Baby S(H)Itter

Baby S(H)Itter
Tugas Pertama


__ADS_3

Mia sudah harus bekerja hari ini, saat ini juga. Tanpa ganti pakaian. Karena titah yang lagi lagi keluar dari mulut tuan Nam yang terhormat tidak bisa dibantah.


'Yang harus kamu lakukan sekarang tidurkan tiga anak anakku. Anggap ini sebagai seleksi. Jika menidurkan saja gagal kamu tidak diterima'


sudah Mia duga. Memang tidak bisa semudah itu. Pasti ada seleksinya. Apalagi tidak ada pengalaman kerja terkait pekerjaan yang kini dia geluti. Memang tidak mungkin ayah yang sayang kepada anaknya mencarikan pengurus asal asalan dan asal pungut. Pasti harus memiliki kualitas. Setidaknya ketrampilan dasarnya.


Baiklah, sekarang apa yang harus Mia lakukan?


Anak mana dulu yang harus dia tidurkan?


Jika Mia lihat dari wajahnya, sepertinya anak pertama yang lebih mudah ditidurkan. Tapi menidurkan ketiganya sekaligus sepertinya bukan hal yang sulit.


Setelah memastikan ketiganya selesai dengan makanan mereka, Mia menggiring ketiga menuju kamar. Menurut ingatan Mia dari hasil berkeliling bersama Anli, kamar ketiganya masihlah satu ruangan dilantai dua tepat disamping kamar tuan Nam.


Cklek


Pintu terbuka memperlihatkan isi ruangan yang hanya terdiri dari satu kasur besar dengan nakas dikedua sisinya, dua lemari pakaian dengan beberapa pintu dan dua meja belajar serta pintu lain yang dapat Mia tebak sebagai kamar mandi. Jurba dan Afi dengan sendirinya berjalan kearah kasur dan terlentang dipinggir menyisakan tempat ditengah yang sepertinya memang disengaja untuk diisi oleh Asiha.


Setelah meletakkan Asiha ditengah tengah Jurba dan Hasan Mia bertanya dengan lembut. "Baiklah, apa yang kalian butuhkan sebelum tidur."


"Susu!" kedua laki laki itu menjawab serentak sedangkan Asiha hanya menunjukkan giginya yang mulai tumbuh.


"Oke, tiga susu segera datang." Mia melangkah keluar. Pintu yang tadinya dibuka ditutup kembali.


"Lihatlah wanita itu ingin membuat ayah pergi lagi." Seringai muncul di wajah yang mulai terlihat tampan milik Jurba. Anak itu langsung duduk dan menyenderkan tubuhnya dikepala ranjang setelah pintu tertutup. Tangannya pun ikut bersedekap.


Membangunkan tubuhnya, Afi pun menjawab dengan nada penuh semangat. "Tidak akan aku biarkan."


Tubuhnya condong ke depan dengan kedua tangannya sebagai tumpuan. Bibirnya tertarik membentuk senyum penuh semangat. Matanya pun tak kalah berbinar seolah ini lah yang dia nantikan.


"Kita buat dia menyesal. Kamu setujukan Siha?" Seringai belum hilang dari wajahnya. Hanya saja suara Jurba lebih lembut saat berbicara dengan adik manis di sampingnya. Si kecil yang paham melebarkan senyumnya dengan tawa yang ikut mengudara.


Entah otak ketiganya yang terlalu tinggi atau hanya insting saja. Yang pasti mereka meras jika ada wanita yang mengaku sebagai pengurusnya maka sang ayah tidak akan terlihat oleh mata kecuali saat makan malam dan sarapan. Setelah itu, entah kemana keberadaan ayah mereka.


Dengan gagasan itu sudah cukup untuk mereka memiliki alasan untuk melakukan kejahatannya dibelakang sang ayah. Trio iblis bermuka dua sebutannya. Semua pelayan sudah mengetahui itu, tapi sulit untuk melaporkannya kepada tuan besar. Mereka sudah lebih dahulu diancam oleh si kecil jadi mereka tidak bisa berkutik.


Ditambah sikap para tuan dan nona muda yang terlihat baik didepan tuan besar. Semakin susah pula saksi mata melaporkan.


...----------------...


Dibantu pelayan yang kebetulan berada di dapur. Mia membuat susu untuk para tuan dan nona muda. Tidak sulit baginya untuk membuat susu. Sebagai besar keponakannya Mia yang urus. Hanya saja letaknya yang masih asing membuat Mia membutuhkan orang untuk memberitahunya dimana letak benda yang dicarinya. Dan entah perasaannya sana atau memang benar. Sepertinya ada yang menatapnya dengan pandangan iba.

__ADS_1


Setelah membuat apa yang dia butuhkan di dapur, Mia kembali ke kamar anak anak tuanya. Sedikit kesusahan saat membuka pintu dengan nampan berisi dua gelas susu dan satu botol dot yang juga berisi susu.


