Baby S(H)Itter

Baby S(H)Itter
«16» Bernad Ursus Artus


__ADS_3

Masih pagi dan Mia sudah dikejutkan oleh bertambahnya anggota yang menduduki meja makan. Entah kapan pria itu datang.


"Kamu jadi menginap?"


"Iya, tadi pagi Aku sudah membawa barang barangku kesini."


Hanya itu yang Mia dengar dari dua pria dewasa yang telah duduk manis. Setelahnya dia kembali menyibukkan diri menyiapkan makanan di meja makan. Tentunya dengan porsi yang ditambahkan.


Makanan sudah tersaji semua. Mia sudah bersiap memangku Asiha yang sebelumnya didudukkan di kursi. Namun suara dengan nada penuh tanya terdengar membuat Mia meringis merasa tidak enak.


Jujur saja Mia lupa. Oh bukan, tapi tidak tahu kalau akan ada orang lain yang ikut sarapan. Jika dia tahu, mungkin Mia sudah membuat menu yang lain. Mia juga bisa membuat makanan yang biasa dimakan para konglomerat.


"Ini ikan apa? Aku sepertinya baru pertama kali ini lihat ada ikan seperti ini."


"Itu ikan asin Tuan, maaf jika Tuan tidak bisa memakannya, saya bisa membuatkan yang lain."


Hari ini Mia membuat sayur urap dan ikan asin sebagai lauknya. Mia lagi lagi lupa dengan kehadiran orang itu yang mungkin saja tidak biasa dan tidak bisa memakan menu yang dimasaknya.


Mia susah bersiap akan berdiri. Sementara Tuan Bernad malah diam memperhatikan Tuan Nam makan dengan lahap.


Apa seenak itu?


Tidak biasanya pria yang suka sarapan dengan kopi dan roti makan nasi. Bahkan air minumnya juga hanya air putih biasa.


Tidak hanya itu, Tuan Nam bahkan meninggalkan sendoknya dan beralih mengkobok air minum. Anehnya, air minumnya juga tidak diletakan dalam gelas.


Dimana tabel manner yang selalu diterapkan di keluarga Diantoro sejak dulu?


*Bagaimana cara Mia mengurus keluarga ini?


Kenapa jadi absurb semua*?


Dan lagi.


Kenapa bawahan ikut makan disini?!


Batinnya semakin bertanya tanya saat Mia tidak hanya menyuapi Asiha namun juga menyuapi dirinya sendiri juga.

__ADS_1


Dengan ragu ragu Tuan Bernad ikut memasukkan daging bernama ikan asin itu. Dengan menggunakan sendok. Meskipun sedikit sudah.


Rasanya tidak buruk. Apalagi jika ditambah nasi. Asinnya pas. Pantas saja Nam mau memakannya.


Tapi, apa ini… rumput?


"Tuan Bernad?" tanya Mia yang masih tidak yakin pria yang duduk tak jauh darinya itu dapat memakan menu buatannya. Apalagi pria itu makan seperti disuruh makan racun.


Panggilan itu menyentak fokus Tuan Bernad yang asik memandangi daun singkong yang diambilnya. Dengan sendok.


Mia melirik jam yang terus berajalan dan Tuan Bernad yang tadi menyuarakan tanya masih belum menjawab pertanyaan yang Mia lontarkan.


"Ah iya, kenapa Cantik?"


Sangking fokusnya mencoba menu yang terhidang, Tuan Bernad jadi melupakan pertanyaan Mia. Jangankan pertanyaan, nama gadis itu saja Tuan Bernad lupa.


"Tuan Bernad bisa makan itu atau perlu Saya buatkan yang lain?" ulang Mia. Gadis itu sudah berdiri dari tadi. Menanti jawaban yang tak kunjung diberikan sembari meyuapi Asiha. Oh, dan dirinya.


