
Tak! Tak! Tak!
Dengan cepat Mia memotong sayuran untuk dibuatnya sebagai sarapan dan mungkin juga bekal untuk kedua tuannya. Setelah semalam mengusung barang barangnya yang tidak seberapa dan diletakan di dalam kamar yang berada di samping serta terhubung dengan kamar anak anak, Mia tidak lagi khawatir dengan uang sewa kontraknya. Makan pun, Mia juga sudah dianggung tuannya
Meskipun Mia tidur larut malam akibat memaksakan diri membereskan barang-barangnya saat itu juga. Mia tetap saja bangun pagi. Bahkan, ayam saja masih enggan bersuara.
Setelah membersihkan diri, Mia turun ke dapur membuat makanan untuknya sekaligus untuk para tuanya. Itupun jika mereka mau memakannya.
Mia tidak tahu apa yang biasanya penghuni rumah ini makan untuk sarapan, jadi Mia membuat makanan sederhana. Setelah berkutat dengan peralatan dapur cukup lama, sampai masakannya pun hampir jadi. Para pelayan belum juga menunjukkan wujudnya.
Kemana mereka semua?
Apa mereka tidak butuh masak dan beres beres?
meskipun rumah memang terlihat rapi bukan berarti tidak perlu dibersihkan, kan? debu, kan tetap bisa menempel kapan saja.
Mia melihat jam yang tergantung di dapur. Jarum pendeknya sudah mencapai angka enam, itu berati tugas pertamanya hari ini sudah dimulai, kan? Baiklah… semangat Mia!
Perlahan Mia naik ke lantai dua.
Ceklek!
Pandangan pertama kala pintu terbuka adalah tiga anak yang lucu tertidur dengan pulas. Imutnya. Haruskah dia bangunkan pemandangan indah ini?
Mia memukul pelan kedua pipinya dan berguma kecil, "Sadar Mia, saatnya bertugas."
Dengan lembut Mia membangunkan kedua tuan kecilnya. Dia juga meminta keduanya untuk segera bersiap jika tidak ingin terlambat ke sekolah. Lagi lagi Mia tertawa kecil melihat kedua tuannya yang berjalan seperti zombie. Lemas dan lunglai. Bahkan matanya pun baru terbuka setengah.
Selama kedua tuannya mandi, Mia mempersiapkan seragam keduanya. Membiarkan gadis kecil satu satunya dalam rumah mengarungi mimpinya lebih lama.
Bersyukurlah pada kemampuan Mia dalam membaca tulisan. Bahkan tulisan dokter sekalipun Mia tetap bisa membacanya. Tidak butuh waktu lama, seragam siap, tinggal memakainya saja. Tas beserta isinya sesuai jadwal pun juga telah siap dibawa.
Setelah membantu kedua tuan mudanya memakai seragam dengan patuh barulah giliran si kecil. Apa iblis kecil dalam rumah itu tidak berulah? Jawabannya tentu saja…
TIDAK MUNGKIN!
__ADS_1
Baru saja Mia membatin, ''Pagi yang cerah dan penuh ketenangan." Mia langsung menarik kata katanya.
Ternyata memang tidak semudah itu.
Baru saja selesai memandikan Asiha, Jurba dan Afi sudah membuat ulah. Kedua anak itu saling berebut alat tulis. bukankah dia sudah memasukan semuanya kedalam tas? Kenapa keluar lagi?
Rasanya ingin menangis saja!
Kemarin insiden susu yang tidak sesuai selera. Sekarang apa lagi?
Belum ada satu jam dan penampilan keduanya kembali berantakan. Rambut yang semula sudah ditatanya dengan rapi kembali berantakan. Ujung baju mencuat keluar sebelah. Sepatu belum terpakai.
Hancur sudah. Penampilan kedua cocok disebut sebagai gembel. Dan jika tuan besar tahu…
Wah, Mia tidak ingin membayangkan.
Tatapan Mia kembali melihat gadis kecil dalam gendongannya yang masih setia menggigit bebek karet yang diambil gadis itu dari bak mandi. Wajah yang terlihat polos seolah tidak tahu apa apa memberikan sedikit harapan dihati Mia.
