
"Siapa yang memasak ini!? ANLI!!"
saat akan mengambil air putih, Chuan melihat adanya makanan diatas counter dapur. Entah dapat dorongan dari mana dirinya mencoba makanan yang baru pertama kali dia lihat itu.
Rasanya seperti tempe. Tapi juga ada manis manisnya seperti kecap. Apa ya namanya? Olahan tempe yang Chuan tahu hanyalah tempe goreng sisanya entahlah.
Anli yang namanya dipanggil tergopoh-gopoh menghampiri sang tuan. "Iya, Tuan"
"Siapa yang membuat ini?" Chuan menunjukkan makanan yang tadi dicicipinya dengan wajah yang tetap datar.
Anli yang tidak tahu bingung harus menjawab apa. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri dengan gelisah.
"Ma__"
...----------------...
Dari arah tangga Mia mendengar pelayan pelayan lain asik bergosip. Semakin dekat suaranya terdengar semakin jelas.
'Habislah, Tuan kan tidak suka sarapan berat. Pasti orang itu akan dihukum.'
'Aku kasihan pada orang itu. Kau tahu siapa yang buat'
'Aku tadi lihat sepertinya Anak Baru yang katanya bekerja sebagai pengasuh Tuan Muda yang buat'
Suara gosipan terhenti kala salah satu pelayan mengkode pelayan yang lain untuk diam. Pelayan itu menyadari kehadiran Mia yang sudah berada disekitar mereka. Mia tidak memperdulikan mereka. Dia tetap berjalan melewati ruangan itu dengan Asiha digendongannya.
Di dapur dia melihat Jurba dan Afi yang sudah duduk anteng di meja makan. Sedangkan di dekat kompor tempat dia menaruh makanan yang baru dia buat berdiri tuannya, Nam Chuan dan juga kepada pelayan, bu Anli.
Setelah menaruh Asiha ditempat duduknya, Mia berjalan mendekati Chuan dan Anli. Mia tidak menyadari kegelisahan yang dirasakan Anli.
Bahkan Mia juga tidak sadar jika kedua tuanya menyembunyikan seringainya.
__ADS_1
"Bukankah Wanita itu membukakan pintu keluarnya sendiri"
"Ma__"
"Maaf Tuan, apa yang Anda lakukan disini?" Anli memelototkan matanya, sedangkan Mia masih tidak sadar akan situasi.
"Itu__" Chuan kembali menunjuk makanan yang dirasakannya. "Kau tahu siapa yang buat?"
Mata Mia melihat apa yang ditunjuk Chuan. "Oh… itu makanan Saya, Tuan. Maaf Saya lupa menyimpannya tadi." Mia mengambil masakannya dan akan menyimpannya di kabinet. "Saya juga sudah menyiapkan nasi goreng untuk Tuan serta tuan muda makan. Semoga Tuan menyukainya."
"Tunggu… Aku makan itu."
Gerakan tangan Mia terhenti. Apa telinganya kembali berhalusinasi? Ini kan hanya bacem yang dia buat seadanya. Mana mungkin orang seperti tuannya yang siang dan malam kemarin memakan makanan barat ingin memakan makanan yang dibuatnya, kan?
"Maaf Tuan tapi.. ini bacem Saya..." ujarnya lirih diakhir.
Meskipun lirih, telinga Chuan masih cukup tajam untuk mendengarnya. Jadi namanya bacem?
Kini bacem yang Mia masak sudah berpindah tangan. Mia mengikuti langkahnya tuannya sambil membawa nasi putih yang telah matang. Dibelakang Mia, Anli juga dengan sigap membawa tiga nasi goreng dan satu mangkuk kecil sup kentang yang dibuat Mia dengan nampan.
Selesai membagikan makanan pada pemiliknya Mia berakhir makan bersama di atas meja yang sama. Tentu saja alasannya adalah perintah tuan Nam.
Anak anaknya tercengang. Pekerjanya lebih tercengang.
Tuannya yang dikenal tidak akan pernah makan nasi di pagi hari. Memaksa bawahannya memberikan makanannya. Dan bukannya membiarkan nya pergi setelah tugasnya selesai. Tuan Nam malah memintanya makan di satu tempat yang sama.
Sungguh sesuatu yang patut diabadikan. Bahkan nyonya mereka yang dulu tidak mampu membuat pria itu makan karbohidrat setiap pagi.