Pipi Asiha yang selalu ikut naik turun saat mengunyah makanan tetap setia menjadi favorit Mia. Gadis Kecil itu selalu terlihat imut dimatanya. Jadi Mia tidak keberatan jika harus menunggu lama.


Terdengar jawaban dari suara asing itu. Mia mendongakkan kepalanya untuk melihat sang empunya. Jujur saja, saat bertanya tadi tatapan Mia masih asik meliat wajah Asiha yang imut.


Biarlah dikata tidak sopan. Dia bukan bosnya yang bisa memecat Mia sesuka hati.


"Aku mau coba makan ini saja dari pada menambah pekerjaanmu nanti."


Setelahnya Tuan Bernad kembali fokus pada ikan asin yang hanya diberi sedikit tepung agar tidak lengket saat digoreng.


Sebenarnya cukup aneh melihat orang makan Ikan pakai sendok. Tapi benar kata Tuan Bernad, untuk apa Mia repot repot menambah pekerjaan dengan memikirkan yang bukan Tuannya.


Namun sepertinya Tuan Bernad belum puas bicara. Setelah menghabiskan hampir setengah porsi makanan yang diambilnya, Tuan Bernad mulai mengeluarkan suara lagi.


"Aku lupa kalau Kita belum benar benar berkenalan. Bernad Ursus Artus, biasa dipanggil Bernad. Kalau namamu siapa, Cantik?"


Tidak perlu bertanya untuk mengetahui siapa yang pria itu ajak bicara. Karena hanya ada dua gadis disana.


Jika bertanya tentang Asiha rasanya tidak mungkin mengingat ayahnya yang sudah memperkenalkan gadis kecil itu dengan rinci.

__ADS_1


Tersenyum canggung, Mia menjawab dengan ragu, "Mia Yamaja, Tuan."


Meskipun Dia tidak mengerti 'table manner' yang sering Tuan Nam terapkan saat tidak Mia ambil alih tugas perdapuran. Dia masih ingat peraturan wajib yang dibuat Tuan Nam.


'JANGAN BICARA SAAT ADA MAIN COURSE ALIAS HIDANGAN UTAMA.'


"Gimana kerjaan Kamu? Enak gak sih cuma ngurus bocil yang ditinggal ibunya."


Ehem!


Tuh, kan sudah terjawab. Silahkan bicara sesuka hati kecuali saat makanan utama terhidang.


...****...


Selesai makan, entah apa maksudnya. Tuan Bernad memaksa mengantar kami, Mia, Jurba, Afi dan Asiha yang pastinya ikut kemanapun Mia pergi.


Mia sudah beberapa kali ditolak, meskipun dengan cara halus. Namun Tuan Bernad tetap bersikeras. Akhirnya Mia mengalah. Nasib baik, dapat sopir gratis.


Sedangkan Tuan Nam baru akan berangkat setelah Tera menjemput. Meskipun keduanya berangkat menggunakan kendaraan yang berbeda.


Di dalam mobil pun Tuan Bernad tidak berhenti bertanya. Bukan soal alamat sekolah anak anak. Tapi lebih ke perasaan. Isi hati Mia. Pertanyaan seperti…


"Kenapa Kamu mau mengurus tiga bocah rewel sekaligus?"


^^^"Karena memang itu tugas Saya."^^^


"Bukan karena ayahnya?"


^^^"Ayahnya? Ada apa dengan ayahnya?"^^^


Dan terus bersambung seolah sedang mengorek sesuatu. Apa pria ini seorang psikiater yang sedang mencoba menebak sifatku?


Kalau pun iya, Mia tidak peduli. Selama ucapan pria itu masih di batas narmal untuk didengarkan anak anak, maka Tuan Bernad aman.


Karena Mia tidak akan mengampuni siapapun itu yang mencoba meracuni keimutan anak asuhannya. Demi cuci mata dan batin tiap pagi. Mia perlu asupan yang imut imut.


Kalau merusak kepolosan terserah. Selama imutnya masih utuh, maka nasibnya aman aman saja.

__ADS_1


__ADS_2