
Setelah sarapan pagi itu ternyata pria yang memiliki nama tokoh kartun itu tidak hanya sekali ikut makan di kediaman Diantoro. Melainkan tiap hari.
Untuk dua hari setelahnya, Mia memaklumi karena memang Tuan Bernad menginap di rumah besar itu. Namun setelah keluar dari kediaman Diantoro, Tuan Bernad tetap saja menyempatkan diri untuk ikut sarapan.
Akibatnya Mia jadi ragu kalau sahabat tuannya itu juga dari keluarga berada. Sudah bekerja kok makan masih numpang. Tidak malu sama uang dikantong?
Inginnya bilang begitu tapi mulutnya serasa seperti terhalang sopan santun. Jadi, ya cuma tertahan di kalbu aja.
Seperti biasa, Tuan Bernad sudah dipersilahkan duduk manis di meja makan oleh Anli, kepala pelayan Kediaman Diantoro saat Mia masih berperang dengan peralatan perangnya.
Rajin sekali orang itu. Sang Tuan Rumah saja belum beranjak dari peraduannya.
Tak lama setelah Mia mematikan kompor, langka kaki terdengar menuruni tangga. Sudah dapat ditebak jika yang datang adalah Tuan Nam.
Karena Jurba dan Afi tidak akan beranjak jika bukan Mia yang menghampiri, meskipun keduanya sudah bangun sedari tadi.
Beda lagi kalau itu Asiha. Gadis kecil itu akan menangis jika bangun tanpa Mia dipandangnya. Padahal sebelum sebelumnya tidak begitu.
Mia memberanikan diri berbicara. Oh, ralat menyuarakan isi hatinya dan bertanya,
"Apakah Anda tidak punya pekerjaan Tuan, sehingga mampu kesini setiap pagi. Kelewat pagi malah."
"Hem, ucapanmu terdengar seperti sindiran, Cantik."
mendengarnya Mia memutar bola matanya dengan jengah. Tidak perlu mengingatkan padanya itu tidak sopan. Karena Mia memang jarang menggunakan sopan santunnya.
"Iya, itu memang sindiran. Dan namaku Mia bukan Cantik," balasnya.
"Dasar Beruang," lanjutnya lirih.
Tuan Bernad seketika merasa jengkel dibalas seperti itu. "Apa Kau tidak punya kode etik saat bekerja? lakukan saja pekerjaanmu tidak perlu mengajakku bicara. Dasar babu."
"Maaf saja Tuan, Saya memang bukan dari yayasan. Lagipula Tuan Nam tidak melarang pekerjaan berbicara selama pekerjaannya tidak terbengkalai."
Benar, Tuan Nam tidak pernah mengikat pekerjanya dengan apapun itu. Termasuk surat kontrak. Mia yang pertama dan mungkin satu satunya.
Dengan keributan ini bahkan pria itu masih tetap fokus pada benda kotak yang entah apa itu namanya. Yang pasti untuk bekerja. Benda yang jarang absen dari tangan Tuan Nam.
Merasa tidak bisa menjawab lagi, Tuan Bernad menatap tajam Mia. Sedangkan yang ditatap tenang tenang saja menyelesaikan tugasnya.
__ADS_1
Selesai.
Ditatapnya lagi meja yang terisi sayur asam, ikan asin dan nasi yang masih mengepulkan asapnya. Hanya kurang sambal terasi.
Tapi seingat Mia, keluarga ini tidak suka makanan yang terlalu pedas. Jadi daftar sambal sambalnya mau tidak mau harus dihapus dari daftar menu.
Masih dengan aura permusuhan, Mia melangkahkan kakinya menuju tangga. Saat berada didekat Tuan Bernad, Mia dengan sengaja memukul meja . Tidak keras namun cukup untuk membuat suara.
Sengaja, agar tidak terlalu mengganggu Tuan Nam.
Setelahnya, Mia melangkah dengan riang seolah tidak pernah ada peperangan di meja makan tadi. Meninggalkan Tuan Bernad yang melongo tak percaya.
