
Setibanya di dalam mobil Asiha masih tetap menyembunyikan wajahnya diceruk leher Mia. Setiap kepala itu dijauhkan, Mia dapat melihat mata Asiha yang terpejam erat. Rengekannya yang menolak melihat sekitar yang sudah berubah pun juga terdengar kala wajah itu tidak tertutupi tubuh Mia.
Terkekeh sebentar, Mia membiarkan Asiha berada di pangkuannya selama dia menyetir. Bahaya memang, tapi dia juga sudah cukup handal untuk mengatasi ini. Jangan lupa kalau hampir seluruh keponakannya Mia lah yang urus.
Sedan hitam yang dikendarai Mia melaju melewati gerbang. Tak butuh waktu lama bagi Mia untuk sampai ke sekolah Afi. Asiha pun baru mau duduk sendiri setelah mendengar suara Afi.
Karena jarak tingkatan yang tidak terlalu jauh. Waktu pulang Afi dan Jurba pun tidak terlalu jauh. Tanpa basa basi Mia langsung melajukan mobil yang dikendarainya menuju sekolah Jurba.
Namun sepertinya kecepatannya masih belum cukup cepat untuk sampai tepat waktu. Terbukti dari wajah Jurba yang memberenggut kesal.
Dengan kaki yang dihentak hentakan Jurba menghampiri mobil yang biasa digunakan untuk menjemputnya. Mia juga keluar dari mobil untuk membantu tuannya.
Tidak sengaja Mia melihat dari arah kanannya ada seorang pria dengan barang barang yang lumayan berat berjalan tergesa gesa ke arah Jurba. Semakin lama semakin dekat, dan orang itu tidak terlihat akan menghindar. Tanpa berpikir panjang Mia langsung menarik Jurba.
Brug!
Rasanya nyeri merasuki bokong Mia setelah dia mencium aspal. Ditambah Jurba yang ada di atasnya, rasa sakitnya terasa berkali kali lipat.
Setelah terjatuh mata Mia tidak berhenti memperhatikan pria itu. Tidak menghiraukan Jurba yang sedikit terkejut sebelum menuduhnya. Pria itu terlihat berjalan lebih santai setelah melewatinya.
'Itu tadi… sengaja?
...****************...
"Ingin makan apa Tuan Muda?"
Setelah acara jatuh menjatuhi, keempatnya akhirnya sampai rumah tanpa cek-cok yang berarti. Bahkan, Jurba juga segera masuk mobil setelah menuduh Mia segaja melakukan itu. Mia menurunkan ketiganya di teras sebelum memasukkan mobil yang dibawanya ke dalam garasi.
Cukup terkejut saat melihat Asiha masih berdiri ditempat Mia menurunkannya. Sedangkan kakak kakaknya sudah masuk kamar lebih dahulu.
Saat netra Asiha menemukan sosok Mia tangan tangan mungil itu langsung terangkat kedepan. Gestur tubuh yang sering diberikan seorang anak kala meminta digedong. Dengan senang hati Mia pun menggendong si Kecil.
__ADS_1
Dan disinilah mereka terdampar. Setelah Jurba dan Afi selesai mengganti pakaian sendiri. Benar benar sendiri. Keduanya langsung meluncur ke ruang makan.
Sebagai orang terakhir yang masuk, tentu saja Mia mengikuti langkah kedua tuan mudanya. Mendudukan Asiha di kursi khusus milik bayi itu. Mia menawarkan lauk yang akan diambilnya untuk Jurba, orang yang paling dekat jangkauannya dari keberadaannya.
"Ini bukan masakamu, kan?"
Mia cukup tersinggung mendengar kata kata yang keluar dari mulut Jurba. Memangnya apa yang salah pada masakannya? memang benar jika masakannya tidak semewah makanan yang terhidang didepannya.
"Saya jamin bukan, Tuan Muda." Senyum ramah tetap terlontar dari wajah Mia.
"Aku mau itu, itu dan itu." Jurba menunjuk beberapa makanan yang ada di depannya.
Setelah terambil semua, Mia meletakkan piring itu di depan pemiliknya sebelum beralih kepada Afi. Jawaban Afi tidak jauh beda dengan sang kakak.
Mempertahankan masakannya sebelum beralih memilih makanan.
Terakhir si Kecil Asiha. Tidak banyak yang bisa di makan oleh gadis yang bahkan gigi depannya saja belum genap itu. Jadi tidak susah untuk memilihkan makanan untuk nona mudanya.
