
Seperti biasa, sesudah tidur siang dan membersihkan diri. Ketiga anak Nam Chuan akan menunggu sang ayah pulang sambil menonton TV. Dengan beberapa keributan terjadi. Tentu saja.
Meskipun belum genap sebulan Mia disana. Dia sudah hafal hampir seluruh kebiasaan tiga iblis kecil itu secara garis besar. Dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi. Kegiatan mereka tidak jauh jauh beda dengan anak anak seusia mereka.
"JANGAN TONTON INI, TIDAK ADA MAKNANYA!!!"
Oh, sudah akan dimulai
"ADA! KARTUN KAK JURBA YANG TIDAK ADA MAKNANYA!!"
"AFI, TETAP DISANA!!"
Jurba senantiasa menjaga remote yang dipegangnya agar tidak bisa diraih sang adik lagi.
"KAK JURBA! KEMBALIKAN REMOTENYA!!!"
Jurba dan Afi sibuk memperebutkan remote untuk mempertahankan channel yang diinginkan. Afi dengan kartun dua botak berjudul 'Upil & Ipil'. Jurba dengan kehidupan laut dalamnya 'SpongeBob RoundPants'.
Mendengarnya saja sudah membuat kepala Mia rasanya ingin pecah. Dan utung saja si kecil tidak ikut ikutan. Kini Asiha sudah duduk anteng di pangkuannya. Fokus si kecil hanya pada benda kotak kecil dihadapannya yang sedang menayangkan kartun, juga. Marsha and The Bird.
Tidak hanya hari ini. Beberapa hari terakhir Asiha memang menjadi lebih mudah diatur dibanding saat awal awal Mia bekerja.
Setidaknya siksaannya berkurang satu.
Mata Mia melirik Jurba dan Afi yang masih asik saling rebut remote di atas sofa. Selama tidak melebihi batas maka biarkan saja. Mia tahu mereka sengaja membuat kepalanya pusing dengan segala keributan yang mereka buat.
Kecuali masalah kesukaan kartun yang berbeda. Ketiganya memang memiliki selera yang berbeda beda. Tapi tidak sampai berebut seperti itu jika ada Tuan Nam dirumah.
__ADS_1
Salah satu dari mereka akan mengalah dan melihat kartun mereka di kamar. Sekedar informasi, kamar mereka juga di fasilitasi dengan Tv. Bahkan dengan posisi yang lebih nikmat jika dibanding dengan yang di ruang keluarga, menurut Mia.
Akan bahaya jika Afi dan Jurba sudah mulai gigit gigitan. Melihat pose yang tidak diinginkan, Mia sudah mempersiapkan dirinya dengan boneka beruang besar yang berada disalah satu tangannya.
Boneka itu milik Asiha. Mia selalu membawanya kala waktu ketiga anak anak itu akan memiliki sesi menonton mereka. Sebagai jaga jaga jika Afi dan Jurba bertengkar diluar batas jadi Mia bisa menggantikan dirinya dengan boneka yang besarnya melebihi Asiha itu.
"Halo keponakan kesayangan Tante"
......................
Tuk! Tuk! Tuk!
Suara high heels mengema di sepanjang teras yang sepi. Berbanding terbalik dengan ruang yang berada dibalik pintu yang terdengar berisik meskipun samar samar bila didengar dari jarang pemilik sepatu berdiri.
Setelah berada tepat didepan pintu perempuan itu mengetuk pintunya tiga kali sebelum membukanya tanpa kesusahan ataupun menunggu untuk dibukakan. Meskipun bukan rumahnya.
"Halo keponakan kesayangan Tante"
Orang yang dipanggil menolehkan kepalanya menghadap jalur penghubung ruangan itu. Seperti ada kesesuaian antara penglihatan dan pemikiran mereka, kedua anak yang semula ribut di atas sofa tanpa basa basi langsung berlari memeluk perempuan itu.
"TANTE LASA!!"
Perempuan itu Lazha, Lazha Aenar Diandra sepupu Nam Chuan. Keponakan kecilnya itu memang terbiasa memanggilnya Lasa. Pelafalan 'S' dan 'Z', kan memang hampir sama jika dimasukan kedalam kalimat.
"Tante, Tante, Afi minta jajannya Tante"
"Tentu saja, ayo duduk dulu"
__ADS_1
Lazha memang baru pulang dari luar negeri, lebih tepatnya Negara Kañ Äda. Dia sudah mampir sebentar kerumahnya sebelum kesini. Perempuan itu sudah mengira akan permintaan keponakannya sehingga dia juga membawa berbagai jenis makanan kering dari Kañ Äda.
Yang paling banyak dibawanya adalah Butter Tarts. Makanan berbentuk Pai kecil itu menjadi pilihan Lazha saat akan mencarikan oleh oleh untuk keponakannya. Mereka lebih suka dibawakan makanan dari pada barang.
Ketiga anak anak Nam Chuan sudah anteng dengan makanan yang berada di kanan dan kiri tangan mereka. Meskipun Mia sudah menegur, tentu saja itu percuma. Jadi Mia hanya mengawasi dari tempatnya duduk bersama Asiha tadi. Siapa tahu mereka akan tersedak nanti.
Saat asik memperhatikan Mia tersentak kaget ketika perempuan itu mengajaknya bicara.
"Jadi, Kamu siapa?" Masih di tempat duduknya, Lazha bertanya dengan wajah manis.
"Saya Mia, Nona. Pengasuh Tuan Muda dan Nona Muda."
"Aah… jadi Kamu," guma Lazha lirih. Kemudian dia mengulurkan tangannya. "Kalau begitu perkenalkan namaku Lazha Aenar Diandra, mungkin Kamu lebih kenal Aku sebagai Lazha Diandra. Aku cukup terkenal dengan nama itu."
Mia menatap uluran tangan perempuan itu yang masih diluar jangkauannya. Ragu untuk menjabatnya atau tidak. Meskipun nada yang dikeluarkan Lazha terdengar riang, tapi entah mengapa Mia malah merasa merinding.
"Lazha?! Kamu sudah pulang!"
"Kakak! Uh… Aku ingin memelukmu, tapi para kecebongmu menghalangi." Lazha berujar dengan nada sebal yang dibuatnya buat.
"Kalau begitu tidak perlu berdiri." Nam Chuan berjalan mendekati sofa. "Hai Jagoan Papa"
Melihat wajahnya Papanya yang sudah terlihat mata, Afi dengan semangat memamerkan makanan yang dia makan. "Pa, ini enak Aku suka!"
"Iya, habiskan jangan ada yang tersisa." Menegakkan badannya, Nam Chuan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan mencari objek yang selalu berada tak jauh dari anak anaknya.
Nah, ketemu. "Mia, tolong siapakah makan malamnya." Setelah menyetujui perintah Nam Chuan, Mia berdiri dari duduknya. Tidak lupa dia juga menyahut ponselnya yang tadi digunakan untuk menonton kartun oleh Asiha.
__ADS_1
Nam Chuan kembali melihat sepupunya. "Dan, Lazha Kamu ingin makan disini atau pulang?"