Baby S(H)Itter

Baby S(H)Itter
Perkenalkan


__ADS_3

Senyum masih bertengger diwajah manisnya. Mia masih tidak menyangka bahwa dirinya telah resmi memiliki pekerjaan. Pekerjaan yang mudah.


Tidak perlu seragam. Tidak perlu lelah berpikir. Dan yang paling penting, gajinya cukup besar dan mampu untuk dikirim sebagai kepada orang tuanya.


"Ini peringatan, kau sudah menandatangani kontrak. Apapun yang terjadi kau tidak bisa keluar seenaknya." Chuan menatap Mia tegas.


Mia yang masih berbunga bunga menjawab dengan riang "Baik, pak."


"Jangan panggil aku pak! Aku bukan bapakmu."


Mia cukup terkejut dengan seruan Chuan yang tiba tiba. Bahkan wajahnya pun mengkerut tanda tidak senang. Memangnya apa salahnya? Pak bukan berarti dia ayahnya. Itukan wajar untuk panggilan yang lebih tinggi atau atasan.


Mia berpikir panggilan apa yang seharusnya dia ucapkan sekarang. Ataukah dia diam saja? Tapi pria dihadapannya itu terlihat seperti menanti jawaban. Ayo Mia… berpikir. Sekilas kenangan dengan Tera sebelum menemui Chuan melintas di otak kecilnya


'Bukan, saya Tera, tuan Nam sudah menunggu didalam'


Iya, tuan.


Ada kata tuan yang biasa dia coba.


Dengan gugup Mia meralat ucapannya. Dengan harap harap cemas semoga saja panggilannya tidak salah lagi yang dapat mengakibatkan dirinya terpecat tanpa pesangon.


"Baik, tuan"


Mia baru bisa bernafas lega kala melirik wajah Chuan yang terlihat puas. Dia tidak akan dipecat, kan? Syukurlah.


Sebenarnya terbesit sedikit rasa tidak percaya dengan apa yang dilihat dihati Mia.


"Memangnya apa bedanya, dasar orang kaya." Ingin mengatakannya langsung tapi Mia sadar diri. Dia bisa saja jadi dipecat saat itu juga dengan kasus penghinaan. Jadi, memang paling benar menyimpannya dalam hati saja.

__ADS_1


Mia dapat melihat Chuan yang melihat jam ditangannya sebelum pria itu berkata. "Tera, panggil anak anak! waktunya makan siang." Chuan mengalihkan pandangannya menuju Mia lalu lanjut berkata "Dan untukmu…"


...****************...


Disinilah Mia berada. Dirumah yang luasnya entah berapa ini celingak celingukan sendiri seperti maling. Untung saja Mia melihat seorang dengan seragam pelayan memegang alat kebersihan.


Setelah selesai bicara dengan Tera, Chuan langsung memberikan tugas pertama kepada Mia. Titah yang membuat Mia menatap tidak percaya punggung Chuan yang untungnya sedang berjalan menjauhi dirinya.


'Dan untukmu cari Anli, minta dia mengajakmu berkeliling! Aku tidak ingin kau tersesat di rumahku saat menjaga anak anakku nanti.'


Hey… yang benar saja. Rumah ini besar dan Mia baru memasukinya pertama kali ini. Dan… apakah perintah pria itu tidak perlu diralat? Mencari satu orang ditempatkan yang sudah seperti hutan.


"YANG BENAR SAJA DIA GILA YA," ucapan yang hanya akan tertelan kembali dan tidak mungkin keluar jika Mia masih ingat usahanya. Mia belum ingin menjadi pengangguran lagi.


Kembali lagi saat ini.


Setelah saling melempar pertanyaan seperti siapa dan ada kepentingan apa dirinya disini dan Mia balas menanyakan apa yang dicarinya. Mia berhasil menemukan orang yang diminta oleh tuan barunya untuk mengantarnya berkeliling.


Mia itu pelupa, untuk mencegah dirinya berbuat salah Mia selalu membawa buku dan pena kemana mana. Alamat kontrakannya saja ada disana, jadi Mia tidak takut salah alamat.


