
Mia beberapa kali bolak balik dapur, ruang makan untuk menyajikan makanan yang selesai dibuatnya. Bukan sekali dua kali Nam Chuan meminta Mia untuk membuat makanan. Padahal makanan buatannya tidak ada mewah mewahnya.
Mungkin dia bosan makan makanan berkelas.
Tidak jauh berbeda dengan Mia. Lazha juga heran terhadap keputusan sepupunya itu. "Yang menyiapkan makan… Dia." Mata Lazha mengikut setiap gerakan Mia.
"Koki Kakak ke mana?" lanjutnya menghadap Nam Chuan.
"Tidak ada. Sudah pulang."
Bohong! Bohong banget, orang Mia saja dibantu koki saat memasak hampir seluruh makanan yang kini tersaji, batin Mia yang ikut mendengarkan pembicaraan kedua orang itu.
Selesai menyajikan di atas meja. Selanjutnya Mia mengambilkan makanan ke atas piring masing masing anggota. Termasuk Nam Chuan juga.
Dan entah perasaannya saja atau memang benar seperti itu adanya. Mia merasa diperhatikan terutama saat mengambilkan makanan untuk Tuan Nam.
Dugaan Mia tentu mengarah pada satu satunya wanita yang baru pertama kali dia temui. Lazha Diandra, tentu saja memangnya ada siapa lagi. Tidak mungkin para pelayan yang sudah terbiasa dengan adegan ini, kan?
Pemikiran Mia itu mengantarkan Mia pada spekulasi spekulasi yang lain seperti 'cinta antara sepupu' atau 'cinta terhalang kata keluarga'. Dimana Lazha yang berperan sebagai orang yang mencintai. Sedangkan Nam Chuan sebagai orang yang tidak peka dan mengabaikan perasaan Lazha.
"Ekhem! Halo, bisakah Kamu buatan salad saja untukku, Aku tidak bisa makan makanan berlemak saat malam hari atau manajerku akan marah besar nanti."
Memalukan! Bisa bisanya Mia melamun saat bekerja. Tapi, yang lebih penting dari itu…
"Salad? Apa itu salad?"
"KAU TIDAK TAHU APA ITU SAL… ekhem! Maksudku, Kamu sungguh tidak tahu salad?" Lazha yang awalnya bicara dengan nada tinggi segera merubah suaranya saat sadar dimana dirinya berada.
Mia yang sedikit terkejut hanya menelengkan kepalanya. Dia juga memang tidak tahu makanan seperti apa yang disebut salad itu.
Lazha terlihat seperti berpikir. Dia bingung bagaimana cara menjelaskan makanan yang dimaksud kepada wanita dihadapannya. "Sayur dengan mayonaise diatasnya, Kamu juga tidak tahu?"
"Oh, maksud Nona sayur mentah yang diberi saus putih itu. Jadi itu namanya Salad," jawab Mia dengan nada lirih diakhiri.
"Tunggu eem… sepuluh menit. Saya akan buatkan dalam sepuluh, Saya permisi dulu Nona," lanjutnya dengan suara penuh semangat seperti biasanya.
Mia kembali ke dapur yang hanya terpisah oleh sekat tanpa memedulikan Lazha yang tetap duduk dengan raut wajah yang meragukannya. Lebih tepatnya, kemampuan Mia.
Tapi sepertinya kecurigaan Lazha tidak berdasar. Sepuluh menit setelahnya. Bahkan mungkin kurang. Mia benar benar datang membawa sepiring salad ditangannya. Entah bagaimana gadis itu membuatnya.
__ADS_1
Ragu ragu Lazha menyuapkan sayuan itu kedalam mulutnya. Tidak ada racun didalamnya, kan?
Satu kunyahan…
Dua kunyahan…
Tiga kunyahan…
Rasanya tidak buruk untuk orang yang pertama kali membuatnya. Tidak terjadi apa apa juga padanya yang mungkin dapat menggangu tubuhnya.
Karena Lazha nya yang memang tidak ingin memuji jadi dia hanya diam dengan wajah puas seolah benar benar fokus menghabiskan makanannya.
Dan Mia kembali pada tugas awal yang seharusnya dia kerjakan sejak tadi. Menyuapi Asiha Paja. Dan mungkin tugasnya jadi bertambah sekarang.
Karena iblis kecil itu sudah memakan makanannya dari tadi dengan tangannya sendiri. Dan itu artinya tidak hanya mulut yang dia suapi. Pipi. Dagu. Bahkan Dahi pun juga tidak lolos dari tangan kecilnya.
Oh Tuhan… kenapa Aku lupa menjauhkan itu!!!
......................
Selesai makan Nam Chuan sekeluarga, di tambah Lazha. Memulai sesi bincang bincang keluarga yang memang biasa diadakan oleh sang kepala keluarga beberapa hari sekali.
Ditemani buah buahan yang dipotong kecil kecil pembicara pun dimulai. "Jadi, sejak kapan Kamu pulang?"