"Susunya sudah datang!"


"Apa itu enak?"


mendengar suara lucu sedikit maskulin Jurba, Mia mengalihkan perhatiannya dari nampak yang dia letakkan diatas nakas.


"Tentu saja, ini susu yang biasanya. Tuan muda Jurba ingin mencobanya terlebih dahulu?"


"he'em, bolehkah?"


uuh… lucunya.


Dengan hati hati Mia memberikan segelas susu kepada Jurba. Tidak lupa dia juga memperingatkan kalau sang susu masihlah panas. Mia menanti dengan harap harap cemas.


Susu buatannya cocok, kan?


Tuan muda dihadapannya tidak akan mengkritiknya dengan berakhir pemecatan, kan?


Jantung Mia rasanya mau lepas saat suara si sulung terdengar. Apakah sebentar lagi dia kehilangan pekerjaannya?


"Benarkah?! Kalau begitu bagaimana jika saya buatkan ulang?" Dalam hati Mia terus merapalkan kata 'aku mohon katakan iya' berulang kali.


"Iya, tolong ya Kak"


Sudah aku duga, tuan muda Jurba memng yang terbaik. Engkau telah menyelamatkan aku dengan senyum manismu tuan.


"Baiklah, mohon tunggu sebentar" senyum manis masih sempat tersemat sebelum akhirnya Mia membawa keluar lagi nampan berisi susu dari kamar. Diiringi dengan tatapan kesedihan yang tidak disadari Mia dari Jurba.


Susu kedua


"Terlalu manis"


Susu ketiga


"Terasa hambar"


Susu keempat


"Kurang manis"

__ADS_1


Pasrah dan lelah. Entah sudah susu yang keberapa. Akhirnya Mia membuatnya dikamar disaksikan calon konsumennya langsung yang akan mengkonsumsi sang susu sebelum mereka beranjak tidur. Namun sialnya, kotak susunya malah dijatuhkan Asiha membuat isi dari kutak itu yang memang sudah tidak seberapa jatuh sebagian mengotori lantai.


Dan akhirnya yang dinantikan pun sampai. Susu buatannya di ACC, sebentar lagi dia lulus. Hanya perlu menunggu sampai sang mata tertutup dan terakhir tinggal membersihkan kekacauan yang dia buat. Haaa… memang benar tidak ada pekerjaan yang tidak melelahkan. Anak anak menyebalkan.


Ayo semangat, Mia! Demi gaji fantastis.


...----------------...


Tidak seperti insiden pembuatan susu yang berakhir membuat kekacauan. Acara mandi sore ketiganya terasa lebih tenang. Jurba dan Afi mandi sendiri dengan cepat. Memakaikan baju keduanya pun tidak perlu tenaga ekstra.


Hanya Asiha yang sedikit menangis saat diangkat dari bak mandinya. Dan sedikit lari larian saat dipakaikan baju.


Setelah makan malam, keputusannya telah keluar. Mia, LULUS. Dia dinyatakan tetap bekerja dan tahap terakhir setelah membantu Jurba dan Afi mengerjakan tugas sebelum Mia wisuda. merevisi susu yang telah di ACC tadi siang agar lebih rapi dan efisien agar ketiganya tertidur dan hari Mia pun berakhir.


hahaha… bye bye tuan, tuan dan nona muda.


Mia menutup pintu dengan pelan agar orang yang tertidur didalamnya tidak terbangun lagi.


YES, KASUR I'M COMING!!!


"Kemana?!"


Sebentar lagi tangannya meraih pintu yang menghantarkannya pada kebebasan jika saja suara berat tuan rumah tidak masuk ke gendang telinganya. Berbalik badan Mia menjawab dengan sopan.


"Tuan dan nona sudah tidur Tuan, jadi saya akan pulang."


"Pulang!?"


"Iya, tuan"


Adakah yang aneh dari ucapannya sehingga bos barunya itu melihatnya dengan tatapan bertanya?


"Kemana? Kau kan tinggal disini."


APA!! Suaranya memang datar tapi wajahnya serius. Jadi Mia tidak salah dengar. Tapi…


"Kenapa?"


"Kau tidak membaca kontraknya?! Disana juga tertulis kalau kau harus tinggal disini untuk menjaga anak anakku. Bagaimana jika Asiha terbangun malam malam dan aku sedang tidak ada dirumah? siapa yang akan mengurusnya jika bukan kau. Bodoh!!"


Ooh… sepertinya darah keluar dari keduanya telinganya. Mia tidak sanggup. Baiklah tuan anda menang. Dan hal rumah besar, aku akan tinggal disini. Mohon bantuannya, ya. Semoga aku tidak tersesat.

__ADS_1


__ADS_2