Nona tidak akan seperti itu juga, kan?
Pertanyaan Mia dijawab dengan tatapan sinis oleh Jurba dan Afi. Oh, apa dia membuat kesalahan? Anak kecil memang susah ditebak.
Harusnya Mia tahu itu. Bukan hanya satu dua anak yang sudah diurusnya. Keponakan dari pihak ibunya ada banyak, dan hampir seluruhnya Mia yang urus.
Selain wajahnya yang imut dan tingkahnya yang menggemaskan. Sisanya, NOL BESAR. Anak anak memang menyebalkan. Tapi Mia tetap suka mereka yang selalu terlihat imut imut.
"Aku mau itu." Afi menujuk pensil bergambar karakter kartun yang dipegang oleh Jurba.
Jurba semakin mengeratkan pegangannya. "Punyaku"
Bagus, keduanya bertengkar lagi. Tunggu dulu…
Kamar tuan Nam disebelah. Suara tuan Afi sangat keras. Kalau tidak tuli seharusnya ayah tiga anak itu sudah kemari sendari tadi. Apalagi Mia sempat mengabaikan keduanya cukup lama.
Apakah ini ujian? Iya, ini pasti ujian.
__ADS_1
Tuan Nam tidak terlihat seperti ayah yang dingin. Tidak mungkin pria itu membiarkan anaknya bertengkar cukup lama, kan?
Ayo berpikir, Mia! Apa yang harus di lakukan pada situasi seperti ini?
Biarkan sampai lelah sendiri?
Laporkan ayahnya?
Atau…
"Maaf Tuan, Tuan"
Selesaikan secara dewasa.
"Nah, sekarang Saya punya dua pensil yang sama. Tuan muda ingin pakai yang mana?" Mia mensejajarkan tubuhnya. Ditangannya terdapat pensil dua pensil yang telah diruncingkan menjadi sama persis. Disamakan dengan pensil yang menjadi objek rebutan.
Sama seperti pena. Tidak bercelah rupanya. Warnanya? Serupa. Ukurannya? Sama. Bentuknya? Apalagi. Memangnya ada berapa bentuk pensil di dunia ini kalau bukan seperti itu itu saja. Apalagi dua pensil itu dibeli dari tempat serta merek yang sama.
Sementara Mia berbangga diri terhadap pemikirannya. Jurba dan Afi tercengang terhadap respon pengasuhnya. Reaksi Mia diluar perkiraan mereka. Tidak seperti para pengasuhnya yang dulu. Mia tidak melaporkan keributan mereka kepada sang ayah.
Keadaan Jurba dan Afi masih tercengang saat Mia menaruh masing masing pensil kepada pemiliknya. Mia juga memperbaiki penampilan keduanya dengan tangannya.
Rambut yang semula awut awutan kini sudah tersusun kembali. Tidak rapih tapi juga tidak berantakan. Baju yang keluar sudah dimasukkan kembali. Dengan mudah Mia mendudukkan kedua tuan mudanya ke kursi sebelum memakaikan sepatu pada dua pasang kaki kecil itu.
Prok!
"Selesai. Tuan Muda ayo turun dan sarapan, kalau tidak kita bisa terlambat nanti"
Jurba dan Afi tersadar mendengar suara tangan yang ditepuk. Memantau penampilannya kembali di cermin. Keduanya memang sudah rapi kembali. Meskipun tidak serapi awal, tapi sudah lebih baik dari tadi.
Membiarkan kedua tuanya berjalan sendiri menuju ruang makan. Mia mendekati Asiha yang setia menggigit dotnya setelah ditinggal menenangkan kedua kakaknya. Gadis kecil yang masih menjadi favorit Mia.
"Adik Kecil, sudah saatnya sarapan. Ayo kita turun ke bawah." Dengan mudahnya Mia mengangkat Asiha kedalam gendongannya.
Asiha yang diangkat tinggi tinggi sebelum masuk kedalam pelukan hangat Mia, tertawa cukup keras. Mia jadi semakin bersemangat menggelitiki Asiha sebelum menyusul tuan tuanya yang sudah lebih dahulu keruang makan.
__ADS_1