"Aku sampai disini sekitar pukul 2 siang sepertinya," ujar Lazha tidak yakin. Lazha menarik Jurba keatas pangkuannya. "Dan Aku terlalu merindukan Pangeran Kecil ini, jadi mana bisa Aku berdiam diri di rumah saat Kita berada di satu kota yang sama," lanjutnya.
Jurba yang berada diatas pangkuan Lazha mengerutu kesal. Apalagi pipinya juga diserang dengan cubitan cubitan tidak manusiawi. Berusaha turun pun percuma. Tubuhnya didekap dengan erat.
"Dan pekerjaanmu? Kamu menetapkan atau hanya mampir sebentar?"
"Ck! Kamu memang selalu memikirkan pekerjaan seseorang ya?!" nada jengkel sekaligus menyindir Lazha keluarkan. Entah orang yang disindir menyadari atau tidak.
"Ayolah Kak, si Jadwal Berjalan itu hanya memberiku waktu satu bulan untuk berleha leha setelah selesai pemotretan di Kañ Äda sebelum pergi ke Lèngkùas bulan depan," lanjutnya seolah mengadu.
Sementara itu, tidak jauh disamping Asiha, Mia masih bertanya tanya apa pekerjaan wanita yang baru pertama kali dilihatnya itu. Kenapa dia harus sering berpergian ke berbagai negara?
"Oh, selamat. Manajermu tahu apa yang bagus itu model yang mulai naik daun seperti Kamu."
Jawaban Nam Chuan cukup membuat Mia tercengang. Entah dengan orang yang diberi selamat. Karena, pria itu mengungkapkan selamat tanpa ada senyum diwajahnya. Seolah ucapannya hanyalah sebagai formalitas belaka. Dengan kata lain, tidak dari hati.
__ADS_1
Sepertinya meskipun sepupu bukan berarti Lazha bisa membuat hati kaku sang Duda mencair. Selain itu, Mia jadi tahu kenapa wanita itu mengucapkan namanya dua kali.
Jadi dia artis dan nama panggungnya adalah Lazha Diandra. Aku baru tahu.
"Mia! Bawa anak anak ke kamarnya."
Cukup terkejut saat Nam Chuan tiba tiba memberinya perintah. Melirik jam yang tergantung dan buah yang tersedia di meja ternyata memang sudah waktunya anak anak tidur.
"Tunggu, Kak. Kakak dapat pengasuh seperti Dia ini dari mana?"
gerakan Mia terhenti mendengar perkataan Lazha.
"Kenapa?"
"Aku gak suka Kak. Masa tadi anak anak bertengkar sama Dia dibiarkan. Tidak dihentikan." Lazha menunjuk Mia tanpa mengucapkan namanya seolah enggan menyebutkan namanya yang hanya terdiri dari tiga huruf itu.
"Nanti kalau Jurba terluka gimana? Kan gak lucu kalau keponakan Tante yang tampan terluka," lanjutnya. Melihat Nam Chuan yang tidak menunjukkan respon negatif, malah terkesan biasa biasa saja. Lazha semkin gencar ingin mengadu.
"Dan lagi…"
"Maaf sebelumnya Nona, tapi Tuan Muda Jurba dan Tuan Muda Afi tidak bertengkar. Itu hal wajar yang terjadi pada saudara, terlebih yang usianya tidak berbeda jauh." Tidak peduli akan apa yang terjadi nanti Mia dengan berani menyela ucapan Lazha. Menurutnya ucapan wanita itu cukup berlebihan.
"Lihatkan Kak, Dia bahkan berani menyangkalnya. Kita bisa lihat CCTV sek…"
Entah kenapa dengan hari itu. Yang pasti ucapan Lazha terpotong, lagi. Kali ini Jurba yang berada dipangkuan Lazha yang menyela. "Enggak pernah Pa!!"
Seperti biasa. Seolah tersambung, Afi juga ikut menambahkan, "Bener kata Kak Mia, Kita Gak berantem, kok."
Karena biar bagaimanapun bahaya jika sang ayah benar benar melihat CCTV dan kelakuan mereka selama ini ketahuan.
"Ayo Kak Mia, Afi sudah ngantuk." Ucapan Afi didukung oleh Mia yang berusaha untuk tetap mempertahankan matanya dengan tubuh yang minta digendong. Dengan senang hati Mia menuntun para tuan tuannya ke kamar mereka.
Kurang lebihnya Mia juga mengerti alasan anak itu mengalihkan pembicaraan. Dasar anak kecil yang licik.
......................
Maaf Kakak Kakak Aku udah berusaha banget buat update, tapi otak ngestuck ditengah tengah. Tiap mau ngetik juga ada aja halangannya.
***and last makasih banget buat yang masih tetap setia nyimpen cerita ini di favorit list or only baca aja. Aku seneng banget kalau tahu cerita Aku yang iseng iseng Aku buat ternyata ada yang baca meskipun Aku gak tahu menghibur atau enggak.
__ADS_1
Terima kasih kakak kakak. Sebisa mungkin bakan aku usahain update secepatnya***.