Selesai dengan makanan Asiha, kini Mia bersiap untuk menyuapi gadis kecil itu. Pandangan Mia tertuju pada Afi dan Jurba yang sama sama hanya mengaduk aduk makanannya.
"Kenapa tidak dimakan Tuan Muda?" Suara Mia sebenarnya terdengar lembut, namun karena Jurba dan Afi yang mendengar nadanya berubah seperti menantang ditelinga keduanya.
Jurba dan Afi merasa seolah ada aura permusuhan antara mereka dan sang pengasuh. Sedangkan Mia sendiri masih menatap keduanya dengan raut wajah polos.
Seolah terlatih untuk menyembunyikan isi hati kepada lawan bicara. Afi berkata tanpa minat, "Tidak selera, Papa tidak ada."
Mia memutar pandangan melihat Jurba yang terlihat ingin bicara. "Asiha tidak makan sendiri jadi Dia harus makan makanannya." Setelah Jurba menyelesaikan ucapannya Afi terlihat mengangguk menyetujui.
Aah… jadi kedua pria kecilnya ingin disuapi juga?
"Baiklah, nanti akan Saya suapi juga."
__ADS_1
"Tapi… Aku lapar sekarang,"
"Kalau begitu akan Saya suapi bersamaan"
Tanpa Mia sadari kedua bersaudara itu sedang menyeringai. Seolah connect, Jurba dan Afi memiliki pemikiran yang sama sejak sang kakak menunjukkan gelagat tidak biasanya. Ingin disuapi.
Afi tentu dengan senang hati mengikuti permainan kakaknya. Keduanya membuka mulutnya secara bersamaan. Tidak lupa tatapan sengit pun saling dilontarkan seolah keduanya adalah musuh. Padahal makanan yang ada di tangan Mia adalah makanan Asiha.
Setelah memberikan satu suapan kepada Asiha, Mia beralih pada makanan dihadapan Jurba. Belum juga makanan itu mencapai tempat Afi sudah lebih dahulu berteriak, "AKU YANG MINTA DULUAN!!"
Tapi Jurba yang berada dalam jangkauannya. Namun sayangnya kata kata itu tidak jadi keluar dari tenggorokannya.
Tidak ingin membuat keributan, Mia meletakkan kembali sendok yang diambilnya. Berjalan memutari meja untuk mencapai tempat Afi berada.
Dan hal serupa pun terjadi. Bedanya yang berteriak adalah Jurba. Ditambah rengekan Asiha yang sudah menelan habis makanan dirongga mulutnya.
Mungkin karena terlalu lapar, gadis kecil itu sampai menangis. Kepala Mia tiba tiba diserang pusing. Teriakan yang saling bersahutan dari Afi dan Jurba ditambah tangisan Asiha.
Wah, bekerja sehari rasanya sudah satu abad saja,
Berjalan cepat menghampiri si bungsu. Mia meletakkan makanan Asiha pada jangkauan gadis kecil itu. Persetan dengan makanan yang akan berakhir berantakan nanti. Lagi pula setelah makan siang jadwal ketiga anak itu adalah tidur siang.
Kecuali Asiha, mungkin. Mengingat gadis itu yang sudah tidur setelah puas bermain tadi.
Satu tugas selesai. Saatnya mengahadapi tantangan berikutnya.
Menyuapi dengan cepat, Mia juga sedikit berlari kesana kemari hanya untuk menyuapi Afi dan Jurba. Kedua anak itu seolah berlomba lomba untuk makan dengan cepat membuat Mia harus mondar mandir.
Belum habis separuh dan Mia sudah lelah. Ditatapnya kedua kakak beradik yang duduk saling berseberangan itu. Keduanya terpisah oleh meja yang lumayan lebar dan letaknya berada ditengah, Mia seolah memutari meja itu.
Sebuah pemikiran tiba tiba terlintas. Mia menghampiri Afi. Meraih piring yang berada di hadapan Afi dan meletakkan di dekat makanan Jurba yang ada di sebrang meskipun harus sedikit berjinjit.
__ADS_1
Mengangkat tubuh kecil Afi membawanya memutari setengah meja dan diletakkan di kursi yang terletak di samping Jurba. Mia menatap puas akan pemikirannya sendiri.
Kenapa tidak dari tadi saja? Dengan begini kan pekerjaannya jadi lebih mudah.