Baby S(H)Itter

Baby S(H)Itter
«9» Real Taman Bermain


__ADS_3

Setelah menghubungi Mia, Nam Chuan pergi ke toilet. Saat kembali rombongannya terasa ada yang kurang.l


Dirinya


Lazha


Asiha


Afi


dan…


Jurba?


"Lazha, Jurba mana?"


"Bukannya tadi ada sama Kakak?" tanya Lazha balik. Wajahnya terlihat seperti benar benar tidak tahu.


"Kamu yakin?" Nam Chuan tidak merasa bersama dengan Jurba. sejak dari rumah Jurba ada bersama dengan Lazha. Itu yang Dia ingat.


Tidak mungkin ketinggalan di taman bermain, kan? Kalau pun Iya Dia harus segera menyusulnya.


Nam Chuan berdiri dengan terburu buru. Baru saja membuka pintu Dirinya dikejutkan dengan kehadiran orang yang dicarinya.


"Maaf, Tuan. Saya baru sampai, Tuan Muda Jurba ingin permen kapas jadi Saya belikan dulu."


Mia berdiri dengan gelisah entah mengapa Dia tidak ingin Tuannya tahu kalau dirinya kelelahan akibat berjalan tergesa gesa menuju kemari.


Berbanding terbalik dengan Nam Chuan yang merasa lega setelah tahu anaknya baik baik saja. Bahkan sudah berada digendongnya setelah diturunkan oleh Mia.


"Tidak apa, ayo masuk."


Tanpa disadari mereka ada seseorang yang melihat mereka dengan ketidaksukaan yang ditutupi.


'Kenapa cepat sekali bertemunya, sial.'

__ADS_1


...***...


Mia berjalan mengikuti Nam Chuan dan duduk di satu satunya kursi kosong yang tersedia. Asiha yang tahu pengasuhnya sudah datang meloncat turun, berpindah ke atas pangkuan Mia.


Pangkuan yang menjadi favoritnya akhir akhir ini. Apalagi Mia adalah orang yang berada didekatnya setiap Asiha ketakutan. Gadis itu semakin nyaman saja ada didekat Mia.


Tak lama setelah Mia duduk, Nam Chuan memanggil pelayan yang akan mencatat pesanan mereka. Sementara itu Asiha memposisikan dirinya untuk tidur, lagi.


Karena sudah waktunya makan siang, maka dengan senang hati Mia akan membuat si Kecil tetap terjaga. Keributan kecil terjadi sebagai bentuk protes Asiha yang merasa terganggu.


...*****...


Selesai makan Mereka kembali ke taman bermain yang sebelumnya sudah mereka sambangi. Suasana di sana sudah lebih bisa digunakan untuk bersenang senang. Dengan kata lain tidak ramai namun juga tidak sepi.


Jarum jam di tangan Nam Chuan sudah menunjukkan angka 1, bukannya mengeluh mengantuk di jam jam biasanya mereka tidur. Mereka malah masih atau bahkan mungkin tambah semangat.


Mia hanya geleng geleng kepala melihat keantusiasan Jurba dan Afi. Kengantukan Asiha bahkan menguar saat mereka menginjak kaki di daerah taman bermain lagi. Meskipun masih enggan turun dari gendongan Asiha.


Karena panas yang terasa sangat terik, Nam Chuan mengajak rombongannya mampir ke stand yang menjual topi. Tak jauh dari dari mereka berdiri, ada yang menjual berbagai jenis topi. Toko itu yang menjadi pilihan Nam Chuan.


Mia memilih topi itu dan membayarnya dengan uangnya sendiri. Terasa pas di kepalanya.


Mia kembali menaruh perhatian kepada Asiha. Gadis kecil itu tidak bicara apa pun saat Mia mengajaknya memilih topi. Padahal kedua kakaknya sudah hampir menentukan pilihannya, mungkin.


Jika tidak sedang berulah tentu sana Jurba dan Afi akan menentukan yang diinginkan. Tapi Mia ragu jika kedua anak itu tidak akan membuat keributan yang menggangu hari liburnya. Tiga puluh hari lebih Mia bekerja tidak ada hari tenang yang berhasil didapatkannya.