Alasan Jurba tercengang tentu saja berbeda dengan alasan para pekerjanya. Mereka tercengang terhadap keputusan ayahnya yang tidak memecat Mia. Ibunya saja pernah dimarahi hanya karena menasihati Chuan untuk makan nasi di pagi hari biarpun hanya sesuap.
Selesai sarapan tugas Mia tentu saja akan ter-upgred dengan sendirinya. Gadis itu perlu mengantarkan kedua tuan mudanya ke sekolah.
__ADS_1
Dengan mudahnya Mia menyusul Jurba dan Afi yang sudah lebih dahulu berjalan menuju mobil yang akan mengantarkan mereka. Dengan keberadaan dua tas di bahunya. Ditambah lagi dengan Asiha yang tidak mau lepas darinya.
Sejak pertengahan acara sarapan tadi gadis kecil itu sudah berada di atas pangkuan Mia. Sedikit kerepotan saat harus menyuapi si kecil --yang banyak tingkahnya-- makan kala dia sendiri belum selesai sarapan. Tapi Mia tidak memperlihatkannya.
Selama diperjalanan pun Asiha harus berada di pangkuannya. Saat Mia turun Asiha menangis minta digendong dan ikut turun. Jika bisa jujur. Tangan Mia rasanya sudah mulai pegal.
Tujuan berikutnya. Sekolah Jurba. Mia dengan setia memerhatikan jalan yang dilaluinya. Hanya hari ini saja Mia diantara supir. Hari hari berikutnya, Mia harus mengantar sendiri Jurba dan Afi. Itu yang dikatakan tuan Nam.
Untung saja Mia pernah belajar mengendarai besi beroda empat seperti ini. Karena ajakan dari temannya yang cukup mampu saat itu Mia jadi punya sim A. Kartu itu teronggok tak terpakai sampai saat ini.
Mia masih ingat awal dirinya ditipu oleh Panis, temannya. Katanya dirinya hanya perlu menemani dia belajar mobil barunya. Namun saat akan melakukan tes untuk mendapatkan sim, Mia diminta untuk mengikuti tesnya lebih dahulu agar bisa memberikan saran supaya Panis bisa melakukan tes dengan baik.
Mia yang memang tidak pintar pintar sekali tentu sana bingung. Tapi karena katanya Mia adalah orang yang selalu kritis makanya Mia mau. Padahal Mia hanya tidak ingin punya masalah. Biarkan saja apa yang mau orang pikirkan. Bukan urusan Mia.
Tidak terasa mobil yang ditumpangi Mia akhirnya sampai di depan gerbang sekolah Jurba. Dan kakinya mulai mati rasa. Kenapa si kecil rasanya sangat berat sekali?!
Dan ternyata bukan disitu saja ujian Mia. Karena ternyata Jurba juga susah diminta turun jika tidak digendong juga. Apa tuan mudanya yang satu itu habis terbentur sesuatu? Badannya kan tidak cukup kecil untuk Mia gendong. Berdua lagi.
Dengan terpaksa Mia merelakan tubuhnya untuk menggendong Jurba di punggungnya dan Asiha didepannya. Di pundaknya juga tersampir satu tas terakhir.
Lebih sialnya lagi. Jurba tidak hanya minta digendong sampai gerbang. Melainkan sampai depan kelasnya. Untung saja sekolahan itu membebaskan orang tua mengantarkan sang anak sampai masuk kelas selama setelah jam belajar dimulai orang tua atau wali murid sudah pergi dari area sekolah.
Setelah memasuki gerbang ternyata bukan hanya Jurba yang diantar sampai kelas. Beberapa anak pun juga masih di tunggu oleh orang tua mereka. Mengingat mereka masih kelas 1 mungkin hal itu wajar karena para orang tua belum rela berjauhan dari sang anak.
"Nah, Tuan Muda kita sampai. Jangan lupa bintang limanya ya," Mia bergurau sambil menurunkan Jurba
"Pelayananmu jelek. Bintang satu."
Wah… sepertinya tuan muda tidak suka diajak bercanda. Jangan sampai tuan kecilnya itu melaporkan pada tuan besar dan berakhir pemecatannya. memikirkannya saja Mia sudah jengkel.
Double sh**
__ADS_1