
Seperti yang Mia janjikan. Setelah mendapatkan rapotnya, Jurba tidak henti hentinya mengingatkan Mia akan penawaran gadis itu tempo hari.
Karena raport dibagikan pada hari Sabtu. Dan Jurba tetap pulang di siang hari. Jadi Mia memutuskan untuk menepati janjinya pada keesokan harinya. Meskipun Mia ragu akan diizinkan atau tidak mengingat besok adalah hari libur Tuan Nam.
Namun banyaknya yang harus disiapkan dan waktu tempuh yang cukup menyita waktu serta jadwal tidur siang yang tidak mungkin dilewatkan tidak memungkinkan Mia untuk tetap pergi hari ini juga.
Jadi, kalau dilarang tinggal jelaskan saja. Mudahkan. Tidak lelah juga.
.............
Iya, itu rencana Mia kemarin. Namun siapa sangka kalau izin dapat dengan mudah dikantonginya. Ingatan Mia masih susah melupakan kejadian berapa menit yang lalu sebelum Dia berakhir duduk di mobil yang dikemudikan oleh Tuan Nam sendiri.
Flashback
Makanan untuk sarapan sudah siap. Tuan Nam sudah duduk rapi ditempatnya. Namun anak anak belum turun dari kamarnya. Tentu saja, mereka menunggu Mia menjemput baru muncul itu batang hidungnya.
Setelah meletakkan sayur terakhirnya, Mia mendekati Tuan Nam. Ragu ragu gadis itu bertanya, "Maaf Tuan, kemarin Tuan Jurba bilang ingin pergi jalan jalan dengan Saya. Apakah Tuan mengijinkan?"
Mia tidak berharap apa apa saat menanti jawaban dari pria itu. Kalau pun ditolak, Dia tidak masalah.
"Pergi saja."
Tanpa memperhatikan kalimat yang keluar dari sang lawan bicara. Mia segera menjawab, "Iya, Tuan. Saya akan katakan pada Tuan Jurba kalau _"
"Apa?! Maaf," lanjutnya sedikit berteriak setelah sadar jawaban yang diberikan.
"Pergi saja. Hanya jalan jalan, kan? Ajak juga Afi dan Asiha," ulang Tuan Nam.
"Iya, Tuan. Kalau begitu Saya permisi dulu dan terimakasih." jawab Mia cepat sebelum pergi mempersiapkan anak anak. Selain karena izin yang dengan mudah dikantongi, anak anak juga perlu sarapan.
Flashback End
Mia pandangi lagi bangku penumpang dibelakangnya. Afi antusias menceritakan apa saja yang akan dilakukannya nanti kepada Jurba yang hanya diam mendengarkan dengan wajah tertekuk.
Tentu saja, anak itu kan inginnya jalan jalan sendiri hanya dengan Mia saja. Namun siapa sangka malah ikut satu keluarga.
Diputarnya lagi kepala menghadap ke samping tubuhnya tepat ada bangku supir. Mia tak menyangka kalau Tuan Nam akan ikut juga.
__ADS_1
Tadi saat dirinya sibuk menyiapkan bekal untuk dirinya dan anak anak, Tuan Nam tiba tiba menghampiri dan mengajak berangkat. Padahal barang barang yang akan dibawa belum siap semua.
Jurba sendiri bilang ingin bermain sampai sore saat Mia menyiapkan baju cadangan. Dari pada nanti kelaparan, Mia pun membuat bekal sederhana dari bahan yang cepat matang, seperti telur, tempe, tahu dan sayur sisa sarapan yang masih tersisa banyak.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya plang yang bertuliskan kata "Zoo Land", tempat wisata yang akan mereka kunjungi telah terlihat. Hanya tinggal masuk dan mencari parkir sebentar. Setelahnya mereka bebas bermain.
Setelah melewati pintu masuk, mereka langsung dihadapkan dengan kadang jerapah. Afi yang pada dasarnya suka heboh sudah berteriak sambil berjalan kesana kemari. Afi juga sesekali mencoba mendekat melalui sela sela kerangkeng.
Berbanding terbalik dengan Jurba yang tetap tenang meskipun dikedua matanya terdapat binar kagum. Begitupun Asiha yang tetap berada dalam gendongan ayahnya.
Ayahnya? Iya, gadis kecil itu beralih minta digendong sang Ayah setelah mereka turun dari mobil. Mungkin Asiha rindu dekapan ayahnya.