"Ma, topi Ma!" Tangan Asiha yang menarik narik topi yang dipakainya menyadarkan Mia dari lamunannya.


Dan untuk panggilan itu ternyata hanya salah paham. Ma yang dimaksud Asiha bukanlah 'Mama' seperti yang Mia pikiran. Melainkan hanya namanya yang 'i' nya dihilangkan.


Asiha memang tidak pernah memanggilnya dengan embel embel apapun. Sudah beberapa kali Tuan Nam memperingati, namun gadis kecil itu tetap jujur jika tidak ingin memanggilnya dengan embel embel.


"Nona Asiha mau topi ini?"


Mendengar pertanyaan Mia, Asiha mengangguk antusias. "Hu'um, topi Ma."

__ADS_1


"Sebentar, ya Saya tanyakan penjualnya dulu ada yang ukurannya kecil tidak."


Bukannya senang karena akan mendapat topi yang sama dengan yang diinginkan. Asiha malah menangis dengan keras. "Ndak, Ndak huaa topi Ma, topi Ma."


"Iya, iya ini buat Nona Asiha ya. Cup cup sudah jangan nangis lagi ya."


Mia yang pada dasarnya tidak terlalu suka memakai topi dengan cepat melepaskan topinya lagi dan memberikannya kepada Asiha membiarkan kepalanya sendiri terkena sinar matahari yang sudah biasa didapatkannya setiap mengantar makanan ke kebun orang tuanya di desa.


Mia membeli topi itu karena desainnya yang cukup menarik perhatian Mia. Dia tidak benar benar ingin memakai topi.


Asiha yang mendapatkan topi dari Mia sekaligus milik Mia kesenangan sendiri. Tidak perlu menunggu lama, Asiha segera memakai topi itu meskipun asal asalan dan sampai menutupi matanya.


Mia segera membenarkan letak sang topi. Tidak lupa mengecilkan pengaitnya juga meskipun percuma karena kepala Asiha yang memang kekecilan.


Selesai dengan Asiha, Mia beralih kepada Jurba dan Afi. "Kalian sudah tahu ingin yang mana?"


"Ini," jawab keduanya bersamaan dengan masing masing membawa topi yang asal ambil dari tempatnya.


Seolah salah pilih keduanya kompam meralat dan menjatuhkan pilihan pada topi yang dipilih Jurba dan Afi secara berlawanan. "Eh, bukan. Yang ini."


"Aku mau yang ini."


"Tidak mau. Aku duluan yang dapat ini."


Kan, sesuai prediksi.


Seolah ada aliran listrik dari kedua mata yang tengah berhadap hadapan, keduanya memperebutkan topi yang dipilih lawan sekaligus mempertahankan topi yang dipilihnya. Padahal jika tidak suka tinggal barter saja selesai.


Mia menurunkan Asiha terlebih dahulu meskipun ada sedikit perlawanan sebelum gadis itu pasrah diturunkan. Dengan tenang Mia merebut kedua topi yang menjadi objek rebutan kali ini.


"Sudah dapat diputuskan akan memilih yang mana, Tuan?" senyuman di wajah Mia malah menbuat kesan mengerika di mata Jurba dan Afi yang berniat masih memperebutkan topi di tangan Mia.


Tanpa menjawab, kedua anak itu kembali menyibukkan dirinya untuk memilih topi yang benar benar ingin mereka beli. Setelah keputusan yang valid diberikan barulah Mia membawanya kepada Tuan Nam untuk dibayar. Mia tidak ingin rugi ganda dalam satu hari.


Selesai urusan dengan topi, keenamnya bersenang senang dengan lebih leluasa. Bahkan Jurba dan Afi dibiarkan berkeliaran kesana kemari selama masih dalam jarak pandang penjaganya. Sangking asiknya mereka bermain sampai matahari hampir tenggelam.

__ADS_1


__ADS_2