."
"Heh, lambemu!"
Ayana hanya menyengir saat mendapat teguran dari Raihan itu. Menampilkan deretan giginya dan dimple yang tercetak jelas di pipi kirinya.
Ayana membuat terang bulan, mungkin lebih terkenal dengan sebutan martabak manis? Intinya Ayana buat itu lah.
Dengan menaburi meses yang ada di dapur warung, alias seadanya, alhasil topingnya penuh sama meses. Padahal Ayana gabisa makan makanan yang ada unsur coklatnya.
Sedangkan Raihan, lelaki itu nampak lihai saat mencicipi masakan yang berada di wajannya. Sejujurnya ia juga tak tau masakan apa yang dibuat Raihan.
"Ay, lo suka makanan apa?"
"Makanan apapun yang gak sehat, soalnya enak."
" Indonesian sekali kamu Ay."
Lantas Ayana dan Raihan tertawa bersama sama. Mengisi dapur yang lumayan sempit ini dengan suara mereka yang menyeruak.
" Berisik, lu berdua masak apa latihan vokal sih?"
Ayana cemburut, terlihat jelas jika mood Andra hari ini benar benar buruk ketimbang lawakannya.
__ADS_1
Entah apa penyebabnya, namun kalau boleh jujur. Andra lucu kalau sensi seperti ini.
Ayana berjalan mendekat, membawa segelas jus alpukat dalam genggamannya.
"Lo lucu kalau bete gini."
Andra nampak mulai tersenyum, jus alpukat adalah kesukaannya.
"Maka--"
" But, i'm sorry boy, ini jus alpukat nya buat si Brian bukan buat lu." Jelas Ayana seraya menarik gelas yang berisi jus alpukat itu. Terlihat jelas bagaimana Andra dengan wajah cerah ingin meraihnya, namun didahului oleh Ayana.
Andra mendengus, membalikkan badannya agar bisa memunggungi gadis itu.
"Terusin aja gaapa! Tadi Brian, sekarang Brian, Brian ini, Brian itu, Brian terussssssss."
---
Ayana dan Raihan berjalan berdampingan, dengan barang bawaan masing masing di tangannya.
Menatanya dengan seksama dan perlahan di atas karpet plastik yang mereka bawa, para gerombolan ini ingin makan makan bertema romantis.
Namun gagal, karena kebanyakan dari mereka berstatus jomblo. Tak terkecuali dengan Ayana maupun Andra.
"Tadi gua bikinin lo jus alpukat, special no sugar. "
Dengan tersenyum manis, Ayana meletakkan gelas tersebut di hadapan Brian.
Nampak jika lelaki itu tak bergeming saat dengan sengaja Ayana menyenggol tangannya.
"Selamat menikmati."
"Tapi gua gasuka jus alpukat, apalagi tanpa gula."
Alih alih berterimakasih, Brian, lelaki itu tanpa menoleh ke arah Ayana, dengan tanpa dosanya langsung menolak pemberian tersebut.
__ADS_1
Tanpa mengincipi, atau paling tidak berterimakasih.
"Yeah, i know about it. Tapi gua emang sengaja buatnya, karena ini jus kesukaan gua."
Dada Brian terlihat naik turun, seperti sedang menahan emosi di dalamnya.
Lelaki itu meletakkan ponselnya yang sedari tadi ia mainkan. Menatap tajam ke arah Ayana yang tak membuat nyali gadis itu menciut.
"Lu mau tau sesuatu?"
Ayana tak menjawab, ia dengan santai nya memposisikan duduknya senyaman mungkin dengan tatapan yang terfokus hanya pada Brian.
"Gua gasuka alpukat, bahkan gua benci buah itu."
Brian dengan sengaja membuang jus tersebut. Dengan tangan yang terjulur ke samping, ia memutar gelas tersebut berkali kali, memastikan jika semua isinya telah keluar.
"Bahkan hanya dengar namanya pun gua muak."
Terdengar begitu tajam dan penuh penekanan, dan Ayana tetap menampilkan senyuman nya.
"Jadi . . .semua yang lu gasuka harus lu singkirin ya?"
Brian tak menjawab, namun wajah lelaki itu benar benar memerah. Seperti orang kepanasan.
"Disingkirkan karena merasa tidak suka, lalu mencari kembali ketika kehilangan." Ayana mengangguk. "Wow, ternyata emang benar kalau manusia seegois ini."
"Untung gua bidadari setengah mermaid. " Tambahnya sambil tertawa kecil.
Merasa aura semakin mencekam, Ayana mulai memperhatikan setiap detail wajah rupawan milik Brian.
Dengan menopang dagu sebagai pertanda ia sedang menikmati ciptaan tuhan yang indah ini.
"Gua rasa emang gak penting buat tau apapun yang menyangkut tentang gua, apalagi buat sekarang."
Brian terdiam.
__ADS_1
"Iya, cuman sekarang, gak tau kalau besok. Bisa jadi juga selepas kita ketemu hari ini."