Meskipun begitu, bukan berarti Mia akan bebas. Jelas itu anggapan yang salah. Karena kini semua beban berada ditangan Mia. Dari tas besar dipundaknya yang berisi pakaian ganti sebagai cadangan dan topi yang belum dipakai pemiliknya, rantang bekal makan siang, sampai kamera polaroid yang sekarang menggantung di lehernya.
Rasanya pundaknya penuh sekali. Tapi lebih baik dari pada menggendong Asiha dan Jurba bersamaan. Seharian, lagi.
Mia masih asik dengan lamunannya saat tiba tiba ujung kaosnya terasa ditarik tarik kecil. Jurba pelakunya. Anak itu terlihat fokus menatap salah satu kandang yang cukup jauh.
Mia memutar kepalanya. Afi terlihat masih asik dengan kandang jerapah yang pertamakali dilihatnya. Ditemani Tuan Nam dengan Asiha yang belum mau turun.
Keduanya berhenti di dekat kerangkeng yang didalamnya terdapat batang yang mungkin hanya buatan. Jurba menarik Mia memasuki kawasan hewan primata.
Sekarang anak itu terlihat memperhatikan ponselnya yang dibawa dari rumah. Sekedar informasi, kedua anak Tuan Nam memang sudah dibekali ponsel sejak pertama kali masuk sekolah. Tapi, Mia membatasi penggunaan benda itu dirumah.
"Monyet!" seru anak itu menunjukkan ponselnya kepada Mia dan menunjuk kadang dihadapannya.
Jadi ini yang anak itu cari. Tapi… bukankah itu materi sekolah anak itu.
Mia masih ingat ada membaca nama hewan yang kini gambarnya ditunjukkan oleh Jurba. Di pelajaran IPA bagian biologi. Bukan hanya Monyet saja. Tapi juga ada yang lain.
Mia merendahkan tubuhnya setara dengan Jurba meskipun agak susah. "Bisa pinjam ponselnya sebentar." Setelah mendapatkan izin, Mia menggulir poto yang ada di ponsel itu. Semua hewan yang ada dalam materi berada di galeri ponsel itu.
Oh, jadi ini alasan anak ini mengajak ke kebun binatang?
Mia menggigit bibir bawahnya agar dia tidak kelepasan berteriak.
Tuan Jurba ingin melakukan study tour mandiri? Uhm… imutnya.
__ADS_1
"Mia, Monyet!"
Ucapan Jurba menghancurkan angan Mia terhadap tuan dihadapannya. Tiba tiba Mia terpikirkan untuk mengusili anak ini sebentar.
Dengan wajah serius, Mia berujar, "Bukan, ini itu kembaran Tuan Jurba."
"Moyet!"
"Tidak, ini berbeda dengan gambar itu. Ini… lebih mirip Tuan Jurba."
"Monyet, Monyet, Monyet! Ini Monyet, Mia bohong!" Mata Jurba melirik Mia tajam, tapi terlihat seperti akan menangis.
Mia pun tertawa kecil. Untung saja di sekitar mereka tidak ramai. Mia mendekati kotak dibelakang Jurba yang sepertinya berisi bio hewan yang ada didalamnya.
"Benar kok ini bukan Monyet. Coba Tuan kesini dulu."
Mata Jurba masih belum berubah. Masih waspada jika seandainya Mia menipunya lagi. Dan jika itu terjadi, Dia tidak akan segan segan untuk berteriak.
Saat ada disamping Mia, mata yang semula awas itu mulai menunjukkan ketertarikannya lagi. Beralih melihat kotak yang cukup tinggi namun masih bisa dilihat Jurba.
"Coba baca ini, nama hewan itu Owa bukan Monyet."
Anak itu terlihat membandingkan gambar dikotak dengan hewan yang dikandang, sesekali dengan yang ada di ponselnya juga.
"Jadi ini bukan Monyet?" tanya Jurba menunjukan kekecewaannya
Dengan wajah yang sudah tidak semenyebalkan tadi, Mia menganggukkan kepalanya. "He'em"
"Kalau begitu Monyetnya yang mana?" Jurba memasang wajah cemberut.
Uh, tidak tahukah Jurba betapa Mia menahan dirinya untuk tidak mencubit pipi gembulnya.
"Bagaimana jika Kita cari sama sama?" tawaran Mia diangguki dengan antusias oleh Jurba.
Dibantu Mia, Jurba mencari semua hewan yang dipelajarinya. Setiap bertemu yang sesuai Jurba akan meminta foto. Entah untuk kenang kenangan atau untuk pamer kepada teman sekelasnya. Mia tidak peduli selama Tuannya senang.
Lagi lagi tanpa Mia sadari segala tingkahnya ada yang memperhatikan dari jauh.
__ADS_1