"Pembantumu selalu seperti itu, ya?"
"Tidak, Dia limited edition."
...*****...
Ceklek!
Pintu yang tidak pernah dikunci memudahkan Mia untuk masuk. Kalau pun dikunci, Mia masih punya kunci cadangannya. Jadi percuma saja jika anak anak menguncinya.
Saat Mia masuk yang pertama kali menyapanya adalah kedua tuannya yang masih asik bergumul dengan selimutnya. Dan Asiha yang terduduk hampir menangis. Namun keburu Mia masuk.
Pemandangan yang jarang ditemui.
Biasanya tuannya itu masih tidur hanya jika telah terjadi dua hal. Pertama karena kelelahan. Dan itu jarang terjadi karena Mia akan memastikannya.
Atau, semalam mereka terbangun. Jika terbangun biasanya Jurba dan Afi susah untuk tidur lagi. Dan baru bisa tertidur menjelang pagi.
Apapun alasannya, itu tidak penting. Bagi Mia yang terpenting adalah mereka harus segera bangun bersiap dan sekolah.
Setelah usah keras yang dilakukannya, akhirnya keduanya bangun. Seperti biasa Jurba dan Afi akan mandi sendiri sementara Mia menyiapkan keperluan keduanya termasuk isi tas. Makanya tidak aneh jika Mia hafal jadwal keduanya.
Saat sedang mengubek ubek isi tas, tanpa sengaja Mia menyentuh kertas yang dilipat lipat menjadi kecil. Bukan bermaksud tidak sopan tapi Mia memang selalu mengawasi apa saja yang anak anak dapatkan. termasuk kertas itu. Apalagi ada noda seperti darahnya.
Tunggu, apa darah?
Apa ini surat ancaman?
__ADS_1
Orang itu berhenti mengirim paket paket aneh dan beralih memberi surat ancaman langsung?
Terburu buru Mia membuka kertas itu. Setelah dibuka lebar lebar yang terdapat dikertas itu adalah tulisan yang dihafal Mia merangkai kata 'ULANGAN' di bagian paling atas.
"Haa… ulangan?" Mia membeo lirih.
Kenapa disimpan serapi ini?
Apa Tuan Nam sudah tahu?
Atau pria itu hanya tahu ambil rapot tanda tangan lalu naik kelas?
Wah, tidak bisa dibiarkan.
Mia berdiri didepan pintu kamar mandi sambil menenteng sang kertas. Mulutnya juga tidak berhenti menghitung dari angka dua puluh.
Ceklek!
Tepat di angka satu mulut Mia berucap si pintu sudah lebih dulu dibuka dari dalam. Padahal Mia sudah berniat mendobraknya.
helaan nafas terdengar kasar keluar dari mulut gadis desa itu. "Tuan Muda Jurba, Anda bisa jelaskan apa ini." Mia memberikan penekanan pada setiap katanya. Menunjukkan bahwa Dia sedang marah saat ini, Meskipun harus bisa menahan diri melawan godaan keimutan yang sedang dilayangkan Jurba.
'Akh, kenapa anak ini harus terlihat imut saat Aku marah'
"Maaf." Setelahnya mulut kecil itu tidak terlihat ingin menjelaskan.
Mia membalik badannya melangkah menjauh membiarkan kedua anak itu menghampiri seragam mereka yang berada di bibir ranjang.
"Apa Tuan tahu maaf untuk apa?"
"Tidak, tapi Bunda pernah bilang, meminta maaf duluan tidak akan membuat derajat Kita turun." Tidak ada keraguan dalam ucapannya membuat Mia sedikit tertegun.
"Maaf diterima. Pulang sekolah Saya akan mengajari Anda belajar setelah tidur siang."
'Akh, dasar bodoh. Harusnya harus lebih lama lagi, jangan mudah dibujuk. Mia bodoh'
Setelahnya semua berjalan seperti biasanya.
...Maaf yang kemarin salah pencet jadi published padahal masih mau disimpan di draf....
__ADS_1