Dari penjelasan Anli, Mia menulis apa saja yang tidak boleh dilakukan di rumah ini. Salah satunya jangan masuk ruangan dengan pintu bercat hitam. Dan hanya ada satu pintu yang dicat dengan warna hitam, pintu kamar Nam Chuan. Oke, akan Mia usahakan ingat. Kalaupun lupa pintu itukan selalu dikunci. Jadi tidak perlu takut lupa.


Tour terakhir Mia adalah ruang makan yang menyatu dengan dapur. Mia dan Anli menyelesaikan tour bertepatan dengan selesainya keluarga Diantoro makan. Setelah tour Anli kembali ke posisinya semula, berdiri sedikit lebih jauh dari meja makan tepat dibarisan para pelayan yang lain menunggu para tuan dan nona makan.


Mia sudah memposisikan dirinya tepat disamping Anli sebelum namanya dipanggil oleh Chuan. Mia berjalan mendekat. Di meja makan tersebut sudah ada dua orang pria dewasa yang dikenali Mia sebagai Pak Tera dan Tuan Nam. Kini pandangannya bergulir ke arah tiga anak anak yang ada disana. Dua laki laki dan yang paling kecil satu perempuan.Mereka kah yang akan dijaganya? uuh… lucunya.


"Anak anak dia Mia, pengurus baru kalian." Chuan menunjuk Mia yang berada diujung meja yang bersebrangan dengannya.


mendengar pemberitahuan dari sang Tuan Mia sudah kegirangan sendiri di dalam hati. Benarkah itu? Mia yang memang pada dasarnya menyukai anak kecil tentu saja menganggap mereka bertiga imut. Sangat sangat imut dan jangan lupakan tampan dan cantik. Gen orang kaya memang berbeda.

__ADS_1


Setidaknya itulah yang ada dipikirannya. Dan biarlah begitu sampai seterusnya. Semoga saja.


"Jadi," Chuan kembali berujar kali ini sambil melirik anak yang ada tepat di samping Mia berdiri.


"Jurba Hasan" Gumam kecil anak itu sepertinya tidak membuat Chuan puas. apalagi dengan pandangan yang masih mengarah pada buah buahan yang ada ditangannya.


Mendengar deheman sang ayah anak itu kembali mengucapkan namanya. Kali ini sambil mengangkat kepalanya serta senyumnya yang manis.


"Nama saya Jurba Hasan Diantoro Kakak. Senang bertemu dengan anda"


Uuh… dengar itu. Bukankah dia terlalu sopan. Padahal Mia kan pengurusnya bukan gurunya.


"Nama saya Afi Nobara Diantoro Kak. Saya sudah bisa membaca" giliran anak yang duduk disamping Jurba yang berkata dengan nada riangnya


Terdengar seperti anak yang aktif. Tapi tidak apa, Mia tetap suka.


Terakhir gadis manis yang duduk disamping Tera yang memperkenalkan dirinya tanpa diminta. Meskipun dengan bahasa yang belum lancar.


"Mama Siha, Siha"


Haa… Mama Siha?


"Asiha Paja, putri pertama dan terakhirku." Pandangan Chuan menghadap sikecil memperjelas apa yang dikatakan gadis manis itu.


Chuan kembali mengalihkan pandangannya kepada Mia lagi. "Tugas tambahan untukmu. Awasi juga jam belajar mereka, termasuk mengantar jemput ke sekolah." Chuan menunjuk kedua anak laki lakinya.


"Baik pa… tuan" Mia segera meralat ucapannya kala lagi lagi mendapatkan tatapan tajam. Setelahnya tanpa membuang buang waktu Mia mengeluarkan buku kecilnya beserta pena.


Saat asik mencatat telinganya samar samar mendengar sesuatu

__ADS_1


"Cih… dasar orang rajin"


Haa… suara siapa barusan? Tidak mungkin anak manis disampingnya, kan? Wah sepertinya telinganya mulai suka berhalusinasi.


__ADS_2